
Jaeril menunggu sang kakak yang tak kunjung datang ke halaman, ketika sedang menunggu Jaesi dihalaman rumah tetangga mereka menyapa dengan ramahnya. Hari ini pemuda itu sibuk hingga tak bisa menjemput atau sekadar berangkat bareng ke sekolah akan tetapi gadis itu mencoba mengerti. Jaeran tersenyum pada saat masuk ke halaman rumah mereka, pemuda itu bahkan tak memberitahu jika pagi itu akan mengajaknya berangkat bersama. "Jaesi mana?" Jaeril menoleh lalu melakukan tos sapaan akrabnya.
"Di dalam lagi buat bekal," Jaeran mengernyit heran ketika mendengar hal itu.
Jaesi memutar bola matanya saat baru saja keluar dari pintu rumah dan menarik lengan Jaeril agar segera pergi darisana, namun lelaki itu malah menahan lengannya yang lain. "Loe gak mau bareng gue?" kata Jaeran tersenyum lalu mengalihkan pandangannya pada wajah sang gadis.
"Tolong dong ini masih pagi, jangan menebar keuwuan dulu!" protes dari Jaeril membuat keduanya sangat terkejut dan melepaskan cengkeraman tangannya. Pemuda itu masih tetap bertahan pada sisi gadis yang hampir sama sekali tak menjawab pertanyaan itu, namun ketika lelaki itu ingin meninggalkan rumahnya. Jaesi langsung melengos pergi ke arah motor Jaeran dan mengambil helmnya.
"Gue sama dia," tunjuk Jaesi sembari menunggu sang adik yang masih menyalakan mesin motornya. Selepasnya adik laki-lakinya itu pergi meninggalkan halaman rumah mereka, Jaesi memandang wajah pemuda yang kini tengah mengendarai motor. Jaesi menghela panjang kemudian memegang ujung jaket lelaki itu, ... Jaeran menggeleng kepalanya perlahan sambil menarik tangan perempuannya dengan pelan agar gadis itu memeluknya.
"Mau makan dulu gak?"
"Gak, keburu telat." pemuda itu menghela panjang, sesaat ia tak mengerti apa yang diinginkan oleh para gadis seperti Jaesi. Namun jika lelaki itu menarik perhatian cewek lain, Jaesi merasa jengkel dan sangat kesal begitu juga dengan dirinya sendiri.
Seharusnya cowok yang lagi bersamanya adalah Marco bukan dirinya, namun karena ia ingin memperbaiki mood gadisnya itu bahkan ia rela-rela meminta maaf pada pacar dari gadis dibelakangnya itu hanya untuk menghapus jarak diantara mereka. "Kalo makanan kantin mau?" tawar pemuda itu yang masih belum menyerah juga.
__ADS_1
Gadis itu mendengus dingin saat dengar sogokan demi sogokan terus saja dilakukan oleh pemuda di depannya itu. "Loe nyogok gue ya?" tuduh gadis itu yang sedikit memicingkan matanya tajam. Dan syarat akan kesinisan darinya.
Cengiran itu kontan membuat sang gadis ikut merasa senang. "Ya menurut ngana aja," ujar lelaki itu santai dan memarkirkan kendaraannya. "Ouh iya, Jacob bentar lagi pulang, liburan musim dingin katanya." Jaesi menghentikan langkahnya lalu menatap wajah sang pemuda saat pemuda itu juga sedang berada di depannya.
"Loe suka Cilla ya?" cowok itu tersenyum kecil kemudian mengangguk sambil menggenggam tangan perempuannya itu dan berjalan menuju kantin. Entah kenapa seperti ada yang menusuknya dari belakang sambil menikam hatinya dengan begitu dalamnya. Sakit. Itulah rasanya, Jaesi hanya mampu tersenyum sembari mengeratkan genggaman ditangannya pada telapak tangan besar lelaki itu.
"At first sight," jawab Jaeran yang mendudukan dirinya pada kursi meja kantin.
Harusnya ia senang bukan? Dengan begitu Jaeran tak akan mencampuri urusan pribadinya lagi, dan lebih fokus pada sang gebetan barunya. Tapi mengapa rasanya sangat sulit menerima kehadiran Cilla ditengah mereka, bahkan dia baru saja mengenalkannya beberapa waktu lalu. "Idih melow banget gak usah senyum gitu, geli gue," kekeh gadis itu yang mencairkan suasana.
Bel masuk berbunyi gadis itu langsung bergegas pergi meninggalkan temannya yang setia dengan tenang menunggu jam pelajaran pertama selesai. "Gak mau Dispen?" tanya pemuda itu, namun hanya dibalas gelengan kepala dari gadis yang tengah berdiri di depan pintu kantin.
Gricella menatapnya dengan pandangan lembut, gadis itu mengulas senyum tipis dan merangkul pundak perempuan yang lagi berjalan ke arah bangkunya berada. Hey! Jika ia tau hari ini jamkos, tak akan mau masuk ke dalam kelas. "Mana Jaeran? Kata Darren loe datang bareng dia," Jaesi menatap wajah Darren dengan tatapan sinisnya lalu menghela panjang. Pantas saja tadi Jaeran mengajaknya untuk bolos ternyata ini alasannya, namun jika ia masih tetap berada di sana, ditempat itu bisa-bisa gadis itu mati jadi nyamuk bakar. Darren tersenyum padanya saat Jaesi duduk di belakangnya, gadis itu menoyor kepala pemuda itu dan mendengkus geli kemudian mengambil beberapa buku catatannya dari dalam tas.
