
🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK SEMUANYA.🌹
🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLW DI : @REDLILY123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN SEMUA.🌹
Medina lupa waktu, dia menghabiskan detik detik kebersamaannya bersama dengan Robert. medina mendatangi tempat tempat yang begitu menkjubkan, diajak ke pesta pesta para orang orang kaya yang membuat Medina dikenal di kalangan orang orang itu.
Medina merasa dirinya diinginkan kembali, bagaimana Robert memperlakukannya dengan sangat baik dan juga penuh kasih sayang.
Perlahan hal itu membuat Medina terbuai. Dia menginginkan Robert terus menerus, apalagi sudah lama Medina tidak bercinta. Dan Robert memberikan semua yang dia butuhkan.
Seperti sekarang, Robert bahkan membelikannya sebuah mobil dari range rover keluaran terbaru.
“Kau yakin hanya ingin ini?”
“Kau yakin membelikannya untukku?”
Robert mengangguk. “Bawa semua yang kau inginkan, Medina sayang. Aku tidak akan sedih jika kau menghabiskan uangku. Ah, aku lupa… uangku tidak akan habis.”
Medina tersenyum dan memeluk Robert dari samping. “Kau akan mengirim mobil itu ke Swiss?”
“Apapun, bahkan jika kau menginginkan bangunan ini. aku akan mengirimnya ke Swiss.”
Medina tertawa malu, matanya melotot saat Robert mengeluarkan black card miliknya. Ternyata mantan pacarnya ini semakin kaya saja, yang mana membuat Medina sedikit goyah dan melupakan Luke.
“Ayo kita makan siang, apa yang kau inginkan?” tanya Robert begitu mereka berada di dalam mobil.
“Kau terus mengajakku jalan jalan di sini padahal urusanmu sudah selesai, ada apa? Kau merencanakan sesuatu?”
“Satu satunya rencanaku adalah merubah pikiranmu terhadapku. Dulu aku memang seorang pria yang….”
“Bajiingan?”
Robert mengangguk. “Tapi sekarang tidak lagi, aku benar benar mencintaimu bahkan jika kau tidak membalas cintaku padamu. Aku rela, asal kau bahagia.”
Medina tersenyum, dia tersipu malu. “Apakah jika aku bercerai dengan Luke, kau akan tetap seperti ini?”
“Kau bercanda? Tentu saja iya, aku akan menjadikanmu wanita paling bahagia di muka bumi ini.”
Lama Medina terdiam, berfikir keras. Sampai akhirnya dia mengangguk. “Kalau begitu bantu prosess perceraianku dengan Luke.”
Robert mengangguk senang, dia memeluk Medina seketika. “Tentu, Sayang. Aku akan membantumu, aku senang kau menjadi milikku.”
Sementara pikirannya mengatakan hal lain, ‘Aku senang kau masuk ke dalam jebakanku, wanita matre,’ batin Robert bahagia.
🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
Luke menatap pantulan dirinya di cermin. Sudah sangat tampan, dengan tampilan segar. Dirinya baru saja mandi, dengan kaos oblong dan celana selutut berwarna abu abu. Sekarang siapa yang akan menikmati ketampanannya? Karena Rara begitu sibuk bersama putra mereka di kamar lain. Bahkan tidak mengizinkannya masuk.
Helaan napas keluar dari mulut pria itu, dia memasuki kamar bayi milik Lucas. Keningnya berkerut melihat beberapa barang dan mainan Lucas yang tidak ada di tempatnya.
“Kemana semua itu?” tanya Luke sambil menunjuk.
“Nyonya Rara membawanya ke kamar lain, Tuan.”
Astaga, apa Rara benar benar akan membawa Lucas hanya untuknya? Ada rasa iri untuk Luke sendiri, dia tidak ingin sendirian. Apalagi dia merindukan gangguan gangguan yang selalu Rara lontarkan untuknya.
Terlebih lagi, malam sebelumnya Luke tidur tanpa memadu kasih dengan Rara. Berharap malam ini dia bisa melakukannya. Tapi….,
TOK. TOK.
“Sayang, bisakah aku masuk?”
“Tidak, Lucas sedang tertidur.”
“Aku ingin menemuimu.”
“Kemarin kau bilang memiliki banyak pekerjaan, aku tidak ingin menggangumu,” ucap Rara dari dalam sana, dengan begitu santainya.
