Vilanian

Vilanian
42


__ADS_3

"Sih goblok pake tanya lagi, salah lu banyak, Njae!?" Jaesi sudah sering banget kasih tanda apa cowok itu gak perhatian sama dirinya, kenapa Jaeran gak pernah peka? lelaki tuh sering banget mau di mengerti tapi gak mau pengertian sama dirinya. Marco juga suka kaya begitu ya walaupun jarang sekali menunjukkan sikap cueknya terhadap Jaesi, baru-baru ini mantannya tersebut mengajak nonton film bareng tetapi langsung tertolak dikarenakan gadis itu ada latihan.


"Ya sebutin Juleha!" sahut Jaeran kesal karena lama-lama Jaesi seperti orang yang minta dihalalin, Jaesi malas menyebutkannya karena kalau dirinya sebutkan satu-satu bisa sampai dua episode sendiri. gadis itu menghela lalu melirik panjang pada pemuda yang lagi mengukir senyum meledek, "kenapa? ketauankan cuma ngeles? biasa aja keles liatinnya!" cibir Jaeran.


"Njae, sehari gak bikin masalah bisa? kasian Darren nanti nungguin Njaes!"


"Ya bodoh amat. pokoknya hari ini gue mau sabotase acara loe titik gak pake koma."


"Jaeran bisa gak sih loe ngertiin gue?!" balas Jaesi dengan nada meninggi dan itu sontak saja membuat sang pemuda terkejut air wajahnya berubah begitu saja, tetapi tetap saja rasa egoisnya tinggi gak mau membagi Jaesi dengan siapapun termaksud Darren yang sahabatnya juga. Jaeran memberikan isyarat agar gadis itu menurut padanya lalu Jaesi mengambil buku dengan paksa, dan memincingkan matanya tajam. "ini mau belajar apa mandangin gue mulu!" rasanya bosan sekali karena Jaeran sama sekali gak melakukan pergerakan apa pun, bahkan semua panggilan dari Cilla cowok itu abaikan.


Jaesi memilih untuk belajar sendiri daripada menunggu sahabatnya bergerak dari peradaban. "Njaes tau gak sih?" Jaesi menggeleng tanpa memberikan respon lebih. "Njae sayang banget sama Njaes." cerocos cowok itu yang tetap di dengar sama si cewek karena sibuk nulis catatan.

__ADS_1


"Hn." ujar Jaesi sekenanya.


"Njae sebenarnya lebih mencintai Njaes daripada Cilla." Jaesi keselek air liurnya sendiri lalu menolehkan kepalanya cepat seraya menanyakan hal itu lagi agar memastikan apa yang ia dengar barusan tidak salah, namun rupanya Jaeran hanya membungkam dan gadis itu menarik kesimpulan bahwa dirinya salah mendengar. Jaeran menghela lega lalu menolehkan kepalanya melihat jam.


"Huh?!" cowok itu menggeleng cepat. Jaeran beranjak lalu mengulum bibirnya sedikit basah kemudian mengecup pipi Jaesi sekilas, gak tau kenapa pemuda itu sering memberinya sentuhan skinship, tapi Jaesi gak memikirkan arti sentuhan itu yang terpenting adalah ia bisa pergi ke rumah Marco. "dasar cowok gak berperasaan," ucap gadis itu yang mencebikkan bibirnya kesal lalu melengos keluar dari kamar sembari menguncinya. Jaeril sudah menunggunya di depan rumah tinggal gas saja ke arah rumah Marco sang mantan pacarnya.


Setibanya di sana Jaesi disambut sama mama Marco yang menyangka bahwa Jaesi masih menjalin hubungan dengannya. "Jaes, masuk yang lain udah di dalam. lama gak main ke sini. yang terakhir kali itu Marco bawa temannya mama gak suka sama dia," curhat wanita cantik itu. Jaesi tersenyum canggung bagaimana ya lagi saat mereka sudah mengakhiri hubungan kenapa ibu dari mantan kekasihnya itu malah berharap mereka berdua terus.


