Vilanian

Vilanian
37


__ADS_3

Dipojok ruangan kedengaran suara ******* yang Jaesi kira pada memeraktikkan pelajaran biologi atau animasi jepang ike-ike kimochi, rupanya dia salah sedang ada bentrok di jalan depan sekolah dan beberapa anak kena imbas atas kejadian tersebut. Pikiran Jaesi awalnya memang liar tapi sudah tidak karena setelah liat betapa liarnya anak SMA depan yang memukuli anak-anak sekolahnya, gadis itu mengambil sarung tinjunya lalu memakainya setelah dari ruang latihan sekolah. Lionel memang memeringatinya agar gak ikut andil tapi pemuda disebelahnya keliatan mengantuk dengan isengnya Jaesi menumpulkan dagu sang sahabat menggunakan spidol papan tulis, Lionel keliatan banget menggebu-gebu saat bercerita. "apa yang gue bilang gak ada manfaatnya kalo cuma boongan doang, tapi ini serius bahkan Jaeran ikut turut tangan." adu lelaki tersebut yang membuat Jaesi menghentikan pergerakkan tangannya.


"Di mana sih?"


"Belokkan perempatan jalan Madura, sebelah kanan kang baso Boraxi." Jaesi membelalak kaget itu dekat banget terlalu gampang kalau gadis itu ke sana gak bawa pasukkan sendiri, kasihankan teman-temannya yang kena korban mereka padahal cuma mau datang sekolah. Darren lagi mengajak tebak-tebakkan Jantho yang kalah bayar mang Adin di depan sekolah, makanya pemuda dimple tersebut gak menyerah buat bikin lelucon.


"Kecil tapi keliatan apa itu?"


"Daki ketiak elo." Darren menggeleng cepat sebenarnya agak garing si karena dari tadi gak ada satupun yang kejawab, cowok itu sudah lima kali pesen jus alpukat dua bayar tiga mengutang. tetap saja gak ada yang kejawab satupun, "daki ketiak Jaesi? daki kaki Jaeran? daki badan gue?" Darren hampir ketawa karena semua omongan Jantho gak ada yang beres.

__ADS_1


"Daki kutu." Jantho emosi lalu menggebrak meja karena jawaban gak masuk akal temannya. "coba elu liat dah pake microskop kalo diteliti kutu gak punya daki tapi kalo liatnya bener-bener punya."


"Jawaban gila macam apa itu?!!" Jantho gak terima menarik kembali uangnya lalu melengos pergi dari kantin, dan saat itu hanya ada satu orang dengan sepasang mata elang yang mencoba untuk mencari tahu apa yang telah terjadi pada mantan kekasihnya tetapi ada hal yang iya lupa kalau sebenarnya dirinya sudah tidak perlu memikirkan hal lain lagi kecuali satu orang gadis yang lagi bersamanya ... ia berharap bisa mengulang kembali apa yang sudah ia ucapkan atau katakan dengan jelas waktu itu sebab tak bisa membuatnya melindungi gadis tersebut. Jaesi memakai ikat kepala yang terlilit keras dan juga membuat gadis yang mengenakan seragam sekolah seberang itu melawan dengan cara yang ekstrim, persetan sama para wali kelas tapi yang jadi permasalahannya adalah bagaimana cara dia menang tanpa harus ada yang luka.


"Woy!" teriak gadis itu yang berlari ke arah lawan tarungnya. Jaesi bahkan gak berharap bisa saling serang sama SMA lain dengan cara kaya begini tapi sudah terlanjur juga, ketika mendengar suara seorang gadis banyak yang sudah tahu kalau suara tersebut adalah Jaesi. Si pemilik sabuk hitam boxing gadis yang berjalan ke arah pemimpin mereka itu terlihat berani.


"Woah pentolannya keluar, cuma satu doang? mana dua lagi biasanya baging?"


