
Jaeran kepeleset di teras kamarnya sendiri, iya lagi gak becanda kok memang benar kejadiannya cepet banget sambil bawa pick gitar warna pink milik Jaesi, sebenarnya cowok itu berniat usil makanya langsung dapat ganjarannya. "aduh! bunda sakit! jangan ditarik, adadadah." ringis laki-laki itu menjerit kesakitan, bunda mencibirnya dengan kesal lalu berjalan keluar seraya memberikan surat keterangan sakit pada anak tetangganya. Jaeran memohon agar diizinkan gak masuk hari itu namun bunda keliatan malas menatap wajah anak bungsunya lalu menghela panjang dan berjalan meninggalkan putranya begitu saja, Jaesi menatap kedatangan bunda Jaeran lalu memberikan surat padanya.
"Apa ini bun? undangan pernikahan aku sama anak bunda yang mana?" lawak gadis itu tetapi tetap saja bunda tergelak meski agak gak lucu. bunda menjelaskan tentang keadaan anak bungsu nya saat ini namun bukannya prihatin gadis yang hendak berangkat ke sekolah itu malah terlihat merasa lega akan penderitaan sahabatnya, "alhamdulillah, yang menting gak buntung itu kaki."
"Kok alhamdulillah?" tanya bunda dengan bingung tapi gadis itu malah mengangguk dan kemudian berjalan ke arah depan pintu gerbang berdampingan sama bunda sahabatnya itu, "seharusnya kamu istigfar dong, kan Jaeran jatuh."
"Bunda kalo orang dapat musibah seharusnya kita bersyukur karena kita gak ada diposisi itu, coba kalo bunda yang jatuh pasti gak akan aku kaya gituin." bunda benar-benar gak habis pikir sama teman anaknya itu namun wanita paru baya tersebut senang pertemanan keduanya normal saja, sesampainya anak perempuan itu di kelas dirinya langsung menaruh surat keterangan sakit dari sahabatnya itu di atas meja guru lalu kemudian gak lama teman-temannya berdatangan karena sekolah sudah hampir dimulai. Darren memerhatikan ke belakang tempat Jaesi dan Jaeran berada lelaki berdimple itu sempat mau menanyakannya tapi langsung kebaca gitu aja sama Jaesi.
Jaesi melirik sekilas kemudian mengulum bibirnya pelan, "jatoh katanya," dengus gadis itu.
__ADS_1
"Alhamdulillah, tandanya tuhan masih sayang sama temen kita." Jaesi mengangguk pelan yang sesaat hening dan tawa keduanya menyembur pelan, pemuda itu mendadak terlintas sebuah ide dan langsung memanggil nomor Jaeran: laki-laki di seberang sana memutar bola matanya malas lalu mengumam sesuatu. "oi, jatoh lur? gimana kaki aman?" sudah Jaeran duga dua teman laknatnya itu pasti mau menertawainya.
"Kenapa telpon?"
"Darren kangen sama loe katanya," sahut Jaesi dari tempatnya dan sontak saja gadis itu mendapat toyoran dari cowok depannya. membuat gadis itu mengerucut sebal dan langsung membalasnya begitu ada kesempatan bahkan gadis itu gak tanggung-tanggung saat membalas teman laki-lakinya tersebut ... Jaeran kadang gak bisa membedakan yang mana persahabatan dan yang mana rasa cinta, sampai jam berikutnya mood Jaesi tetap saja merasa malas buat melakukan apa pun tetapi hanya satu hal yang bisa bikin semua seperti semula. sebenarnya gadis itu memiliki rencana untuk dispensasi pertandingan boxing minggu depan tetapi kayaknya itu nggak bisa mengingat pelatihnya sedang sakit dan dirawat di rumah sakit membuat latihannya jadi tertunda, suasana kelas tampak ramai dan berisik seusai guru pelajaran bahasa inggris keluar dari kelas namun itu nggak bertahan lama karena setelahnya guru matematika masuk.
Perasaan gadis itu gak minta di pesani makanan tapi kenapa Marco mau repot-repot melakukannya? "ngapain si loe di kelas gue." ketus Darren yang menatap jengah Marco, bukan sengaja cowok yang ada di hadapan itu melakukan semua aktivitas layaknya seorang pacar tetapi di kelas itu hanya ada mereka bertiga. penantian apa yang harus dilakukan ketika mantannya benar-benar kembali ke kehidupan masa iya dirinya sembunyi di suatu tempat.
"Gak ada yang bisa kamu lakuin gitu?"
__ADS_1
"Apa? meliburkan diri emang paling enak." gurau anak itu yang sama sekali gak terlihat becanda padahal sudah waktunya ganti kain perban juga, bunda menghela panjang lalu menaruh nampan dan langsung pergi begitu saja ... Jacob menendang beberapa kerikil di halamacln rumahnya tetapi sang kakak terlalu sibuk sampai-sampai lupa kuliahnya.
"Atau kamu sengaja kan?!"
"Bun, gak baik nuduh anak kaya gitu. apalagi anaknya tampan kaya aku hahaha!!!" bunda dengan sengaja menekan luka putranya sehingga Jaeran mengiris kesakitan gak lama perempuan baya itu membereskan semua perlengkap obat, laki-laki itu menatap memelas pada sang bunda lalu memohon agar enggak menekan lukanya terlalu dalam padahal bunda melakukan itu hanya kesal saja pada anak laki-lakinya tersebut namun akan tetapi cowok itu terlihat sangat seperti minta dikasihani. Jaesi terdengar galak saat melatih anak-anak yang sedang belajar boxing namun saat itu si gadis bahkan keliatan ingin cepat-cepat pulang karena mau melihat kondisi sahabat sekaligus anak tantangannya ... beberapa jam kemudian bell pulang sekolah sudah berbunyi dan akhirnya siswa-siswi mengakhiri kegiatan mereka dan bersiap untuk pulang gadis yang ada di dalam ruangan latihan itu bernafas lega saat mendengar bunyi bell.
Jaeril menunggu kakaknya sampe karatan karena kelamaan nongkrong di parkiran cowok itu sampe jadi perhatian para siswa-siswi di sekolah kakaknya tetapi karena adik laki-lakinya Jaesi itu nggak peduli akan sekitarnya jadi saja iya bersikap cuek, "lama banget buset deh!" ketika melihat kakaknya baru keluar dari sekolahnya.
"Hehe maaf lama." sesampainya di rumah gadis itu langsung turun dari atas motor adiknya dan bergegas masuk ke dalam rumah sahabatnya dan melihat keadaan terkini dari anak tetangganya itu, tadinya gadis itu merasa cemas terhadap sahabat masa kecilnya tetapi setelah melihat keadaan cowok itu iya nggak lagi mencemaskannya justru gadis yang duduk di pinggir kasur itu malah mengejek serta mengolok cowok tersebut. "ouh, elo beneran sakit toh?" Jaeran membelalak kaget kemudian menepuk pundak gadis itu agak kasar.
__ADS_1
"YAYALAH MAEMUN!" pekik cowok itu gak nyantai bahkan setelah beberapa hari ini gak saling menyapa gadis itu tetap menunjukkan rasa sebalnya. "ya kali tipu, gue mana mungkin bolos sih Njaes." cibir laki-laki itu jengah.