Vilanian

Vilanian
11


__ADS_3

Bagi dua sahabatnya Jaesi terlalu berharga untuk lelaki seperti Marco walaupun sudah mengikuti kemauan sang kekasih, pemuda itu tetap tak mau mengalah dan mendekati gadis lain selain Vanilla, bahkan rumornya mereka berdua melakukan kegiatan victim disekolah mereka. Jaesi tersenyum miris lalu merogoh sakunya seraya mengetik satu nama yang membuatnya kesal, Marco selalu ada alasan untuk tidak mendatanginya ke kelas; lelaki itu juga banyak sekali pesan agar tidak terhubung dengan pemuda sebangkunya. "Pokoknya kamu jangan ajak ngobrol si Jae ya? Aku gak suka." Jaesi mendengus dingin ketika mendengar keinginan itu lagi, perempuan itu mengangguk tanpa memberikan jawaban pasti.


"Darren!" Panggil Jaesi yang langsung berlari menuju pemuda dimple itu, gadis itu menggamitnya dan juga melangkahkan kakinya cepat. "Jangan nengok kebelakang! Ada Marco." Ucapnya sambil tersenyum tipis, melihat itu Darren hanya menipiskan bibirnya sambil menyisir rambutnya kebelakang. Jaesi tersenyum lalu mendengus dingin ketika mendengar pertanyaan yang sama dari pemuda didepannya saat ini, tak mau mengalihkannya perempuan itu tertawa terbahak-bahak lalu merusak tatanan rambutnya, Darren menyipitkan matanya aneh saat melihat Jaeran mendatangi kantin namun tak menghampiri mereka. Jaesi tak habis pikir dengan persyaratan yang diajukan oleh sang kekasih, gadis itu hampir setiap malam menangis karena ia harus melakukan apa yang diminta Marco.


"Loe ada apa sama Jaeran?" Jaesi menolehkan kepalanya miring ke arah teman lelakinya itu, lalu mengusap wajahnya agak kasar. Perempuan itu bingung harus bagaimana menghadapi sikap Marco yang mulai posesif padanya, Darren terbelalak mendengar penuturan dari sahabatnya lalu mengepalkan tangannya kuat. Brakk! "Loe serius!" Jaesi mengangguk sambil terus mengunyah permen karet bubble gum miliknya.


"Seriusan, bahkan dia minta ketua kelas kita. Buat ngawasin gue, gila gak sih. Gue emang mau dia berubah jadi satu-satunya milik gue, tapi gue gak mau berkorban demi dia. Tapi gue gak mau putus sama Marco, sekarang gue harus gimana? Loe pikir ada jalan lain? Gak ada kan? Gue gak mau Marco jadi posesif gini tapi, gue ngerasa kalau ada yang salah sama mereka berdua."


"Siapa maksudnya?"


"Jaeran dan Marco," tutup Jaesi yang sudah melihat kedatangan sang kekasih didepan pintu masuk kantin, Darren menghela panjang sebenarnya tanpa Jaesi ketahui, lelaki berdimple itu telah menghubungkan pembicaraannya barusan dengan Jaeran. Jaeran tau semuanya tak terkecuali satu pun sejak semalam suntuk lelaki itu memikirkan apa yang ia dengar dari arah belakang pintu gerbang rumahnya.

__ADS_1


Pemuda dimple itu, menatap wajah Jaesi dalam kemudian melangkah menjauh dari gadis itu. "Terserah," ujar, Darren acuh dan bersikap abai pada perempuan yang kembali meneteskan air matanya lagi. Bel berbunyi sebagai penanda jam istirahat sudah habis, Jaeran bahkan tak berniat untuk melakukan kegiatan seperti belajar belum lagi dia harus latihan basket dan kegiatan lainnya yang akan sangat membosankan. Elin memanggilnya ke ruangan OSIS SMA Langit Sastra yang artinya akan ada penggalangan dana untuk sekolah mereka, lelaki itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan tersebut dan tak lama seorang gadis datang dari arah luar bersama cowok disampingnya. Tangan Jaeran mengepal erat pandangannya tak lepas dari arah belakang tubuh besarnya.


Rapat kala itu berjalan dengan lancar dan suasana menjadi begitu canggung saat mendengar celetukan dari salah satu anak kelas sepuluh, sesungguhnya pemuda itu tak bisa diam saja saat Jaesi lagi-lagi menjadi bahan pembicaraan mereka. Jaeran menjauh dari tempat itu dan langsung menarik pergi kakinya dengan cepat, pemuda itu hanya perlu mengeluarkan semua emosinya kala itu, Jaesi agak khawatir karena ia tidak melihat sahabatnya masuk ke dalam kelas. Jaesi bahkan masih tetap tidak bisa menghindari hal yang berhubungan dengan Jaeran, ataupun karena mereka bertetangga itu yang membuat pemuda tersebut selalu datang mengunjungi rumahnya. "Ren, loe di mana si? Gue khawatir," gumamnya lirih.


