
Jujur Jaesi gak bisa kalau tanpa Jaeran karena dari semasa mereka jadi zigot bareng terus, kan gak terpisahkan kaya ibu dan anak tapi semenjak SMA semua kaya sudah berbeda. mungkin Jaesi doang yang merasakannya atau cowok itu juga gak mengerti juga kenapa bisa kaya begini tapi kalau diperhatikan lagi Jaeran agak berubah, gadis itu menghela saat sahabatnya lebih memilih pacarnya ketimbangan sama dirinya. gadis itu gak tau mengapa sangat merasa kehilangan bahkan semua ia luapkan sama Darren dan bertekad untuk menjalankan niatnya itu. "elo yakin buat ke sana? kalo nanti kesepian terus sedih yang hibur loe saha?" Darren agak mencemaskan temannya ini.
Jaesi diam dan menggelengkan kepalanya pelan, ujian seminggu lagi dan saat kenaikan nanti bisa ia gunakan untuk mendaftar. "liburan nanti gue mau ke sana, kalo loe jadi sekalian aja. loe bisa tidur di rumah nenek gue." ujar Jaesi yang melengang ke arah kantin. mungkin nanti kalau ia jadi pindah akan jarang sekali berkumpul seperti ini. perasaan cowok itu nggak enak saat ia memikirkan tentang apa yang baru saja di dengarnya itupun juga tanpa disengaja karena melewati rumah sahabat baiknya tetapi ia nggak mau berpikir jelek terhadap teman perempuannya sendiri, mungkin saja mereka sedang membicarakan hal penting dan dia nggak diajak.
Darren berlalu pergi setelah lama ada di rumah Jaesi sebenarnya kaget saat dengar obrolan kakaknya sama teman kakaknya itu, tapi Jaeril gak ada niat mau nanya paling nanti dibahas dengan keluarganya. "emang elo mau ke mana?" dasar cowok gak berakhlak padahal ia sendiri yang gak mau nanya ini.
"Gak ke mana-mana."
"bohong," desis Jaeril yang gak percaya sama kakaknya sendiri padahal sudah jelas-jelas ia tadi mendengar setengah dari percakapan kakaknya. Jaesi masih saja mengelak sama pertanyaan itu tetap saja kan semua tergantung restu orang tua mereka, "gue nanya serius. loe mau ke mana?"
"Tanya sama Frans, terus tanya sama Neni juga."
"Are you seriusly?"
"Of course." Jaeril menunjuk wajah yang tampak ragu dan gak bahagia setelah menghubungi sepupunya di Paris, cowok itu melirik kakaknya kesal karena tau mau pindah. sore begitu berlalu saat keduanya sama-sama sibuk dengan kegiatan masing-masing tetapi ada hal yang juga membuat keduanya tampak termenung dan memikirkan semua yang telah menimpa keduanya tidak hanya itu kakak beradik itu juga kerap membingungkan apa yang telah terjadi selama ini bukanlah hal kecil ... di dalam kamar iya sedang merapikan beberapa tempat di dalam sudut ruangan nya ketika asik suara ketuk jendela membuatnya terlonjak kaget. "kenapa?" tanya gadis itu setelah mengetahui siapa yang datang.
"Elo masih marah sama gue?"
__ADS_1
"Sebenarnya elo anggap gue apasih? kenapa susah banget kayanya buat loe tau perasaan gue."
"Ya gue anggap loe adek sendiri." Jaesi menatap sulit lelaki di hadapannya hingga detik berikutnya terasa hening, cowok yang duduk dipinggir kasur tersebut memandang lurus sahabat perempuannya. "ayo belajar bareng!" Jaesi membuang muka muak sama laki-laki itu lalu menggeleng menolaknya, karena biar bagaimanapun gadis itu sudah membuat janji sama Darren.
"Gak bisa gue mau ke Marco," jelas Jaesi yang membuat raut wajah Jaeran berubah dingin.
