Vilanian

Vilanian
52


__ADS_3

Jaesi pikir lelaki itu benar-benar sudah gak mempedulikannya lagi karena hubungan mereka yang semakin merenggang tapi nyatanya gak sama sekali Jaeran tetap merawatnya dan merasa bertanggung jawab atas semua kesalahannya, andai saja dari awal mereka gak saling menghakimi kemudian memendam perasaan masing-masing pasti gak akan kaya begini kejadiannya. Jaeran mengusap perut Jaesi yang tampak hangat, ketika hendak keluar dari kamar gadis itu bangun lalu menahan lengannya agar gak pergi ke manapun: cowok yang hendak berdiri itu duduk lagi sembari meletakkan ponselnya. "gue pikir hubungan persahabatan kita udah gak bisa diperbaikin lagi, karena elo semakin sulit buat gapai." Jaeran masih diam dan menunjukkan sikap acuhnya.


"Siapa yang suruh elo gak makan, hm?" Jaesi mengulum bibirnya lalu mendengkus pelan gak asa bagi gadis itu buat menarik pemudanya lagi. "gue gak minta loe buat jadi superhuman. hak loe buat melakukan apa aja tapi seenggaknya sayangi lambung loe. nih dari Darren, gue sama sekali gak suka liat loe sakit apalagi alasan loe sakit gue."


"Ya terus kenapa loe jauh dari gue? apa loe mau gue gak ada di hidup loe buat selam—" ucapan Jaesi kepotong saat jari manis pemuda itu sudah membungkamnya lebih dulu, Jaeran gak mungkin bisa menjalani hidupnya kalau gadisnya gak ada di sampingnya apalagi sampai meninggalkannya sendirian ... Jaesi langsung dipeluk dan mengatakan hal yang bisa menjernihkan pikirannya cowok itu langsung menegakkan tubuhnya dan mengusap wajahnya kasar.


"Loe ngomong apaansih! gue gak suka loe asal ngomong kaya gitu!"


"Umur gak ad—"


"Sekali lagi bilang kaya gitu gue bakal marah banget. kalo loe mati gue juga mati." tekan cowok itu yang meninggalkan ruangan dan berjalan ke arah bawah padahal Jaesi juga gak salah memang semua hanya takdir yang bisa menentukan kehidupan mereka, pemuda itu berjalan ke arah pintu dan langsung pergi kembali ke rumahnya.

__ADS_1


Jaeril memerhatikan keduanya dari pintu penghubung kamar kalau tau kakaknya sakit karena Jaeran dirinya gak akan membiarkan sahabat kakaknya itu mau mengurusinya: walau bagaimana juga Jaeril jauh lebih berhak daripada Jaeran. malam itu rumahnya rame tapi nggak ada satu orang pun yang mau membuka karena sibuk masing-masing saat melihat siapa yang datang gadis kita terkejut rupanya dua sahabatnya yang saling berlomba-lomba ngasih perhatian seneng sih bisa diperhatiin apalagi orang cantik kaya dia. gadis itu terpaku melihat keduanya yang sama-sama membawa bingkisan tangan padahal dia cuma pingsan karena nggak makan seharian tapi seakan-akan itu dia terkena penyakit parah dan nggak ada harapan buat hidup, mama dan adiknya tertawa lepas saat melihat dua temannya itu kaya pemuda caper.


Ia menghela napas panjang lalu mempersilahkan keduanya masuk tapi padahal si pemuda satunya itu rumahnya cuman selangkah karena ada disamping terbatas kan sama tembok belakang tapi kaya seakan-akan rumahnya jauh paling jauh dari teman-temannya yang lain. "loe kan bisa besok atau gak usah sama sekali juga gak apa-apa." ujar Jaesi yang memutar bola matanya malas, tapi Jaeran gak bilang apa-apa cuma kasih bingkisan lalu pergi begitu saja. "dasar laki gak ada adab." Darren menoyor kepalanya gak tau kenapa rasanya semenjak kejadian siang tadi pemuda berdimple itu jadi kehilang respect.


