Vilanian

Vilanian
12


__ADS_3

Jaesi tersenyum sinis sembari menangkis lengan besar itu perempuan tersebut menggeram marah karena pemuda yang masih bisa mendengar suara teriakannya, perempuan itu begitu membelanya saat bertengkar dengan sahabatnya. Perempuan itu menghela panjang ketika dihadapannya masih banyak para siswa ataupun siswi yang berlalu lalang, "kamu pikir aku bakal buktiin ke kamu kalo aku ada apa-apa sama Jaeran? Gak akan! Kalo aku suka dia kenapa?! Kenapa kamu harus marah karena hal sepele kaya gini!!? Aku cuma cinta sama dia itu faktanya!" Jaesi melangkahkan kakinya cepat menjauh dari semua orang, bahkan pemuda itu tak terlalu memedulikan perasaannya berlabuh pada siapa nantinya.


Gadis itu melangkahkan kakinya menuju ke arah perpustakaan sekolah, entahlah rasanya tempat itu paling pas buat dirinya yang sedang menghadapi masalah disaat seperti ini, pemuda tersebut —Marco— mengirimkan permintaan maaf melalui pesan singkat. Terlihat sekali tidak ikhlasnya, gadis itu mengabaikan pesannya lalu menatap rak yang menjulang tinggi di depannya, diputarnya lagu Astrid tentang rasa. Saat sudah selesai dengan aktivitasnya itu Jaesi pergi meninggalkan tempatnya langkahnya berhenti saat melihat sang sahabat tengah menebar keromantisan di dalam perpustakaan. Hatinya teriris seperti ada yang menghilang namun tak tau apa, Jaesi menggenggam erat bukunya yang diiringi dengan suara isakan kecilnya. Perempuan itu berpikir bahwa yang dikatakan Marco tak masuk akal karena hanya pemuda tersebut yang paling penting baginya. Jaesi menghapus air matanya yang mengalir lalu berjalan ke arah mereka berdua, Cilla tersenyum manis sekali padanya, dan Jaeran hanya memandangi wajahnya yang tampak begitu murung. "Hey," sapa Jaesi.


Namun demikian itu hanya ada di dalam bayangan perempuan itu saja, Jaesi melangkahkan kakinya menuju tempat yang sepi dan jendela menjadi tempat favoritnya. Perlakuan khusus yang Jaeran berikan padanya sudah terlihat begitu jelas jika lelaki itu hanya menganggapnya sebagai sahabat tidak lebih, pemuda itu jelas lebih memilih untuk tetap bersama gebetannya daripada dirinya. Satu pesan singkat masuk ke dalam ponselnya, gadis itu diam beberapa detik kemudian membalasnya dengan manik mata sayu, Jaesi tersenyum sembari mengalihkan pandangannya pada jendela. Langit yang mendung untuk hatinya yang sedang mendung, sangat cocok sekali. "Woy gurls, ngapain?" tegur pemuda tersebut yang kemudian menghela pendek. Jaeran mencabut satu earphonenya dan memiringkan kepalanya agar menatap wajah sang sahabat dengan jelas.


"Apa?"


"Perlu bahu gak? Buat nyender gitu," cicit pemuda itu apa adanya. Jaesi menggelengkan kepalanya sembari tetap memandang lurus ke arah jendela, celetukan dari Jaeran membuat sang gadis merasa terkejut namun raut wajahnya berubah saat dengar pengakuan diakhirnya. "Kalo gue suka sama gimana? Tapi bohong! Bwahaha!" jujur Jaesi agak terkejut saat itu, namun ia sepertinya sedang tidak dalam kondisi yang baik.


"Kalo gue yang suka sama loe gimana?" tembak Jaesi yang sontak saja membuat sang pemuda termenung, Jaeran pikir itu hanya candaan saja makanya cowok itu tengah tertawa terbahak-bahak mendengar lelucon dari arah samping, "menurut loe perasaan gue candaan ya?" gumam Jaesi yang menarik pergi kakinya meninggalkan perpustakaan. Jaeran tak bermaksud untuk menyakiti perasaan sahabatnya, ia pikir itu hanya main-main saja, pemuda itu terhenyak mendengar penuturan tersebut lalu melenggang pergi mengejar kepergian gadisnya.


"Jaesi loe serius?" gadis itu benar-benar sedang dalam mood buruknya, bahkan ia tak menjawab pertanyaan tersebut. Tambah lagi Marco tak juga membalas pesan terakhirnya, ada apa sebenarnya dengan dirinya sendiri? Apa ia benar-benar memiliki perasaan lebih terhadap sang sahabat? Ah, sudahlah lebih baik Jaesi ke sasana tinju saja. Darren menghela panjang ketika dihadapannya Jaesi sudah menangis sesenggukan seperti orang bodoh, Lionel dan Gizon hanya menatapnya dengan tatapan mata iba.


"Kalian putuskan?" celetuk Gizon yang langsung mendapat lemparan dari Jaesi. Lionel masih tetap bungkam soal masalah temannya itu, bukan bermaksud ingin menambah berat pikiran Jaesi pasalnya beberapa kali pemuda tersebut melihat tingkah Marco yang tak memiliki hubungan dengan gadis di depannya itu.


