Vilanian

Vilanian
29


__ADS_3

Saat berada di perpustakaan Cilla meminta pembuktian pada Jaeran dengan mendekati Jaesi bukan sebagai sahabat melainkan lawan jenisnya, Cilla jelas liat tatapan sendu dari Jaesi ketika di dalam perpustakaan. Ia tau kedua sahabat itu saling menyimpan cerita sendiri, jika lebih dari seminggu Jaeran tetap memrioritasin dirinya maka terbukti kalau mereka memang sahabatan gak lebih tapi kalau Jaeran lebih memilih sahabatnya maka sudah bisa dipastikan bahwa dirinya hanya pelampiasan selama ini. "Kamu mau kan, melakukan satu hal buat aku? kalo mau, aku minta kamu buktiin bahwa kalian emang pure bersahabat gak lebih. Lebih dari satu minggu kamu gak prioritasin aku lagi, aku anggap hubungan sebatas plampiasan semata." Jaeran terkejut jujur saja namun ia gak bisa menolaknya ataupun mengiyakan hal tersebut cuma terdiam seraya berpikir siapa yang tadi melihatnya mencium Cilla.


"Aku gak mau!" tolak Jaeran yang membuat gadis di sampingnya mengedut bingung. Kenapa sebegitu menolaknya hanya untuk bukti saja gak akan ada maksud lain, namun pikiran Jaeran ternyata berbeda dari Cilla banyak spekulasi yang muncul di dalam benaknya. Dan itu membuat si cowok berpikir berulang kali, "gimana kalo itu jadi beneran? pokoknya aku gak mau!"


"Hanya beberapa hari aja, aku mohon."


"Cill, kamu gak mikirin gimana nantinya? kenapa kamu butuh bukti kalo aku aja selalu sama kamu." Jaeran bahkan gak bisa berpandangan sama Jaesi meski cuma satu menit saja rasanya jantungnya mau copot karena faktanya lelaki yang ada di depan Cilla itu sudah berani mencium sahabatnya sendiri, gadis yang lagi merajuk itu tetap kekeh mau Jaeran melakukannya. "pokoknya aku gak mau titik gak ada bantahan lagi." Cilla memandang pemuda dengan raut sedihnya dan itu sontak saja membuat sang gebetan merasa gak tega.


"Jadi kamu gak mau?"


"Okey-okey. Sekali ini aja." Jaesi menatap kosong lapangan basket yang basah terkena air hujan, gak semua yang galau harus gadis itu tangiskan: tapi rasa-rasanya Jaesi agak sedikit melamun sejak putus dari Marco. Bahkan panggilan dari Darren saja gak dihiraukan sama sekali oleh gadis tersebut, batinnya sangat teriris saat melihat kondisi sahabatnya kaya begini ... gak cuma itu saja Jaesi sesekali tanpa sadar masih suka berjalan ke arah kelas Marco. Jaeran masuk ke dalam kelas lalu menoleh kepada Darren yang mengusap pelan punggung Jaesi, Jaeran yang gak tau apa-apa akhirnya memilih untuk bertanya namun waktunya tidak tepat. Ketika mendekat pada dua orang di depan jendela Jaesi malah menangis sesenggukkan seraya mengutuknya, dan tangisan itu semakin pecah saat Jaeran datang memeluknya. "kenapa, hm?" lembutnya.

__ADS_1


"Buat apa elo peduli," isakkan itu mengecil seiring waktu. Darren masih belum bergeming dari tempatnya lalu mengembuskan nafas panjang sembari main hago di ponsel Jaesi, memang gak tau situasi sekali tapi dirinya juga gak mau jadi perusak momen. "bukannya gebetan lebih berarti daripada gue?"


