
Mama memandang keakraban keduanya anaknya yang tampak gak biasa saat Jaesi melipir ke dalam kamar Jaeril juga ikut masuk ke dalam kamar tapi ketika keduanya keluar mengenakan pakaian yang serupa, mama mengerut aneh. Karena seperti yang tadi dibilang gak biasanya mereka akur kaya begini lagipula keduanya memang akan pergi bersama, menurut inform dari Marissa kalau Marco lagi ada di arena balapan. "Gimana udah siap belum?" Jaesi mengangguk kemudian menguncir rambutnya di sana gadis itu hanya menemani adiknya main tapi juga sekalian balas kelakuan Marco, Jaesi memakai bootsnya lalu berpamitan pada orang tua mereka. Diam-diam gadis itu mengantungi rokok elecktrik tanpa sepengentahuan adiknya beberapa hari terakhir saat bertengkar sama Jaeran itu membantunya buat relax, sebenarnya gak yang tau.
Jaesi diam saja sepanjang jalan bahkan saat di arena balap pun juga sama gadis itu memundur langkahnya agak kebelakang agar gak keliatan orang, kemudian menyalakannya. Gadis itu terkejut sebuah tangan besar mencekalnya tanpa di duga-duga gak taunya orang tersebut adalah Jaeran, Jaesi kaget bukan main, gadis itu sampai tersentak.
"Elo ngudut?!" teriak pemuda itu yang mampu membuat telinga si gadis berdengung kencang, Jaesi gak merespon lalu menghela pelan. "JAESI!!!" bentak Jaeran pada sahabat perempuannya, Jaesi agak sedikit mendelik gak lama mengeluh dalam hatinya karena cowok di sebelahnya terlalu over, Jaeril menoleh ke arah belakang dan langsung menarik kakaknya agar gak jauh-jauh darinya. Please banget Jaesi sedang dalam fase malas cari ribut tapi entah mengapa sahabat baiknya itu seakan gak mau mengerti, Jaesi bisa jadi kaya sekarang juga karena laki-laki yang melarangnya ini dan itu ... tapi sisi baiknya gadis itu merasa beruntung masih ada yang peduli padanya.
"Kenapa kalo gue ngerokok? Toh juga bukan urusan elo kan. Kita itu just friend." tertohok dengan kata-kata itu Jaeran berharap status keduanya juga tidak lebih dari seorang sahabat karena walau bagaimanapun berdua itu sudah menjalin pertemanan sangat lama ... makanya Jaeran sangat takut kalau hubungan mereka bakal rusak seperti persahabatan lainnya. Marco menegur kehadiran Jaesi yang lagi dalam mode gak baik-baik saja. "apa urusannya sama elo!! jangan lewatin batas yang loe buat!! stop bikin gue salting!! stop peduli sama gue bisa?!" pekik gadis tersebut yang hampir menangis.
Jaeran gak tau lagi mau bilang apa dan kenapa Jaesi seakan membuat jarak dengannya. "emang gue salah ya kasih loe perhatian? salah kalo gue peduli?" gumam pemuda itu yang mengikuti arah punggung Jaesi.
"Jelas salah dengan loe naruh perhatian ke gue itu membuat perasaan lain tumbuh makin liar dan gue gak mau pertemanan kita rusak," Jaesi menarik lengan jaket adiknya kemudian memintanya agar segera dibawa pulang. Bukan begini cara ia membalas Marco malah itu akan berakhir rumit kedepannya, Jaesi makin gak bisa lepas dari jeratan Jaeran.
__ADS_1
"Kita selesaikan masalah ini." desis Jaeran yang memberikan penekanan pada setiap katanya.
"Jaeran gak ada lagi yang harus diselesaikan kita berdua cuma bersahabat." tapi apa yang cowok itu lakukan malah membuat orang-orang di sana berpikir mereka berdua menjalin hubungan serius, Marco dengan spontan mengajak Jaesi kembali menjalani hubungan tanpa pikir panjang lagi. Jaesi agak kaget namun Jaeril terkesan biasa saja malahan bangga punya kakak perempuan yang jadi bahan rebutan kaya begitu, gadis itu memandang ke kanan dan ke kirinya.
