
Sudah berbulan-bulan kedua sahabat itu gak saling menegur bahkan di saat di sekolah pun mereka berdua kelihatan seperti orang asing yang baru kenal nggak ada sapaan hangat atau canda tawa yang biasanya mereka lakukan kehidupan gadis itu jauh dari kata baik-baik aja ketika sahabatnya lebih percaya sama kekasihnya sendiri dibanding dengan ucapan yang iya katakan di bulan kemarin padahal dengan jelas yang melihat bahwa kekasih dari sahabat laki-lakinya itu jalan sama kakak kandungnya sendiri tetapi itu sama sekali nggak mengusik pikiran cowok tersebut seakan semua hanya angin lalu doang dan gak ada kata lagi buat hubungan mereka. Jaeran benar-benar mnegacuhkannya dan berkata gadis itu pembohong besar, sampai detik ini gadis itu gak pernah pacaran lagi sama orang lain bahkan ia juga enggak lagi berhubungan sama mantannya gak tahu kenapa rasanya seperti ingin menjaga hatinya hanya untuk satu orang doang.
Darren menyenggol lengan gadis itu saat melihat Jaeran berjalan ke arah mereka, "liat tuh," celetuk Darren dengan perasaan berdebar. Jaesi hanya mau fokus sama ujian kelulusan karena udah bukan tanggung jawabnya lagi atas apa yang menimpa sahabat sekaligus tetangga dekatnya kalaupun gadis itu mengajaknya bicara itu hanya karena tugas dan kerja kelompok.
"Yaudah sih biarin aja."
"Mau sampe kapan sih loe? gak bosen emang?" Jaesi menunduk sembari menghela panjang kemudian mengambil barang-barangnya dan membawa ke dalam perpustakaan tetapi Darren menahan lengannya, laki-laki itu hanya mau teman perempuannya menyelesaikan masalah dengan cara yang baik meskipun ia tahu pemuda yang berjalan di depannya itu nggak mungkin menyelesaikan masalah dengan hal yang sama tetapi seenggaknya mereka sudah melakukan hal yang membuat hubungan persahabatan mereka kembali seperti dahulu lagi.
"Ya terus loe mau apa? kaya dia jauhin gue? silakan aja!" ketus Jaesi yang tetap masuk ke dalam perpustakaan, seperti biasanya gadis itu selalu menyembunyikan air matanya di belakang Jaeran. bahkan gak mau kalau gadis itu sampai dipandang lemah: Darren tau bagaimana tersiksanya gadis itu.
"Paling enggak Jaeran harus tau kebenarannya!"
"Gak usah! biar dia tau dari orang lain. bukti yang gue punya gak akan buat hubungan persahabatan kita balik, sekarang gue cuma mau lulus dan pergi. karena itu keinginan dari lama." tegas Jaesi yang mengambil banyak buku dari rak perpustakaan sekolah, pemuda eyes smile itu memandang nggak mengerti atas apa yang dilakukan sama sahabat perempuannya namun apapun keputusan dari gadis itu ia hanya bisa mendukung dan melakukan yang terbaik. selama ini nilainya nggak pernah turun selalu menjadi peringkat pertama di 5 besar paralel di kelas walaupun yang kedua anak tetangganya sendiri itu bukan halangan bagi gadis itu.
"Gue mager buat belajar gak tau kenapa. apa karena nanti ada ulangan fisika ya?"
__ADS_1
"Mungkin, eh soal yang kemarin udah belum?"
"Udah. nilainya benar." sahut Darren malas-malasan padahal biasanya lelaki itu yang akan bersemangat kalau mengerjakan latihan soal. "tentukan nilai ini 8^(5)×√(36)?" Jaesi menarik buku milik cowok itu.
