Vilanian

Vilanian
10


__ADS_3

Jaesi masih memandangi pintu kamar cowok itu, lalu ia kembali pada kenyataan yang ada dan melangkah ke kamar Jacob. Gadis itu kembali meneriaki nama pemuda jangkung itu, ketika ia berada di depan pintu kamar kakak dari sahabatnya itu. Jaesi sempat mendengar suara aneh dari dalam, sontak itu membuatnya curiga dan berpikir jelek. Gadis itu langsung masuk tanpa mengetuk pintu dulu, Jaesi menganga ketika liat Jacob lagi mengorok.


Jaesi tersenyum jahil lalu memotretnya sebagai pembalasan dendam tadi. Gadis itu menaruh caption meledek dan membuat video snap disosial media miliknya. Saat postingannya ramai dengan dm-dman teman-temannya dari sekolah maupun luar sekolah. Gadis tertawa puas dan kemudian melangkah riang dengan hati yang berbunga. "Emang enak!" gumam, Jaesi yang duduk dibangku panjang dekat lemari.


Gadis itu melangkah menuruni tangga, ketika hendak membuka pintu depan rumah keluarga smith. Jaesi tak sengaja melihat pemandang yang sebenarnya biasa dilakukan oleh oleh orang berpacaran tapi tidak buatnya. Gadis itu menatap jijik pasangan baru dihadapannya itu, cewek itu melihat jam dilayar handphonenya dan alarm latihannya berbunyi.


Kriinggg... Kriiinggg...


Gadis itu mematikan alarm tersebut dan melanjutkan langkahnya, sedangkan pemuda yang di depannya itu melihat melalui ekor matanya. Jaesi agak mencibir sikap bucin temannya itu kemudian pergi berlalu seraya berdecak kesal liat hal itu.


Gadis yang lagi menendang batu kerikil itu dengan sebelnya itu menghentakkan kaki sambil memggerutu kecil. "Gue putus, dia malah jadian. Apaan deh," gerutu, anak itu lalu masuk ke dalam rumah.


Mama yang memerhatikan tingkah putri sulungnya sempat mau menegurnya, namun hal itu ia urungkan karena biar bagaimanapun mama Jaesya pernah muda juga.


Jaeril memandang jengah wajah kusut kakaknya itu, seingat dirinya tadi masih tak masalah kenapa sekarang terlihat seperti orang banyak masalah? Cowok itu mencolek bahu kakaknya tak di duga-duga gadis itu merengek kaya anak bayi. Sontak itu membuat sang adik terkejut dan memiliki feeling yang lain, Jaeril mendengus lalu bergumam. "Pasti mau minta gak latihan thaibox deh," gumam, cowok itu yang langsung menghitung mundur.


Cewek itu selonjoran lalu menekuk lututnya dan memeluknya erat, tak terasa air matanya luruh berjatuhan dari pipinya tersebut. Gadis itu sadar dirinya bukan siapa-siapa Jaeran lantas untuk apa dirinya menangis? Suara teriakan adiknya melengking tinggi hingga membuat dia mau tak mau turun ke bawah.


Darren memandang wajah gadis itu sebentar lalu menurunkan pandangannya ke bawah seraya bergantian dengan ke atas. "Lo kok gak ganti?" Tanya, Darren agak menaikkan satu oktafnya.


Jaesi memijat pangkal hidungnya pening, cowok itu berkerut dalam, kemudian menatap temannya itu dengan helaan nafas berat. Gadis itu seperti sedang menyembunyikan sesuatu dari pemuda yang duduk dihadapannya sekarang. "Gue gak latihan," begitu katanya yang kembali menaiki tangga. Darren yang agak merasa aneh, mengikuti langkahnya dari belakang.

__ADS_1


"Loe kenapa sih?"


Gadis itu tak mau mendengarkan apapun yang dikatakan Darren, namun pemuda itu seperti tak kenal lelah. Ia tetap mengganggu Jaesi dengan pertanyaannya, cewek yang lagi melangkah itu berhenti dan membalikkan badannya jadi menatap Darren vocal.


Hening dan tak ada yang mau membuka suara, Jaesi membasahi bibirnya yang kering lalu menghela nafasnya panjang. "Loe pulang ajh," Darren yang dengar terkejut dan melangkah pergi dari sana, bergegas pulang.


