
Dari tadi hujan gak berhenti-henti dan itu membuat para murid terjebak di dalam kelas padahal sudah waktunya pulang sekolah sore itu suasana sangat ramai dan beberapa anak menggibahi artist ada juga yang sibuk sama catatan serta tugas. gadis yang duduk di belakang dengan telinga yang menyumpal itu terlihat sangat tenang dan gak ada beban sama sekali, begitu juga dengan teman sebangkunya yang juga terlihat kalem: bahkan teman-teman sekelasnya para siswi sibuk ngefangirl. sama sekali gak ada aktivitas lain di kelas itu bahkan yang cowoknya juga sebagian sibuk ngedangdut bareng, udah kaya kondangan mendadak aja mereka.
"Para hadirin tamu undangan yang saya hormati. dikarenakan hujan semakin lebat alangkah baiknya kita membubarkan diri apa kalian di sini mau nginep! kasian emak elo! bubar!" usir Darren yang membubar seisi kelas sore itu. kegaduhan itu pun segera berlalu dan gak lama hujan mereda niatnya gadis itu mau mengajak pulang Darren tapi sepertinya anak laki-laki itu telah lebih dulu meninggalkan sekolah. sesampainya di rumah gadis itu tetap saja nggak mau turun dari motor anak tetangganya itu padahal cowok itu harus menjemput kekasihnya dan mengajak sang kekasih berjalan-jalan tetapi sepertinya itu memang disengaja oleh sang gadis.
Jaeril menghela nafas lalu menarik kakaknya agar mau turun dari atas motor tetap itu bukan mempengaruhi gadis itu untuk turun malah semakin membuatnya tetap berada di atas motor. hanya dengan satu tarikan saja membuat si gadis merasa kesal dan turun dengan menghantarkan kakinya ke dalam rumah. Jaesi memang sengaja untuk menghalangi sahabatnya pulang dan kemudian melancong ke rumah Cilla, Jaeril sampe harus ribut dulu sama Jaeran baru ia mau turun.
gadis itu benar-benar tidak memperdulikan semua yang dikatakan oleh adiknya malah iya merasa kalau semua laki-laki itu sama saja dan selalu membuatnya kesal terlebih lagi adiknya itu selalu membela anak tetangga sebelah.
Jaeril mulai berteriak dan mengomeli sang kakak perempuan yang padahalnya bisa dibicarakan baik-baik, "GAK USAH SOK KERAS!" teriak Jaeril jengah akan tingkah gadis di depannya.
__ADS_1
"Ya bodoh amat." gadis itu menjawab dengan acuh tak acuh nya tetapi saat berjalan ke arah kamar anak perempuan pertama itu nggak bermaksud membuat keduanya saling berdebat dan memperebutkan hal sepele seperti itu hanya saja ia memang terkadang merasa kesepian dikarenakan semua akan kini memiliki pasangan dan dirinya tidak. gadis itu juga mengacaukan semua yang dilakukan adiknya dan berantakan barang-barang adik laki-lakinya itu. malamnya semua orang berkumpul di ruang tamu dengan aktivitas masing-masing tetapi hanya gadis yang menggunakan piyama warna merah marun itu saja yang terlihat tidak memiliki aktivitas apa-apa dan sangat terlihat kalau dirinya sedang bosan.
Anak perempuan itu menghela panjang kemudian melangkahkan kakinya dengan lemas ke arah kamar mandi setelah membersihkan diri lalu gadis itu pun berjalan ke dapur dikarenakan perutnya yang mulai berbunyi kelaparan sampai saat itu pun sang gadis tetaplah mempertahankan wajah cemberutnya. "kenapa sih kak?" pungkas cowok yang berdiri tak jauh dari dirinya sesaat ia tidak mau menoleh dan malah memalingkan wajahnya yang menunjukkan rasa sebel.
"Bukan apa-apa."
"Gak usah kesel gitu, gue beliin creamy latte deh."