"Loe ngerti bahasa manusia gak? dia bilang gak mau. Lepas." Marco seolah melindunginya Jaesi melirik ke arah Jaeril yang seakan-akan menikmati pertunjukkan itu bahkan gadis itu mengutuk adiknya sendiri karena gak mau membantu sama sekali.
"Elo diam aja, gue gak ngomong sama loe." Jaesi mendengkus sebal lalu berjalan ke arah lain ia membuang rokok electriknya dan menatap nyalang Jaeran, gadis yang baru saja pergi dari sana, mengusap wajahnya kasar. "gue anter." seakan gak ada penolakkan dalam kata tersebut namun Jaesi tetap menangkis tangannya.
"Sejak kapan loe over kaya gini?"
"Loe gak gini, Ran. Gue tau ini semua pasti ada hubungannya sama Cilla, kan?!" Jaeran gak terima kalau kekasih selalu saja dibaw-bawa oleh temannya itu tapi memang sempat ada pembicaraan seperti itu, si cowok menamparnya dan itu sangat nyaring sampai terdengar ke telinga Jaeril. Sang adik terkejut lalu menggeram marah pada tetangganya tersebut. "Jaeran," lirih gadis tersebut yang sudah gak bisa lagi menahan rasa sesaknya. Jaeran mematung di tempatnya.
__ADS_1
Jaeril memeriksa keadaan kakaknya lalu mengumpat kasar kemudian memicingkan matanya lurus pada Jaeran tanpa babibu lagi adik laki-laki dari Jaesi itu membalas perlakuan kasar tersebut, suasana balap jadi ramai dan perhatiannya teralih pada dua cowok tersebut.
Pagi itu pipi Jaesi agak bengkak dan gak bisa datang ke pertanding boxing tapi pelatihnya sudah diberikan kabar mengenai pipinya yang bengkak dan satu lagi kedua orang tuanya mendadak ada perjalanan bisnis ke Swiss, jadi mereka hanya berdua. Jaeril gak cemas karena meninggalkan kakaknya sendirian di rumah, "loe yakin gak mau sekolah aja kak? itu cuma bengkak dikit doang kok ntar dikompres aja di ruang kesehatan."
"Gue gak apa-apa kalo loe mau tinggal, ini cuma bengkak ringan nanti juga kempis, Ril." Jaeran lumayan pake tenaga juga saat menamparnya apalagi semalam Jaeril gak ampun-ampun menghajar sahabat baiknya, Jaeril melengang keluar kamar kakak perempuannya lalu mengirim pesan ke Darren agar selepas pulang sekolah bisa menjaga kakaknya.
"Gue udah chat bang Darren nanti dia bakal datang, jadi elo gak sendirian."
"Iya bawel," Jaeril terlalu menyerocos pagi ini, setelah pergi berangkat ke pertandingan Jaeril menutup pintu kamar kakaknya dan rumah segera dikunci cowok itu sangat teliti lalu meletakkan di bawah keset. Jaesi memainkan ponselnya lalu terdengar suara bel dari luar rumahnya bahkan gadis itu masih memegangi pipinya dengan kain lap basah, saat membuka pintunya dari dalam si gadis terkejut melihat kedatangan teman-temannya. "lho kalian? kok ke sini terus sekolah gimana?" ya mereka datang beramai-ramai, hampir sebagian anak kelas datang semua ada Jaeran, Darren, Miko, Gizon, Giska, Ruth dan Gricella.
"Adek loe minta gue datang sepulang sekolah tapi malah rombongan gini, sorry nyai." Jaesi mengulum bibirnya saat melirik Jaeran rupanya cowok itu datang sendirian, ia kira akan bersama kekasih tersayangnya.
__ADS_1
"Iya gue tau, dia ngomong," ujar Jaesi yang mengakui hal itu.
"Lagian di sekolah tuh sepi, kan lagi ada pertandingan basket sama wushu. Jadi gabut deh, lagian yang dipake junior bukan senior, makanya kita ke sini." Gizon memberikan penjelasan saat si pemiliki rumah gak memintanya, tapi pemuda itu terlihat kaget saat Jaeran sudah lebih dulu masuk ke kamar Jaesi tanpa yang punya memberikan izin.