Ruth


Jaesi! Loe liat cowok lagi cipika-cipiki sama ciwik lain.


Read


Darren menghela panjang ketika membaca pesan singkat milik Jaesi, pemuda itu terus saja mengusap pelan saat lagi-lagi temannya itu merasakan sakit yang luar biasa dalam. Jaeran bahkan tak bisa berada di sisinya sama sekali kala itu, hanya bisa memperburuk keadaan saja, Jaesi tersenyum manis sembari menegakkan tubuhnya yang mulai pegal.


Pecinta Nona Pears


Darren


Sepi bgt


Kmna orang-orang?


Jaesi


Gak tau,

__ADS_1


Darren


Udh nangisnya Bu?


Jaesi


Bct!


Jaeran


Loe nangis?


Read


Jaesi menatap tajam Darren, "berisik banget! Gak bisa apa sekali aja gitu loe jaga rahasia!" cerocos sang gadis. Lionel sebenarnya gak heran dengan sikap emosional Jaesi dan perubahan moodnya beberapa kali ia menemaninya hanya untuk ngegabut bareng.


Ruth benar-benar membuatnya menjadi babu disaat perempuan itu selesai latihan bukannya istirahat temannya itu malah meminta bantuannya agar bisa membawa barang kelas, yang banyak tidak terkira sama sekali. "Makasih lho udah mau bantu gue," Jaesi menghela dalam hati sudah menggerutu kesal.


"Huum," ujarnya singkat. Jaesi mengirimkan beberapa quotes pada group bobroknya akan tetapi bukannya mendapat sambutan yang baik, gadis itu malah mendapat ejekan dari temannya.


Jaesi


Awal itulah yang membuatmu sadar kalau kalian berdua itu adalah teman


Awal yang selalu menyimpan sejuta kemirisan tersendiri


Awal yang membuatmu bahagia dan sadar akan fakta menarik itu


Terima kasih atas awal yang sangat menyakitkan ini


Dari temanmu yang selalu mengawali hari


Darren


Tmbnan bucin bu?

__ADS_1


Kesamabat apa? Pts cinta ya?


Jaesi


Nggak jelas


Jaeran


....


Darren


Titik l gk ad faedahny


Dsr kutil jamblang


Jaeran


Cot!


Read


Gadis itu sudah bilang bukan? Dirinya tak akan meninggalkan sahabatnya dengan mudahnya, bahkan disaat patah hati seperti ini lelaki itu terlihat meratapi wajah gadisnya dengan raut kesedihan. Jari jemarinya bergerak dengan sangat pelan menghapus jejak air yang mengalir dari pipi putih Jaesi. Gadis itu tak berhenti-berhentinya membuat sang pemuda merasa susah, meskipun lelaki itu sudah memiliki perempuan selain dirinya. "Gue mau egois," Jaeran mengangguk sambil tersenyum tipis. "Gue mau elo, Jae." lelaki itu menghela pelan.


"Hm, elo punya gue, jangan sedih." ponselnya berdering tetapi bukan gadis itu yang mengangkat teleponnya, melainkan cowok yang sedang sibuk menghibur sang gadis. Merasa tak ada yang menyahutinya dari seberang sana, Jaeran memutuskan panggilan tersebut dengan sepihak. "Tapi habis gini, loe beliin Boba ya? Yang di depan warungnya mang Nurdin." ucap lelaki itu yang tampak menggebu.


"Kok yang disitu sih!! Kan mahal!!" protes Jaesi yang menarik kepalanya dari atas bahu lelaki tersebut, Jaeran mengernyitkan keningnya saat mendengar protesan dari adik perempuannya itu, kemudian mendengus dingin ketika menatap punggung Jaesi yang menolak keras keinginannya.


Jaeran berlari menuju perempuan itu mengimbangi gerakan cepat gadis itu sambil memundurkan langkahnya menghadap sang sahabat, "ya terus maunya di mana? Yang enak di sana doang!" balas lelaki itu yang tak memerotes.


"Gak gue menolaknya! Loe sama aja kayak meras gue!! Loe kan tau di sana satu cup aja 13 ribu, terus ongkos pulang gue gimana Bambang!!?"


Lelakinya itu berpikir sejenak lalu wajahnya tampak sumringah, "ya udah kalo gitu nasi Padang aja gimana?" Jaesi mengetuk kepala cowok tampan itu dan segera berlari meninggalkannya sendirian, pemuda tersebut mengejarnya. Dan berakhirlah mereka kejar-kejaran. Cilla mengulum bibirnya tipis lalu tersadar dari lamunannya saat teman sekelas menegurnya karena sudah lama berdiri.


"La liat apaan sih?" teguran keras dari temannya itu cuma dibalas gelengan kepala oleh sang perempuan, lalu wajahnya memias ketika mendengar suara tawa dari arah lorong depan. "Itu cowok loe kan?" Cilla terhenyak lalu diam saja.

__ADS_1


Cilla mengulum bibirnya perlahan tapi dadaknya terasa sangat sesak, "bukan, cuma temenan." ujarnya lirih dan langsung masuk ke dalam kelas.


__ADS_2