"Ah, iya, tante." sahut gadis itu canggung sebenarnya mama Marco baik dan gak memandang kasta walaupun suaminya itu adalah seorang pengusaha kaya, tetapi entah mengapa sifat mamanya Marco gak ada tercermin ke diri kedua anaknya.


"Mama ngomong apaan?"

__ADS_1


"Gak bilang apa-apa."


"Gak bohongkan? kenapa pas nyokap minta buat ngajak main dan elo gak nolak? kita udah selesai." Jaesi diam saja dadanya masih saja sakit padahal memang begitu kenyataannya, Jaesi mana mungkin menyakiti hati orang tua. itu sama saja seperti menyakiti hati ibunya sendiri, gadis itu jadi termenung dalam diamnya namun saat melihat wajah Marco yang serius Jaesi gak bisa mengatakan apa pun. mereka memang sudah selesai tapi apa silaturahmi saja gak boleh? Marco mengkhawatirkan hal yang gak perlu sama sekali tetapi tetap saja itu membuat Jaesi merasa gak nyaman. "gue gak mau elo merasa risih karena hal sepele kaya gini," helaan berat keluar dari keduanya.


Darren belum sampai juga entah ke mana pemuda berlesung pipi itu pergi sehingga gak tepat waktu seperti ini. "gue bukannya gak mau nolak, tapi loe pikir gampang buat nolak? kagalah! kenapa gue gak nolak, gue berpikir hubungan kita bisa aja selesai tapi hubungan tante sama gue gak akan pernah selesai." jelas Jaesi yang pergi dari depan tangga, seketika Marco menyesal memutuskan hubungan sama Jaesi tapi tawaran balikan pada saat balapan itu masih Marco bertimbangkan. Jaesi banyak berpikir sembari memerhatikan punggung Marco yang lebar, gak ada hak buat dirinya memandang tubuh atletis mantannya.


"Tawaran gue waktu itu masih berlaku sampai saat ini." singkat pemuda yang melangkahkan kakinya naik ke atas tangga, Jaesi cuma diam sembari mengikuti jejak langkah kaki sang empunya rumah. "gue bukan tanpa alasan ngajak elo balik lagi, karena waktu itu gue pikir lagi mendesak jadi gak pikir dua kali buat nolongnya." lalu? kenapa kalau ia mengajaknya balikan gak langsung diterima sama si mantan? kenapa harus drama dulu.


"Kenapa harus drama dulu?" ketus gadis itu mendesis sebal, ya walau bagaimanapun ini hati bukan kos-kosan.


"Kenapa gak loe tanya aja sama sahabat tercinta elo itu?"

__ADS_1


"Apa hubungannya!" Marco terkekeh meremehkan jelas saja dulu mantan Jaesi ini jauh memiliki segalanya ketimbang Jaeran yang cuma mengandalkan kata persahabatan, gak hanya itu bahkan mereka berdua saingan ketat sekali. "loe kalo ngomong jangan setengah-setengah!" lanjut Jaesi yang kesal karena Marco gak mau melanjutkan pembicaraan mereka. Jaesi terlanjur penasaran sama kisah masa lalu yang gak pernah dirinya tau selama ini, arti hubungannya selama ini dimata Jaeran bukan sahabat tapi cowok ke ceweknya begitulah isyarat yang Marco tangkap selama dekat dengan Jaesi. namun gadis ini gak mengerti sama sekali itu bukan karena Jaesi gak peka tetapi hal itu terlalu tertutupi sama kisah persahabatan mereka, mulus sekali bukan.


Marco membasahi bibirnya, "elo mau tau?" Jaesi mengangguk pelan lalu sang pemuda bercerita tapi gak sepenuhnya ia ceritakan sebagian besar saja. Jaesi tertegun saat mendengarnya lalu berharap itu cuma kebohongan doang. "jadi apa elo masih mau balik sama gue? gue bakal bantu lagi supaya loe move on dan dia juga melupakan elo dengan syarat kita sama-sama gak saling berhubungan sama orang lain. gimana?" Jaesi gak mudah percaya, hey! Marco itu ulung dalam mengelabui dirinya jadi Jaesi tau kapan harus memercayai perkataan mantannya itu.


__ADS_2