Jaesi membalasnya dengan menjeguk kepalanya balik dan berjalan ke arah dalam rumah lalu membiarkan lelaki itu duduk di sofa depan ruang tamu sesaat ia hanya berpikir kenapa sampai sahabatnya yang satu itu jauh-jauh datang mengunjungi nya namun nyatanya itu nggak membuat si gadis menemukan jawabannya. "jadi pertemanan kalian mau dibawa ke arah mana," seperti tertampar, terjungkal dan terpelatuk atas ucapan dari Darren.


"Gak tau."


"Karena gak tau."


"Apasih, kenapa gak tau!" Jaesi memutar bola mata malas dan langsung berjalan ke arah dapur buat membuatkan minum bagi si tamu. "kenapa gak tau?" desak Darren yang masih mencecar pertanyaan aneh.

__ADS_1


"Perlu banget jawab?" Darren diam sebentar lalu mengangguk saja cowok itu bahkan mengikutinya kemanapun ia pergi dan gak lupa juga buat si gadis itu merasa nggak nyaman padahal hanya ke dapur atau enggak ke belakang rumah tapi tetep aja diikutin kaya merasa punya buntut. "apasih kok ngikutin gue mulu! main sama Jaeril sana!"


"Jawab dulu oy!"


"!??!" gadis itu agak kesal karena sebenarnya dirinya ingin menemui salah satu dari mereka yang dimaksud itu Jaeran, pemuda itu hanya mau meluruskan kesalahpahaman yang pernah ada sebagai sahabat mereka nggak mau terlalu banyak problem dalam hubungan pertemanan mereka tetapi namanya juga hidup ada perasaan surutnya walau bagaimanapun juga kan keduanya tetap sama-sama manusia yang penuh dengan dosa hanya karena satu masalah selesai pasti masalah lainnya bermunculan.


"Kenapa mukanya?" Jaeran melirik ke belakang lalu takut-takut Darren mengikuti Jaesi dan berakhir berantakan. "gak mungkinkan loe bilang mau ketemu gue?" ujarnya yang terkekeh meremehkan.


"Ya kali." Jaesi terkekeh mereka kaya backstreet dari semua orang, tapi padahal keduanya cuma mau saling mengungkapkan isi hati sama lain. "gue gak ikhlas kalo dengan elo pacaran, guenya dilupain. mending loe jomlo selamanya daripada gue diabaikan, ya buat apa ada gue kalo loe kaya gitu." gadis itu berdecak kesal dan langsung saja dia menempeleng kepala teman laki-lakinya tetapi itu nggak membuat sih yang ditempeleng itu merasa kesal juga aneh aja kenapa mereka melakukan itu padahal kalau keduanya sama-sama saling jujur semua enggak ada masalah.


"Ya gak bisalah gila, gue abaikan elo sebulanan ini aja. di rumah sawan gue." Jaesi melotot apa itu benar? seorang Jaeran sawan gara-gara dirinya. tanpa sepengetahuan mereka Darren pun ikut tersenyum saat tahu kalau mereka mulai berbaikan dan ia langsung saja pergi ke kamar Jaeril yang sudah menunggunya untuk main PS bersama hanya perlu sedikit drama buat menyatukan mereka lagi lalu selepasnya semuanya akan baik-baik saja.

__ADS_1


"Tipu kali loe." pemuda itu berdecak sebal ketika Jaesi gak percaya padanya, bisa dikatakan masalah yang ada sudah clear namun untuk penjelasan kepada Cilla bisa diurus belakangan. Jaeran tergelak seperti gak ada beban dan kembali memperlakukan gadis disampingnya layaknya pacar padahal hanya sebatas teman tetapi itu kaya gak ada hubungan apa-apa. gadis itu tertawa begitu lepas saat sahabat namanya kembali seperti dulu lagi dan gak tahu apa yang akan terjadi kalau keduanya benar-benar memiliki perasaan yang sama hanya karena keegoisan dari pihak cowok. Jaesi merasa ngantuk hanya karena dengarin curhatan dari Jaeran sampai gak sadar kepalanya jatuh ke pundak si pemuda, Jaeran mengambil satu momen berharga lagi dari berbaikannya mereka.


__ADS_2