Darren menunggui teman perempuannya keluar dari kelas tapi gak kunjung keluar pemuda itu terus saja melirik arlojinya dan menghela saat hendak mau masuk ke dalam kelas, Jantho serta Reska menariknya menonton pertanding bulu tangkis dilapang dalam sekolah. "masalahnya ada alumni kita, loe gak mau caper gitu minta ilmu?" celetuk Jantho yang asal namun lelaki di samping gak menggubrisnya. Darren masih tetap menunggu Jaesi di manapun tempatnya. "gak usah nungguin Jaesi, dia lagi tawuran," dibelalakkan matanya itu karena terkejut.

__ADS_1


"Demi mak Beti?! serius!!" Reska mengangguk cepat lalu tergelak keras melihat reaksi dari teman pacarnya itu, sangat menggemaskan sekali buat dirinya.


"Mak Beti bukannya nama nyokap loe?" Jantho bertanya seakan gak tau nama ibunya saja, Darren memincing tajam enggan menjawab lalu menelpon Jaesi yang masih melakukan duel sama pemimpin Lima Sila. Darren berkeras hati saat menyusul gadis itu dan menyeretnya pulang seperti sosok ibu yang memarahi anaknya karena makan sembarangan, Jaesi kaget tiba-tiba ada polisi dan masalahnya jadi melebar ke ranah hukum. Jaeran pun juga sama kagetnya karena gak tau siapa yang melaporkannya ke pihak yang berwajib tapi beruntungnya sekolah gak tau soal ini.


"Celaka gue!" gumamnya yang langsung berlari tanpa tau arah seraya menggenggam tangan gadis di belakangnya seperti sepasang kekasih. tapi tetap saja mereka kena tangkap dan berada di dalam kantor polisi keduanya menghela panjang lalu menunggu panggilan dari pihak keluarga, Jaeril yang datang dengan langkah gesa langsung menoyor kepala kakaknya berbanding sama Jacob yang datang menoyor kepala adiknya.


"Kalo mau buat masalah jangan janjian lu berdua, nyusahin aja." cibir lelaki yang berlengang keluar begitu saja Jaesi dan Jaeran saling tatap lalu tatapannya diputus begitu saja seiring langkah mereka, Jaeril menyeret kakak perempuannya lalu mendengkus sebal. sesampainya di rumah keduanya gak saling bertegur sapa karena sang adik marah pasti susah disogok atau dibujukinnya, Jaesi hatam banget kelakuan cowok di depannya. gadis itu menghela panjang siap dihukum kalau orang tua mereka tau masalah ini, Jaeril memandang wajah kakaknya sengit kemudian mengatakan akan memberitahu orang tua mereka.


"JANGAN!!" pekik gadis itu nyaring. Jaeran mendapat satu tamparan dari ayah karena sudah menyusahkan keluarga namun cowok itu gak bergeming sama sekali, ayah benar-benar marah lalu menghukumnya dengan mencabut semua fasilitas. Jaeran gak menolak atau bahkan membantahnya ia sadar atas apa yang diperbuatnya adalah salah. Jaeril sudah menelpon mama lalu mengadukan semuanya lusa ibu mereka balik dan gadis itu mengutuk kehidupan adiknya, "awas ya loe!" desis gadis tersebut yang berjalan masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


Jaeran dan Jaesi saling bersebelahan memandang langit yang begitu mendung lalu sama-sama menghela pelan, suara dari kedua rumah itupun juga menggema. sampai mereka bersahutan bareng, "ya."/"ya." sahut keduanya secara kompak.


Darren merasa bosan banget karena jam kosong jadi gak ada pelajaran sama sekali cowok berdimple itu memutuskan buat bolos saja dikarenakan dua temannya juga gak ada di tempat, pasti mereka berdua kena hukuman sama keluarga masing-masing. Jaesi menatap sengit adiknya lalu meletakkan piring begitu selesai makan, adiknya itu membeli makanan di luar dan gak membiarkan kakaknya keluar dari rumah, bahkan sampai harus ke mini market segala


__ADS_2