"Ya udah gue ikut."
"Loe sadar gak sih selama ini hubungan kita lebih dari pertemanan? gue gak mau loe mainin hati Cilla hanya karena persahabatan kita." Jaesi muak sama semua drama yang terjadi Cilla juga gak mau terima atas perlakuan plin-plan dari Jaeran, pasti gadis yang sudah memiliki status jelas itu pingin haknya utuh. Jaeran membungkam begitu saja saat nama Cilla diucapkan, bisa gak sih kali ini saja dirinya merasakan kasih sayang dari Jaesi bukan sebagai teman melainkan layak cewek ke cowoknya? bagaimana cara ia tau perasaan keduanya sebenarnya.
"Kenapa?"
Ya karena gue suka sama loe tapi itu cuma bisa ia pendam dalam hati saja nyatanya Jaeran tetap diam dan gak merespon lagi, "eh iya mau ke mana loe kok packing?" alihnya dengan sengaja.
"Ouh, gue mau liburan sekalian ada yang harus diurus." Darren menelpon menanyakan kabar perihal rencana kemarin, dengan gak sabarnya lelaki itu memberi informasi lain: Jaeran agak penasaran sama perbincangan mereka karena walau bagaimanapun juga ia harus tau apa yang teman-temannya obrolin dan bicarakan. "pokoknya loe cuma terima jadi aja, lagian masih lama ini. EH FRANS JUGA GAK BAKAL KE MANA-MANA KALI!!" seru gadis itu kesal dan langsung mematikan sambungannya.
"Siapa Frans?"
__ADS_1
"Pacar baru," asal Jaesi yang gak melihat ekspresi teman cowoknya itu. Jaeran menghela panjang lalu berhenti mengoceh sama gadis yang lagi sibuk. "bukan, dia sepupu gue." ada nafas lega yang keluar dari cowok di belakangnya tetapi ia juga nggak bisa begitu aja berpikir kalau itu benar-benar sepupu dari Jaesi, walau bagaimanapun juga dirinya nggak tahu tentang latar belakang keluarga sahabatnya itu tetapi ia bisa memastikan semuanya kalau itu benar-benar kerabat dekat dari gadis di depannya.
"Gue boleh nanya gak sih?"
"Apaan?"
"Loe ke sana mau ngapain? urusan apa?"
"Kok kepo sih," kekeh Jaesi yang membuat wajah cemberut cowok itu semakin kelihatan jelas. "gue boleh minta sesuatu gak?" ujar gadis yang menolehkan kepalanya pada Jaeran. gadis itu mulai berdegub kencang namun gak disangka lelaki itu sudah mengerti maksud dari permintaan Jaesi, kecupan itu bertahan sampai tiga puluh menit lalu membelalak kaget. "bukan itu goblok!"
"Terus apa?"
"Gak jadi!" Jaeran mengerutkan dahinya bingung kenapa Jaesi malah jadi marah kan memang itu permintaannya, lalu apa alasan sikap marahnya tersebut. Jaesi bahkan gak bicara lagi sama dirinya setelah kecupan barusan.
"Kok elo sering sensi sama gue sih!" balas Jaeran yang gak kalah nyolot sama gadis di depannya, ya mau bagaimana lagi kalau orang yang kaya Jaeran aja buat dirinya kesal terus apalagi modelan Jaeril, "emang gue punya salah apa?"
"Sih goblok pake tanya lagi, salah lu banyak, Njae!?" Jaesi sudah sering banget kasih tanda apa cowok itu gak perhatian sama dirinya, kenapa Jaeran gak pernah peka? lelaki tuh sering banget mau di mengerti tapi gak mau pengertian sama dirinya. Marco juga suka kaya begitu ya walaupun jarang sekali menunjukkan sikap cueknya terhadap Jaesi, baru-baru ini mantannya tersebut mengajak nonton film bareng tetapi langsung tertolak dikarenakan gadis itu ada latihan.
__ADS_1