Vilanian

Vilanian
46


__ADS_3

Sekolah pagi ini ramai sama berita Risky dan Resita yang gak tau kenapa manusia kantin membuat pendengarannya sakit makanya gadis itu lebih memilih untuk pake earbuds dan bersantai belum lagi Jaeran datang dengan kehebohannya sendiri Jaesi masih tetap acuh dan gak peduli sama apa pun juga bahkan warga kantin berteriak histeris saja Jaesi masih enggan menatapnya. hal apa yang paling mengejutkan lain selain deklarasi dari Marco, "permintaan elo ngada-ada, gue gak mau." tolaknya secara frontal.


"ngada-ada gimana?"


"Ya pikir aja sendiri." sahut Jaesi lagi yang langsung berjalan ke arah tukang pentol ayam, seharusnya tadi ia ajak sana Darren meski harus bangkrut gak masalah. gadis itu menghela panjang lalu menatap mantannya dengan saksama, "harusnya loe minta sama Vani bukan gue. kita kan udah end." cibir Jaesi agak sebal karena hubungan mereka malah jadi akur begini.


"Vani gak mau," celetuk Marco apa adanya. "gue minta sama dia lebih dari sekali tapi gak bolehin. lagian gak ada bedanya sama loe, kan sama-sama cewek."


"Ya bedalah! dia jelas pacar loe gue kan cuma mantan." Marco gak maksud buat Jaesi merasa sebal seperti ini tapi diliat dari ekspresinya saja terlihat banget betapa betenya gadis itu, garis lapangan basket gak jauh dari tempat si gadis berdiri. tapi kenapa pada saat Jaesi menyemangati Marco buat latihan yang terlintas dalam otaknya malah bayangan Jaeran ... dari tempatnya teman-teman Vanilla memerhatikan gerak-gerik Jaesi lalu menyampaikan hal yang salah pada temannya itu.


Vanilla benar-benar kesal sama pacarnya itu kenapa bisa dekat-dekat dengan mantannya tersebut, yang gak dirinya mau adalah Marco mencampakkannya lalu memutuskan hubungan mereka. susah-susah merebut Marco dari perempuan seperti Jaesi, "kayanya itu cewek loe deh." ujar Jaesi yang menunjuk ke arah depan. Jaesi mengembuskan nafas panjang kemudian berjalan meninggalkan lapangan basket, gadis itu malas berurusan sama Vanilla yang super rempong. Jaeran menyandarkan tubuhnya pada tiang ring basket lalu melempar botol air pada sahabatnya itu, Jaesi menarik satu alisnya berkedut heran gak mau ambil pusing keduanya berjalan beriringan dan jangan lupa ada Cilla di samping sontak saja membuat Jaesi merasa panas. "hargai jomlo."


"Emang elo mau dihargai berapa?"

__ADS_1


"Gak lucu!" Cilla terkekeh dan semakin mengeratkan rangkulan tangannya di bawah sana tangan Jaesi terkepal sembari mengatur nafas agar gak emosi. Cilla memang keliatan baik di depan Jaeran tetapi sikapnya akan berbeda ketika mereka udah gak sama sang kekasih, Jaesi sebenarnya gak terlalu paham sama sikap palsu pacar sahabatnya. Darren menaruh semua buku tulis anak kelasnya di depan meja pak Satria lalu melengos keluar tanpa memberitahu sang guru terlebih dahulu, pemuda berdimple itu menghela pendek sesaat ia termenung dalam lamunannya sampai menabrak tong sampah.


"Yang bilang lucu siapa juga, dasar Maemun. gue gak ada lagi ngelucu juga." gelak Jaeran yang semakin terbahak sampai kesedak air liurnya sendiri, "nanti aku gak bisa anter kamu soalnya ad siaran. lagian hari ini roundownnya juga berantakan banget Petty gak beres ngurusinnya jadi anak-anak kapok pake dia." Jaesi cuma menyimak saat hendak belok di pertigaan ponselnya berbunyi melihat dari nama yang tertera membuat Jaesi bisa menebak siapa orangnya. gadis itu mengangkatnya belum mengatakan apa pun tapi sudah disambut berita bagus dari sepupunya.