Luke merasa kehilangan, jelas dia takut Rara akan seperti itu selamanya. Maka dari itu, Luke bergegas pergi ke kamarnya, memakai parfume dan merapikan rambutnya supaya dirinya terlihat lebih tampan.
Luke berdehem, rasanya sudah cukup. Jadi dia menelpon Rara melalui video call. Sayangnya, suara dering telpon itu ada di laci, yang membuat harapan Luke putus seketika.
“Tuan, maaf mengganggu. Apakah anda ingin dimasakan sesuatu untuk makan malam?”
“Baik, Tuan.”
Percuma Luke mengetuk pintu, Rara selalu memiliki cara untuk mengusirnya. Dan suara tawa, tangis Lucas terdengar oleh Luke saat dia duduk sendirian di balkon. Kamar utama dan kamar tamu hanya terhalang dua ruangan.
Luke menatap dari balkon, bagaimana jendela di sana terbuka. Jika saja dia memiliki balkon yang saling terhubung, Luke akan memaksa untuk ke sana.
Harapannya adalah saat makan malam tiba, Luke akan membuat Rara keluar lalu menggodanya supaya kembali jatuh ke dalam pelukannya.
Luke turun ke lantai bawah begitu mencium aroma wangi. “Sudah siap?”
“Iya, Tuan. Tinggal hidangan penutupnya.”
“Panggilkan Rara ke bawah.”
Pelayan itu pergi untuk memanggil majikan perempuannya, tapi dia malah turun seorang diri.
“Kemana Rara?”
“Nyonya meminta makan di kamar, Tuan.”
__ADS_1
Ada yang salah, dan Luke tahu itu. “Biar aku yang membawakannya, tolong kau siapkan.”
“Baik, Tuan.”
Jantung Luke berdetak kencang, kenapa Rara mengindarinya? Apakah…. Ingatannya? Tidak tidak, Luke menggelengkan kepalanya memusnahkan pikiran negative itu. Tapi bagaimana jika Rara benar benar mengingatnya? Itukah alasan dia menjauhinya dan memberi jarak antara Lucas dengannya? Luke tidak akan bisa hidup jika Rara berniat untuk menjauhinya.
“Kate?”
“Iya, Tuan?”
“Apa ada yang aneh dengan Rara? Kenapa dia menghindar?”
“Nyonya hanya ingin melakukan Quality time bersama Tuan Lucas, itu yang saya tahu, Tuan.”
“Tapi tidak mungkin sampai menghindariku,” gumam Luke dengan fikiran negative mulai mengambil alih.
“Ini makan malamnya, Tuan.”
Luke menerima nampan itu.
“Tuan, biar saya saja yang membawakannya,” ucap Kate.
“Tidak, Kate. Tapi kau harus ikut aku agar Rara membuka pintunya.”
“Maaf?”
“Aku maafkan, ayo ikut aku.”
Kate malakukan apa yang diminta oleh Luke, dia mengetuk pintu kamar Rara dan berbicara kalau makan malam telah dibawakan.
Ketika pintu kamar terbuka, Luke bergegas masuk, menyimpan nampan di meja dan menatap Rara yang masih syok dengan tubuh besar Luke yang tiba tiba masuk.
“Akhirnya….,” ucap Luke kemudian mendekati Rara. “Kenapa kau mengindariku? Ada yang salah denganku?”
Begitu Luke memegang kedua bahu Rara, perempuan itu menangis sejadi-jadinya, dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
“Hei, ada apa? Apa aku berbuat salah? Tolong jangan seperti ini, Rara. Katakan saja, tapi tolong jangan menghindariku, jangan pergi jauh dariku apalagi membawa Lucas.”
Tangisan Rara semakin kuat.
“Rara, kenapa? tolong… apa kau…?”
“Kau… hiks… sangat tampan… hiks…”
“Apa?”
“Aku… hiks… ingin berduaan dengan Lucas… hiks… karena jika melihatmu… aku… aku selalu….. basah…. Bahkan… hiks… sekarang aku ingin memperkosaamu…. Di sini…. Kenapa kau sangat tampan… kau juga… memakai parfume satu botol? Itu… membuatku bergairah!”
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹
TO BE CONTINUE