"Segitu khawatirnya? Yaelah dia cuma Dispen kali gak mati." Jaesi memutar bola matanya jengah dengan gurau Giska, tak berselang lama perempuan yang lagi menulis catatan sejarah, Giska bahkan tak mengerti dengan kondisi pertemanan keduanya yang sama-sama saling membelitkan hubungan antara zona pertemanan. Gadis itu tak banyak berkata-kata dan membenamkan wajahnya pada lekukan tangannya. Apa dia sekhawatir ini karena murni sahabatan?


Darren menelponnya tak lama setelah menyelesaikan tugas akhir mata pelajaran bahasa, lalu wajahnya tampak begitu menyesal karena telah mengkhawatirkan kondisi Jaeran yang tengah memandangi tubuh Cilla seraya tersenyum. Malu sekali rasanya. Mana tadi telponan sama Darren kaya orang kesetanan, "gue nyesel khawatirin elo!" Geram Jaesi yang langsung berjalan menuju kelas Marco.


"Tadi abis isoma ke mana? Kok aku gak liat?" Jaesi tersenyum sembari mengalihkan pembicaraan mereka, perempuan itu sedang tak bernafsu untuk membawa masalah yang sepele menjadi serius. Sedangkan lelaki itu sangat penasaran dengan apa yang ada dipikiran kekasihnya, langkahnya semakin lamban saat Marco tak kunjung menjawab pertanyaan tersebut. "Co, aku tanya lho," lirih Jaesi.


"Perpus kenapa emang?"

__ADS_1


"Gak Dispen emang?" Marco jelas mengerutkan keningnya saat mendengar penuturan dari Jaesi, apa tadi katanya? Dispen? Yang benar saja! Bahkan pelatih mereka tak datang mengunjungi sekolah hari ini.


"Kamu apa sih, pelatihnya gak ada. Makanya gak latihan." Sahut Marco agak kesal, Jaesi menghentikan langkahnya tepat dibelakang pacarnya lalu menatap punggung pemudanya yang semakin jauh dan hampir tak terlihat, lalu wajahnya menoleh secara tiba-tiba memandang ke arah lapangan yang masih terlihat begitu ramai orang. "Jaes! Ayo! Kamu gak lagi mikirin Jaeran kan?" Seru Marco yang membuat sang perempuan begitu terkejut.


"Gaklah! Apaan sih!" Kilah Jaesi yang langsung berjalan mendahului pemuda itu, Marco kembali menahan lengannya yang tengah berjalan secara terburu-buru, pemuda itu menatap wajah sang kekasih dengan intens dan juga tajam. "Apaan sih?!" Teriak Jaesi yang menangkis tangan pemuda itu.


"Kamu aneh tau gak," Marco terus saja mengganggunya walaupun tau jika sang kekasih sedang mencoba untuk menahan rasa kesalnya, "kalo mau marah ya udah gak apa-apa marah aja walaupun aku gak tau salah' aku apa." Jaesi tersentak ketika mendengar ucapan itu namun raut wajahnya berubah secara dramatis saat mendengar penuturan kekasihnya lagi. "Tapi kalo kamu kesel karena sahabat cowok kamu itu, jangan cari aku." Langkahnya semakin membuat hati sang gadis sakit.


"Kenapa kamu sebegitu bencinya sama Jaeran," lirih Jaesi yang dibalas ulasan senyum tipis oleh pemuda tersebut lalu wajahnya tampak begitu marah karena pemuda tersebut tak sangka kalau kekasihnya sendiri akan meragukan alasannya yang membuatnya seperti ini.


"Kamu mikir gak kenapa akhir-akhir ini pemuda yang kamu sebut sebagai sahabat itu lebih penting daripada aku? Lantas kalo aku balik keadaan itu gimana?" Jaesi semakin tak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan, "Jaeran, cowok itu gak anggap kamu sebagai sahabat kamu tau kan? Dan kamu juga gak anggap dia kakak. Kamu kira aku bodoh?" Jaesi tersenyum remeh namun demikian pemuda itu justru tak membalas lagi. "Kalian saling suka— nggak lebih tepatnya cuma kamu doang."

__ADS_1


__ADS_2