
Jaesi kala itu baru saja memesan makanan siap antar melalui aplikasi online biasanya kalau jam segini Jaeril akan pulang terlambat karena ada latihan dan jadwal les tambahan yang baru saja ia ambil beberapa waktu lalu, gadis itu benar-benar menghabiskan cheeseburger sendirian. Jaeran yang menyandarkan tubuhnya pada daun pintu menggeleng sembari mendecak kebiasaan lama temannya itu, pemuda tersebut mengambil kentang goreng milik Jaesi kemudian mengomentari kebiasaan buruk gadis tersebut. Jaesi memutar bola matanya malas karena mendengar ocehan dari anak tetangganya ini: gadis itu melengos pergi ke dapur untuk menuangkan jus, gadis remaja itu hampir tersedak atas pernyataan dari Jaeran.
"Kayanya gue suka sama cewek deh." celetukan itu secara mendadak membuat Jaesi gak bisa mengendalikan rasa kagetnya dari apa yang ia dengar barusan tetapi, itu gak benar-benar terjadi. karena tahta tertinggi saat ini adalah Jaesi bahkan sang gadis sama sekali gak melihat raut serius sahabat baiknya.
"Uhuk!"
"Kenapa kok kesedak? kaget ya?" apa secepat itu Jaeran menghapus bayang-bayang Cilla? kenapa ia gak berpikir mengenai perasaannya dulu sebelum menerima orang baru. Jaeran tergelak melihat ekspresi Jaesi yang begitu menggemaskan, tapi untuk perasaannya tadi ia serius soal cewek baru tersebut nama oknum yang dimaksudkan oleh sang pemuda belum sadar sampai detik ini.
"Kenapa ketawa? loe kira lucu?!"
"Iya, komuk loe lucu." Jaesi membelalakan matanya lalu memukul keras lengan sang pemuda, gadis itu menatap lurus lalu tersenyum tipis kemudian melanjutkan kegiatan makannya. bahkan ia sempat gak mau melanjutkannya karena lawakan Jaeran sungguh-sungguh membuat anak gadis orang merasa mual mau muntah, Jaesi memutuskan buat mengambil ponselnya kemudian berjalan ke arah depan.
__ADS_1
Gadis itu mengirimkan beberapa pesan pada Darren lalu sampai lupa kalau ada Jaeran di sana tetapi gak bertahan lama karena di detik berikutnya gadis yang duduk berhadapan dengannya itu meletakkan ponselnya. Darren benar-benar datang ke rumahnya dan mewujudkan ucapannya dengan membawa Jantho bersamanya seketika rumahnya jadi lebih ramai dan gak terasa sepi seperti sebelumnya, beberapa menit kemudian Jaeril melengos pergi dari dalam kamarnya. membuat Jaesi bertanya-tanya ke mana adiknya hendak pergi namun saat mau menyusul Jaeril, perempuan itu malah ditarik ke halaman belakang sama ketiga cowok di sana.
Gadis yang kini menghela panjang itu hanya bisa duduk termenung meresapi ucapan dari Marco saat diparkiran sekolah, apa iya kalau Jaeran sebenarnya membalas perasaannya? tapi kenapa Marco seyakin itu. bahkan perasaannya juga memiliki batas kapasitas ketika merasa lelah akan lebih baik menyerah, namun ketika dulu berjuang memertahankan hubungannya dengan Marco pun lebih banyak merasakan lelah.
Marco menahan lengannya dengan pelan saat berada di parkiran namun niat untuk memperbaiki itu masih ada bahkan pemuda itu berpikir bahwa Vanilla gak sepengertian Jaesi, jujur saja ia tau kalau Jaeran juga merasakan perasaan cinta lebih dari sekadar sahabat, itu kenapa si cowok mau berjuang diam-diam dan merelakannya tanpa orang lain tau. "kayanya Jaeran balas perasaan elo," ujar Marco menatap penuh gadis di sampingnya: namun Jaesi gak yakin akan hal itu, gak lama setelah itu mereka pun bergegas pulang ke rumah.
Jaesi menggelengkan kepalanya untuk menyingkirkan segala pikiran buruknya, gadis tersebut kembali menghela napasnya lelah lalu mengulum bibirnya tipis ketika Jaeran menoleh ke arahnya. "masa sih?" gumamnya pelan akan tetapi terdengar sama Darren yang membalasnya dengan kernyitan alis gak mengerti sama maksudnya, gadis itu menjauhkan wajahnya dari pandang Darren yang terus saja mengganggunya.