196.608
Jaesi hampir membuat Darren kesedak ludahnya sendiri gak salah gadis itu selalu menjadi juara bertahan dikelas mereka, gadis tersebut menjelaskan penggunaan rumus yang mana terhadap bilangan di atas. Darren mendadak jadi terharu banget sama gadis ini entahlah gak mau kehilang sahabat pintar yang mudah memberikan jawaban terhadap soal sulit seperti ini. di rumah adik laki-lakinya malam mengganggu pembelajaran gadis itu bahkan nggak sekali dua kali gadis itu diganggu oleh adiknya sendiri tetapi seringkali adiknya malah melakukan hal-hal yang di luar dari ekspektasi ketenangan belajar dirinya.
Gadis itu hanya menatap adiknya sebal lalu berjalan ke arah tangga menuju kamar kemudian mengunci pintunya dan menghabiskan waktu untuk belajar hingga nggak terasa hari sudah mulai sore bahkan gadis itu juga sama sekali tidak menyentuh makanan yang ada di atas meja makan di bawah, ponsel nya terus berbunyi namun gadis tersebut mengabaikan dering ponsel tersebut hingga waktu belajarnya habis dan malamnya gadis itu bermain bersama adiknya. setelah belajar lalu ia makan dan bermain ponsel gadis itu membuka setiap pesan yang masuk ke dalam benda tipis itu dan membacanya satu persatu, sampailah ia di penghujung pesan dan itu berasal dari anak tetangganya yang sekaligus menjadi sahabat dekatnya.
lagi ngapain?
read
Jaesi mendengkus keras ke mana saja lelaki itu selama ini kenapa baru sekarang setalah dua semester memusuhinya, lagian bukannya ini sudah dekat dekat dengan ujian kenapa laki-laki itu nggak belajar bahkan di jam segini pun harusnya iya sibuk dengan materi-materi yang akan dipelajari ketika try out nanti. "belajar udah sampe mana, kak?" tanya papa yang lagi menonton sinetron azab.
__ADS_1
"Sampe singapura pa." asal Jaesi yang gak memerhatikan fokusnya pada apa saat ini.
"Kamu mau lanjut ke sana? gak jadi di tempat Greni?" Jaesi memutar bola matanya malas saat menanggapi lawakan dari bapaknya sendiri bahkan ia menjawab nya pun asal-asalan tanpa memikirkan ke mana ia akan membawa candaan dari bapaknya itu hanya sekedar buat penghiburan saja. gadis itu membalas pesan dari laki-laki yang rumahnya ada di samping rumah dirinya lalu kemudian menatap ke arah pintu sembari berpikir bahwa laki-laki itu akan segera menghampirinya namun itu hanyalah dalam bayangannya saja.
Jaesi
no one your own business
peduli bgt
send
gadis itu kembali membuka obrolan pada sang papa namun kali ini topik pembicaraan nya bukan lagi menggunakan bahasa indonesia tetapi bahasa perancis bukan mamanya nggak mengerti namun kalau mamanya ikut campur dalam urusan ayah dan anak itu pasti mamanya akan ikut pusing. "Ne dis pas à Jaeran que je veux aller chez grand-mère parce que je veux passer à autre chose, Je pense que tout oublier est le meilleur moyen. Quoi qu'il en soit, après avoir reçu l'annonce que je serai diplômé, je partirai tout de suite."
"Vous êtes sûr? tu ne peux pas juste rester ici, trouver un endroit que tu ne connais pas?"
__ADS_1
Gadis itu menggelengkan kepalanya namun ga lama kemudian wajahnya terlihat sedih dan sepertinya nggak mau meninggalkan keluarganya akan tetapi itu demi kebaikan nya sendiri yang nggak ingin tersiksa dalam cinta yang semu kalau iya disuruh memilih antara mati atau bertemu lagi sama anak tetangganya itu gadis tersebut akan lebih memilih menemui ajalnya. "udah papa gak usah galau gitu, jarak kita terbentan sam waktu bukan sama alam." mamanya merasa anak perempuannya seperti sedang membicarakan sebuah isyarat.