Vilanian

Vilanian
68


__ADS_3

Play [Rossa - Hati tak bertuan]


Jaesi menikmati semilir angin yang berhembus dan menerpa rambutnya malam itu dirinya gak sendirian Marco ada bersamanya duduk bersebelahan di atas rooftop rumahnya yang baru selesai dibangun sama kedua orang tuanya, belum banyak yang tau kecuali keluarganya dan Marco orang yang pertama gadis itu ajak ke sana. cowok bermata sipit itu menatap jajaran bintang yang sedang membentuk rasi besar, akan tetapi itu gak bertahan lama karena emosi Jaesi tersulut begitu memandang ke arah bawah mendapati Jaeran yang lagi memeluk tubuh Cilla. Marco berdecak heran sama sikap mantannya itu, kenapa harus marah jika benar mereka gak ada apa pun ... bahkan hanya karena Jaeran memeluk tubuh cewek lain.


Jaesi menelpon cowok di bawah sana mendadak ia tersenyum kecut saat mendengar alasan dari sahabat baiknya, "apa gue gak sesempurna Cilla ya?" Marco jelas terkejut atas apa yang dikatakan Jaesi. cowok itu berusaha menyadarkan sang mantan yang pada akhirnya gak bisa lagi membendung rasa kecewanya terhadap teman masa kecilnya sendiri, "gue perlu mati dulu baru Jaeran sadar kalo keberadaan gue tuh penting kali ya." kekehan Jaesi semakian membuat dada Marco merasa sesak gak pernah sesak ini seakan Jaesi memberikannya sebuah petunjuk yang gak terisirat.


"Loe tuh ngomong apasih!" sentak Marco.


"Haha, gak tau juga. gue capek memendam apa yang seharusnya gak gue pedam, kaya lebih baik pergi aja gak sih?"


"Kalopun pergi, emang elo mau ke mana?"

__ADS_1


"Pangkuan Tuhan." Marco kaget lagi lalu tergelak sarkastik dan melangkah meninggalkan gadis itu yang termenung sendiri, bahkan cowok tersebut memberikannya banyak waktu buat berpikir jernih. gak semenitpun Marco meninggalkan Jaesi di sana hanya bersandar dibalik pintu sembari memikirkan perkataan sang gadis. di bawah Marco langsung berjalan ke arah pintu rumah gak sengaja bertemu dengan Jaeril kemudian lelaki tersebut menanyakan keberadaan kakak kesayangannya; Marco menghela pasrah lalu memberitahu kepada Jaeril di mana Jaesi berada: Jaesi menatap lurus ke bawah betapa teririsnya hati gadis itu yang tetap memertahankan rasanya sendirian sedangkan Jaeran malah berniat ingin kembali pada kisah lamanya.


Jaeril menghela pendek kemudian menepuk pundak kakaknya dan memberi pelukan hangatnya, rupanya adiknya sudah jauh lebih tinggi dari kelas sepuluh atau apa karena cowok berambut blonde itu baru saja kelas sebelas. rasanya sudah sebentar lagi Jaesi pergi dari keluarganya, muhasabah siswa besok malam dan itu kali terakhir ia bersama Jaeran sebelum ambil scholarship; tetapi gadis itu harap sahabat kecilnya gak akan pernah tau tentang ini. sesak, sakit, kecewa dan rasa bersalah semua jadi satu dalam sebuah kisah yang gak pernah dirinya lupakan. Jaeril sebenarnya juga lagi dalam masa peralihan lalu kemudian perasaannya sendiri sedang diuji terhadap tingkah Marissa yang kadang berubah-ubah, jelas cowok itu tau kalau sesungguhnya gadis yang berstatus sebagai kekasihnya tersebut tengah memermainkannya akan tetapi Jaeril bukan pemuda bodoh.


"Udahlah, elo gak perlu sampe segitunya terus juga jangan ngulang kisah cinta lama. tau, 'kan apa maksud gue."


"Terus gue harus gimana?"