"Apasih! ya enggaklah!"
"Mata loe gak bisa bohong. elo gak pandai ngibul." kekeh laki-laki berdimple itu lalu meredakan tawanya kemudian mengikuti arah pandang teman baiknya itu dan berjalan ke arah Jaeran, lalu menolehkan kepalanya sebentar pada gadis tersebut; padahal bisa saja cowok itu mengatakan secara jelas tentang ke khawatirannya.
__ADS_1
Yang menjadi ketakutannya adalah bagaimana kalau takdir gak memihak padanya? bagaimana kalau ia masih dan akan terus mencintai dalam kesunyian ini? bagaimana kalau nanti akan ada kemungkinan-kemungkinan lain ... pada malam muhasabah nanti gadis itu harus menanyakan hubungan mereka lagi dan kejelasannya agar bisa memikirkan langkah berikutnya serta mengambil keputusan untuk tetap tinggal atau pergi mengejar cita-citanya. Jaesi hanya mau menghabiskan waktunya bersama teman-temannya sebelum masalah menghampiri hubungan mereka, mungkin gadis itu ingin menciptakan kenangan manis sesaat sebelum kepergiannya.
"Malming ke kotu kuy!" ajak Jantho yang mengalihkan perhatian teman-temannya.
"Boljug," sahut gadis di sebelah Jaeran yang menyetujui tawaran dari Jantho. Jaesi meletakkan ponselnya sembarang arah tetapi gadis tersebut lupa jika mengakhiri pesannya bersama Marco dan membiarkan pesan tersebut terbuka, sampai Jantho melihat isi pesannya tanpa sengaja: melihat itu ia pun terkejut bahwa tanpa mengetahui kejelasan dari hubungan mereka berdua laki-laki yang kini berjalan menjauh dari meja tersebut baru saja mengetahui fakta kalau teman perempuannya dan teman satu basketnya itu mulai menjalin hubungan kembali, Jantho membisikan sesuatu pada Darren yang malah dibalas dengan gelak tawa keras seraya memukul tubuh besarnya.
"Elo percaya?!" sentak cowok bereyes smile itu yang belum menghentikan tawanya. dengan polosnya pria kelahiran Sunda itu mengangguk mengiyakan sontak saja semakin mengencangkan rasa geli Darren, bahkan pria dimple itu tau kalau Marco lebih dari satu kali ditolak sama Jaesi karena alasan yang sama. gadis itu mulai terusik dengan cara ketawa dari dua orang yang ada di belakangnya ia menoleh begitu saja dan merasa kalau sedang digunjingkan bahkan itu membuat laki-laki yang ada di sebelahnya juga merasa penasaran apa yang sedang kedua temannya itu bicarakan, Darren membalas omongan Jantho dengan berbisik juga akan tetapi gelagat itu malah mendapatkan sindiran pedas.
"Heh, gak boleh bisik-bisik. nanti dibisik sayton!"
"Elo saytonnya!" Jaesi memutar bola matanya malas lalu melengos masuk ke dalam rumah, belum sampai sedetik ia ada di dapur telinganya sudah disambut sama suara lengkingan Jaeran. gak sejak kapan cowok ini jadi lebih sering mengikutinya atau sekadar menempel kaya prangko. Jaeran tersenyum yang membuat gadis tersebut merasakan merinding hebat ketika melihatnya ... gadis itu sempat merasa heran karena beberapa jam ini sahabat masa kecilnya itu selalu mengikuti kemanapun ia pergi tetapi bukan tanpa alasan juga ia mencurigai tentang kehadiran cowok di belakangnya.
__ADS_1
Gadis itu sempat diam sesaat merasa ada yang aneh dengan sikap laki-laki di belakang tubuhnya entah mengapa perasaannya menjadi sangat kacau sesaat laki-laki tersebut mulai memeluknya dan menaruh kepalanya di atas pundak sang gadis jujur saja dirinya nggak mau terbawa suasana apalagi 'kan sahabatnya itu sedang mengalami patah hati ia tak ingin menjadi pelampiasan dan merusak semuanya. Jaesi gak mau persahabatannya berubah menjadi hubungan tanpa status itu akan jauh lebih sulit, dekat tapi susah digapai dan jauh tetapi malah semakin dekat. gadis itu termenung ketika Jaeran mencoba untuk mendekatkan wajah mereka, Jaesi sama sekali gak membalas tatapan sang sahabat dan mengalihkan wajahnya ke arah lain seraya berteriak pada Darren. upaya menghindari hal gak diinginkan.