Saat jam pelajaran pertama berlalu dengan begitu cepatnya, Jaesi menenggelamkan kepalanya pada lekukan tangan yang berada diatas meja. Seharusnya sejak bel pergantian jam tadi guru biologi sudah masuk dalam jam pelajaran kedua, gadis itu menyumpal telinganya menggunakan airpods dan menyalakan satu lagu kesukaannya. Jaesi mulai memejamkan matanya menikmati angin yang menerpa wajahnya, "bangunin kalo ada gurunya," ucap Jaesi yang mengatakan pada cowok di depannya.
__ADS_1
Marco menatapnya dalam lalu tersenyum kecil saat melihat sang kekasih tengah terlelap menyelami mimpi, pemuda itu memakaikan jaketnya pada tubuh kecil Jaesi. "Udah dari tadi?" tanya Marco pada Darren yang juga ikut menatap lurus Jaesi.
"Baru jugalah," santai Darren menanggapi ucapan pemuda disampingnya, cowok berdimple itu sebenarnya agak bingung dengan tatapan Marco terhadap sang gadis. Tatapan yang sulit untuk dijelaskan bukan tatapan cinta kepada pacar melainkan tatapan mata seorang sahabat baik. "Loe sayangkan sama Jaesi?"
Marco diam sesaat sebelum menjawab pertanyaan dari teman satu rekan teamnya. "Sayang," pelan lelaki itu yang mengusapi rambut Jaesi. "Gue sayang sama dia. Tapi gue gak cinta, gue tulus sama dia, gak ada maksud buat nyakitin." jujur lelaki itu yang kontan saja membuat pemuda yang mendengar semuanya itu mengepalkan tangannya kuat, Darren sangat terkejut atas pengakuan dari Marco. Jika lelaki itu tak cinta untuk apa ia memacari teman perempuannya ini.
"Buat apa macarin kalo loe gak cinta sama dia," telak Darren. "Sebaiknya loe jauh-jauh dari Jaesi sebelum semua jadi makin rumit," cetus Darren dengan tatapan mata mengintimidasi.
Marco diam lalu tersenyum miring terhadap sang lawan bicara, lelaki itu beranjak meninggalkan keduanya yang sama-sama terpaku menatap satu objek yang sama. "Loe pikir segampang itu buat gue meninggalkan dia? Sorry bro, she's mine. Kenapa loe suka sama dia? Chill bro, dia baru pacaran sama gue belum jadi isteri." Darren mengangkat kepalanya memandang wajah Marco bengis, hey! Apa yang baru saja pemuda tersebut katakan? Suka? Bahkan Darren tak pernah mau menganggap Jaesi sebagai cewek. Darren baru mengetahui fakta tentang pemuda yang tengah berjalan keluar dari kelasnya itu, ternyata lelaki itu terlalu posesif terhadap miliknya. Lalu sekarang pemuda itu harus bagaimana? Dirinya saja tak akan cukup mengatakan hal tersebut pada Jaesi, gadis itu tak akan percaya dengan apa yang telah di dengarnya. Jika tau gadis itu akan mengalami situasi seperti ini seharusnya sudah dari awal kedua pemuda itu melarang gadis itu.
Nyatanya tidak akan semudah yang ia bayangkan, Jaesi menertawai ocehannya mengenai apa yang tadi dirinya dengar dari mulut Marco sendiri. Jaesi menertawakan dirinya layaknya itu sebuah lelucon jenaka yang memang seharusnya gadis itu tertawakan. "Loe ngaco ya? Mana mungkin Marco gitu," sangkal Jaesi yang mendengar kata-kata pemuda dihadapannya ini.
"Loe bakal menyesalinya, Jaesi. Gue serius sama ini, jangan sampe hal ini terdengar sama dua guards loe, Jaes, gue gak mau loe tetap sama si bajingan itu. Dia gak baik buat loe."
"Dar, loe gak lagi bercandakan? Loe tau gue mertahanin itu susah. Susah buat gue lepasin Marco, sekalipun dia benar-benar nyakitin perasaan gue, gue bakal tetap sama dia." kata Darren yang hampir berteriak saat itu juga dikala mendengar kekeraskepalaan dari Jaesi.
__ADS_1
"Dia posesif Jaesi! Loe gak akan paham!! Loe bakal tersiksa, percaya sama gue!?" pekik Darren yang sudah gak tau harus bagaimana lagi dengan sikap gadis itu. "Gue gak mau loe jadi tocsiknya dia, Jaes." gadis itu merenung meresapi setiap ucapan Darren yang mulai meninggalkannya sendirian.
Jaeran tersenyum saat melihat Cilla yang begitu manisnya memerhatikan setiap apa yang ia makan, ah, manisnya. Begitulah isi benak lelaki itu, ketika sedang berada dikantin, pemuda itu memandang ke arah keliling seraya mengamati apa saja yang bisa menjadi objek tempat untuk mojok bareng gebetannya itu. Penglihatannya menangkap sosok pemuda yang tengah berdiri berhadapan dengan seorang adik kelas, jelas ia mengenal sosok yang selalu menjadi alasan pertengkarannya dengan Jaesi. "Marco," gumamnya pelan sembari menatap dengan tatapan tajam.