"Ya gak gimana-gimana. jalani aja semua seperti biasanya lambat laun juga Jaeran bakal merasa kalo elo itu berarti baginya, dengan gak menunjukkan keberadaan elo itu akan membuat cowok sialan di sana cepet sadar sama rasa sayang yang kalian miliki."


"Sorry not my type." ujarnya acuh lalu kembali memainkan ponselnya dan perempuan itu berjalan menuruni tangga tribun sembari memanggil teman-teman kelasnya. "Giska! Ruth! Gricella! Gita!" Jaesi berlari dengan langkah cepat bahkan meskipun sudah ditolak cowok tersebut masih menyukainya.

__ADS_1


"Udah yang keberapa?" telak Giska dengan nada mencemoohnya namun bukannya membalas Jaesi malah terkekeh seakan memakluminya. Gricella memutar bola matanya jengah bukankah seharusnya Jaesi terima saja? karena sejak gak berhubungan sama Marco lagi gadis itu belum menerima pernyataan cinta lelaki manapun ... ya gak heran sih gadis itu tetap jomlo dengan mengatasnamakan persahabatan.


"Makanya punya muka jangan cakep-cakep! bikin iri orang aja." seloroh Gita yang memakan cilok kuah mba Sari, bahkan gak ada yang mau memberikan nasehat lagi sama Jaesi karena terlalu bebal otaknya. "pada kuliah, 'kan?" tiba-tiba Gita bertanya demikian guna mencairkan suasana yang sempat tegang tadi.


"Iya," raut sedih terpancar begitu saja dari masing-masing mereka dan juga terutama Gita yang sudah tau ke mana Jaesi akan pergi. gak ada yang gak nangis semua meneteskan air matanya lalu berpelukan karena bentar lagi kepisah, "cuma beda negara bukan beda alam." lawakan Jaesi entah kenapa jadi sangat sensitif buat mereka. gak ada yang tertawa atau sekadar menanggapi lelucon teman mereka, Gricella merasa ada firasat jelek mengenai Jaesi tapi gak tau apa. bahkan beberapa orang terdekat dari gadis di sebelah Darren saat ini juga merasakan hal serupa.


Jaesi tertawa seakan menjadi hari terakhirnya bahagia namun kala itu Darren melihat binar matanya yang tampak redup dan gak ada hasrat buat membahas masa depan, padahal layaknya siswi pada umumnya gadis itu pasti sangat ingin masuk ke universitas impiannya sendiri. "nanti kalo ada waktu kita main dan nongkrong di kafe sana kuy?" gadis itu mengangguk mengiyakan ajakan dari sahabatnya tersebut. sesungguhnya Jaeran agak gak paham sama obrolan mereka yang kemudian bertanya mengenai hal di dalam benaknya, bel sekolah bunyi lalu siswa-siswi SMA Langit Sastra pun dikumpulkan di lapangan.


Jaesi menatap cowok disebelahnya lalu, "ayo ketemu lagi setelah semuanya bener-bener jadi kenangan manis disekolah." gadis itu mengatakan tanpa menolehkan kepalanya sama sekali sedang cowok yang ia ajak bicara mengerut gak mengerti, senyum Jaesi tetap terpatri dalam indah dengan makna paling dalam. gadis itu berlalu pergi setelah mengatakan semuanya tetapi ketika hendak ingin melangkahkan kakinya, lengan Jaesi ditahan pada saat menolehpun gadis tersebut tampak menunjukkan kekhawatirannya.


"Maksudnya kita pisah sementara waktu gitu?"

__ADS_1


"Terserah, mau dibilang apa. tapi kalo loe mau nganggepnya gitu juga gak masalah, kalo nikah undang gue."


"Kalo nikahnya sama loe masa diundang, haha." keduanya tergelak bersama lalu berjalan beriringan ke arah koridor, persahabatan ini terlalu sulit untuk digapai bahkan mereka berdua gak pernah macam-macam setelah rapat orang tua selesai merekapun balik ke rumah masing-masing.


__ADS_2