Darren memapah tubuh bongsor Jantho yang baru saja jatuh dari motor dan sialnya kenapa ia mau ketika tetangga temannya itu menelpon untuk datang menemaninya, pemuda dengan senyum eyes smile itu cuma mengeluh agar gak mau di report in lagi sama teman satu rekan basketnya bahkan kalau harus membayar atau dibayar dirinya tetap tidak akan mau. "lain kali elu pake mata kalo mau nyebrang! bukan cuma buat liat Reska aja." desis pemuda dengan nada kesalnya. setelah drama yang mereka lakukan akhirnya keduanya pun memilih untuk berdiam diri di rumah temannya itu dan memainkan ps serta beberapa game online lainnya ... gak mau berlama-lama di sana cowok bereyes smile itu akhirnya memilih pulang saja.
__ADS_1
Jaeran mendengkus kesal karena hanya dibuat menunggu ia pikir Cilla memintanya datang karena memang sedang membutuhkannya rupa-rupanya gadis itu sedang berada disalon. "aku ke sini bukan buat nyalon, kamu masih lama gak sih?" pungkas cowok itu yang mulai jengah. gadis itu mengerutkan dahinya bingung saat sang kekasih mengajukan protes bahkan itu belum ada apa-apanya dengan kegiatan sehari-harinya bersama ketiga sahabatnya.
Pemuda itu menghela panjang lalu melangkahkan kakinya keluar begitu tau kekasihnya sedang di salon sekarang apa yang harus ia lakukan untuk mengusir kebosanannya, "Jae mau ke mana?" tegur Cilla. Jujur saja kalau masih harus berlama-lama di sana Jaeran gak akan tahan dengan kebosanan itu, Jaeran bukan tipe orang yang bucin sampe ke tulang-tulang tapi gak ada salahnya juga spend time bareng teman-temannya.
cowok itu merasa kalau semenjak memiliki kekasih dirinya jarang banget kumpul sama teman-teman seangkatannya.
Jaesi memandang ke arah langit, "langit kenapa gue jomlo?! kenapa gak pangeran yang mau sama gue!!" pekiknya geregetan. sampai di detik berikutnya sesuatu menimpa kepala gadis tersebut lalu kemudian ia berdiri mencari siapa pelakunya, Jacob memainkan gitarnya dengan santai sembari menatap gadis itu seraya mengejek: bahkan mata Jaesi hampir mau keluar dari tempatnya.
"Loe jomlo udah dari lahir, jreng! kalo gak ada cowok namanya jomlo jreng! tapi kalo ada cowoknya namanya gak jomlo jreng! jeng jeng jreng!" ledek Jacob yang membuat Jaesi semakin kesal lalu menimpuknya dengan batu kerikil kecil. helaan berat menguar begitu saja di dalam kamar bahkan gadis itu gak lagi duduk di balkon kamarnya sembari mengamati pager rumah Jaeran yang tertutup rapat. Jaesi memang sengaja menunggu di sana karena belum pernah segalau ini hanya karena satu sahabat saja tapi ketika mendengar suara pintu pager kebuka, dengan cepatnya gadis itu bergerak ke arah balkon.
__ADS_1
Jangankan main bahkan cuma sekadar buat ngobrol aja sekarang susah kaya lagi mau ketemu calon presiden, Jaeran memang sesusah itu sekarang. Jacob menatap kasihan adiknya lalu menepuk punggungnya iba dan berjalan meninggalkannya begitu saja, sampai gak lama di detik selanjutnya Cilla menghubunginya untuk memintanya di antar ke rumah Mitha. Jaeran diam saja gak menolak dan juga gak menerimanya tapi tetap mengantarnya, Jacob benar-benar merasa kasian sama adiknya yang cuma dijadikan kacung saja. Jaesi bahkan baru sampai ke depan rumah sahabatnya itu jika dibandingkan gadis tersebut sama Cilla, dirinya jauh lebih baik.
"Gue pergi dulu," pamit Jaeran yang hanya dibalas anggukan sama Jaesi.