"HAH!! SERIUSLY?!" pekik Jaesi girang seketika semangatnya membara mendengar Darren dan dirinya keterima di universitas sana walaupun harus menunggu setahun untuk beasiswa. "aaaa!!!! gue seneng banget!!!" setelah memutuskan telponnya dan langsung berlari menemui Darren. tapi Jaesi seperti gak ambil universitas melainkan dirinya bakal melanjutkan sekolahnya di sana, demi kebaikan persahabatannya. gadis itu berlari hingga gak sengaja menabrak Darren lalu temennya itu mem bisikkan sesuatu yang juga mampu membuat si pendengar kaget.


"SERIUSLY!!"


"SERIUSLY!!" keduanya saling berteriak lalu loncat-loncat seperti seseorang yang sedang bahagia. Jaesi terlampau senang akan tetapi dirinya belum meminta persetujuan pindah sekolah sama mama dan papa, dan bagaimana tanggapan Jaeril nanti kalau tau. "gap years gak masalah kan loe?"


"Elo emang sohib gue!!!" peluk Jaesi bangga pada Darren dan laki-laki itu mendramatisir suasana mereka berdua. Jaeril memandang wajah Marissa yang tampak lesu lalu melirik ke arah sekitar sadar sedang dibicarakan pemuda itu langsung tanggap dan menjegal jalan para perempuan di depannya.


"Loe ngomongin Marissa ya?" tukas pemuda tampan itu Marissa terkesan saat mendengar pembelaan dari Jaeril tapi itu gak bertahan lama karena si cowok juga ikut menghujatnya. "jangan nanggung-nanggung kalo mau ngujat orang." Marissa memukul lengannya lalu menarik tangan Jaeril menjauh dari mereka semua, gak ada yang tau bagaimana cara mereka berdua akur dan jadi dekat seperti ini. saat di rumah kedua bersaudara itu bahkan lebih memilih untuk saling mengejek tanpa mau tau kegiatan sekolah mereka. Jaeril melerai kakaknya yang lagi marah-marah sama mamanya karena memakai tas slempangnya sembarangan. "gue gak tau kalo mama juga bisa jadi abg tua," gelak adiknya.

__ADS_1


"Emak loe tuh."


"Mama loe juga." Jaesi memutar bola matanya jengah lalu menghela pendek sedaritadi juga ponselnya gak mau diam banyak sekali pesan yang masuk ke dalam ponselnya lalu diabaikan begitu saja. mama kadang bingung anak-anak tetangga tuh suka belajar apalagi les di luar tapi kenapa anaknya sendiri malah sok pintar dan gak mau ambil bimbel luar? aneh lagi malah pada memilih latihan bela diri yang kalau menurut mama gak terlalu penting. mama pulang dengan muka masamnya lalu langsung menyalahkan kedua anaknya yang gak tau salah apa.


"Kalian bisa gak sih kaya manusia normal? les kek! belajar apa gitu!! mama malu tau kalo nongki bareng geng mama!!!"


"Mama banyakin ibadah. udah mulai uzur gak bagus nongki terus nanti mati dijalan," celetuk Jaesi yang memandang mamanya sekilas. gak ada niat memarahi atau memusuhi anaknya seperti biasa, mama melengos pergi sambil mendumal kecil: kalau dikasih tau seperti itu. tapi mamanya gak ada nanya terus dan spam chat, apalagi kalau tau lagi beli makanan atau sekadar dinner romantis bareng papa.


"Kamu doain mama mati!!" seru mama tambah jengkel pada dua anaknya.


"Ya gak juga sih tapi umur gak ada yang tau."


"Ya sama aja dong!!" Jaeril menatap keduanya gak habis pikir, "kalo mama mati yang masakin kalian siapa?! terus papa gimana!!?" Jaeril meringis mendengar kata-kata murka mamanya tapi bukannya belain orang tuanya pemuda itu malah ikutan. kakak beradik itu kompak saling pandang kemudian tersenyum penuh ledekan itu gak serius kok cuma mama memang lagi agak sensitif saja, kayanya mama kesal sama teman-temannya. Jaesi memundurkan langkah memberikan ancang-ancang untuk kabur, dan adiknya terkesiap buat ketawa.

__ADS_1


"YA CARI MAMA BARU!!! BWAHAHAH!!!" pekik adik laki-lakinya yang sudah kocar-kacir karena mama mulai mengejar mereka.


__ADS_2