"Elo sama Cilla itu penting. Loe adik perempuan gue dan Cilla segelanya buat gue," agak sedikit mencelos dihati gadis yang menatap sendu sahabat laki-lakinya itu. Sejak Jaeran memiliki hubungan sama Cilla waktunya mereka berdua sudah gak ada lagi walau begitu Jaesi tetap menunggu kemarin mereka berdua renggang karena Jaesi menuruti keinginan dari Marco, apa gadis itu memerjuangkan mantannya lagi ya. Agak ragu menjalankan misi dari gebetannya tapi ia gak punya pilihan lain, lagipula Jaeran hanya harus mengubah status mereka saja kan gak ada hal lain lagi.


"Sebenarnya apa yang buat elo peduli, ke mana saat gue putus?" Jaeran membeku sungguh gak ada yang kasih tau dirinya soal ini. "ke mana saat gue sedih? gak ada. Elo enggak ada! jadi kenapa sekarang loe muncul? ouh atau sebenarnya diri loe yang anjing ini mau tau alasan kenapa gue putus?!" bentak gadis yang kini mulai mendorong dekapan sahabatnya itu.


"Gue ini sahabat loe, kan?"


Marco agak gak ikhlas mutusin Jaesi begitu saja apa mungkin ia meminta buat bisa balik dan menjaga jarak sama Vanilla, tapi bagaimana dengan Vanilla yang hobi sekali mengikutinya. "Van, gue mau ke toilet elo di sini dulu." pesan pemuda yang melengang pergi, sebuah hantam baru saja mengenainya. Benar itu Jaeran yang menyelesaikan beberapa urusannya sama mantan dari sahabatnya. Jaeran kembali menyerangnya namun kali ini ia bisa menangkisnya dan membuat serangan balik semua yang ada di ruang kelab tari memerhatikan, bahkan Cilla turut memerhatikannya.


"Elo mutusin sahabat gue cuma buat adek kelas ganjen ini?!"

__ADS_1


"Itu bukan urusan loe."


"Jelas ini urusan gue karena yang berhubungan sama Jaesi jadi urusan gue. Ngerti?!" Marco semakin membuatnya tersulut emosi dan dengan sengaja menghentikan serangan balasannya karena pada saat Jaesi datang nanti, nama cowok yang ada di depannya ini menjadi jelek kemudian bisa dengan mudah membuat hubungan keduanya renggang atau bisa juga gak mau saling bertemu lagi. Selama ada Jaeran, Marco gak bisa membuat Jaesi jadi miliknya: cewek itu memang sayang padanya tetapi rasa cintanya cuma buat mantan sahabatnya.


"Ouh jadi elo mau bilang kalo sebenarnya urusan kita belum berakhir sejak masalah itu?" Cilla yang mendengar jadi menarik perhatiannya beberapa saat sebelumnya gadis yang lagi mengobrol itu sempat tak acuh akan pertengkaran tersebut. "iya kan? dugaan gue bener, kan?" Jaeran mengepalkan tangannya lalu menghela panjang. "elo bahkan ambil hak gue sebagai cowoknya, ya kan. Sedih loh gue waktu ditolak sama Jaesi." mimik wajah Marco seakan yang paling tersakiti padahal pemuda itu hanya mau mengejek Jaeran saja.


"ITU MASA LALU!! DAN ELO MASIH MAU MEMPERMASALAHKAN HAL ITU!!"


"ITU BUKAN MASA LALU!! DUA KALI!!! DUA KALI ELO NIKUNG ANJEM!!" Cilla terkejut saat dengar kemudian bergegas masuk ke sela-sela kerumunan tersebut. Jaeran gak sadar sama apa yang dirinya lakukan namun Marco tau kalau di sana ada Cilla. "dua kali juga elo cium cewek gue!" desis Marco. hey! Jaeran hanya melakukan saat kemarin tidak lebih dari itu, masalah baru datang lagi dan satu masalah belum saja usai. Marco benar-benar menyebalkan.


"Jaeran!!" pekik Cilla yang hampir menahan tangisnya.

__ADS_1


__ADS_2