Saat makan malam tiba, Jaesi hanya mengaduk-aduk makanannya layaknya orang tak berselera makan, gadis itu memandang wajah mama dan papanya. Entah kenapa ia ingin sekali bertanya tentang kisah cinta kedua orangtuanya itu. "Ma, dulu papa gimana?" tanya, anak itu sambil menyuap nasi, sang papa tersedak saat dengar pertanyaan itu.


Jaeril yang masih diam menatap kakaknya heran, dengan alis yang tertaut satu sama lain. "Aneh," gumam, pemuda itu yang kemudian mengabaikan sang kakak.


Mama tersenyum saat mendapatkan pertanyaan seperti itu dari anak gadisnya, "papa dulu gak gimana-gimana, umumnya orang dekat ajh. Pacaran, tunangan terus nikah. Gitu ajh si. Lagian papa gak ada romantis-romantis amat kok, ya cuma sekedar kenal dari jaman SMA satu fakultas, udah selesai." Jaesi menganggguk kecil lalu bertanya lagi. Saat ia melontarkan pertanyaan itu, mamanya tak menjawab dan itu membuat keningnya berkerut.


Vilanian


Jacob tengah asik beradu game dengan ayahnya, saat lagi seru-serunya. Tiba-tiba sang ayah menghentikan permainan mereka dan itu membuat cowok itu mengernyit tak suka. "Kok udahan yah?" ayahnya melengang pergi masuk ke dalam kamar dan mengendikan bahu acuh.


"Terserah ayah dong, bang."


"Ayah gak aci ih, tadi abang mau menang juga! Bilang ajh ayah takut kalah kan?" tuduh sang anak dan itu kontan membuat pria tua di depannya tertawa renyah.


"Suka-suka abang ajh," Jacob berdiri lalu melangkah masuk ke dalam dapur, seketika ia lapar dan ingin makan sesuatu. Dari belakang Jaeran nampak menatapnya dengan gurat malas, pemuda itu berbalik dan mengurungkan niatnya masuk ke dapur.

__ADS_1


Jaeran memandang ruangan yang ada diseberang sana, ia menatap chat group yang masih sama isinya dari beberapa menit lalu. Kamar Jaesi tampak gelap dan hanya diterangi oleh lampu tidur saja, jelas cowok itu lihat gadis yang sedang termenung itu memandang kosong kamarnya saat ini.


Jaeran keluar dari kamar, dan melangkah ke balkon kamarnya lalu menimpuk sedikit jendela gadis itu. Jaesi masih tidak keluar juga, saat ingin melempar batu lagi, cewek itu keluar dengan mata sembabnya, cowok itu berkerut dalam lalu tak yakin dengan apa yang ingin ia tanyakan. "Jaes!" teriaknya.


"Apa?" balas, gadis itu.


"Mata loe kenapa?"


"Gak apa-apa," cicitnya yang hendak mau masuk namun Jaeran kembali memanggilnya.


"Jaes!" panggil cowok itu lagi.


"Apaan,"


"Loe jadian sama bang Jacob?" Jaesi tersenyum sinis sekilas pemuda itu melihat gadis yang jauh di depannya itu menggeleng namun rasanya Jaeran tak mau percaya begitu ajh.


Setelah kejadian semalam Jaesi tak banyak bicara dengan teman-temannya termaksud Jaeran, cowok itu merasa gadis ini sedang membuat jarak diantara mereka. Jaesi kebanyakan mengajak Darren ke mana-mana, termaksud ke kantin dan pulang bareng pun juga begitu.


Jaeran menghentikan langkahnya di depan gadis itu, pemuda itu menatap Jaesi sayu. Cowok itu—entah kenapa cowok itu seperti tak mau Jaesi menjauh darinya, Jaeran terus saja menghadang Jaesi yang melangkah pergi menjauhinya. Karena jengah gadis itu menatapnya kesal, lalu mendorong tubuh besar Jaeran minggir dari depannya.


Jaeran mengusak rambutnya kesal dan frustrasi, ia tak mau gadis itu bertingkah seperti itu padanya. Paling tidak gadis itu menegurnya hanya dengan begitu hatinya yang gelisah bisa tenang. Apa ia kangen gadis itu? Entahlah.

__ADS_1


__ADS_2