Wanita Simpanan CEO

Wanita Simpanan CEO
Telpon Masuk


__ADS_3

🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK SEMUANYA.🌹


🌹IGEH EMAK JUGA JANGAN LUPA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN SEMUA. JANGAN LUPA AJAK YANG LAIN UNTUK INI YA.🌹


Rara mulai khawatir karena kekasihnya itu tidak kunjung mengangkat telponnya, yang mana membuat Rara memejamkan matanya. “Apa dia tidak merindukanku? Kenapa dia tidak mengangkat telponku?”


Dan Kate melihat itu, bagaimana majikannya begitu mengkhawatirkan pria yang dicintainya. “Nyonya, anda ingin sesuatu?”


“Tidak,” ucap Rara sambil memeluk Lucas. “Dia pasti sangat merindukan daddy nya.”


“Saya mungkin belum bekerja cukup lama dengan Tuan Luke, tapi saya rasa dia adalah pria yang bertanggung jawab, termasuk pada pekerjaannya.”


“Apakah aku terlalu kekanak-kanakan?”


“Tidak, Nyonya. Itu bentuk khawatir seorang istri pada suaminya,” ucap Kate yang sampai saat ini juga belum mengetahui kebenarannya.


“Aku bosan, Kate.”


“Anda bisa memesan barang barang yang anda inginkan lagi.”


“Aku ingin keluar dari sini, berjalan jalan ke tempat baru, tapi Luke tidak mengizinkan aku jika tidak bersama dengannya.”


“Maka dari itu sebaiknya anda mencari kesibukan yang lain, bagaimana dengan membaca di perpustakaan?”


Rara menatap lantai atas dimana perpustakaan berada. “Melihatnya dari kejauhan saja membuatku mengantuk,” gumam Rara yang memang bukan penikmat buku.


“Aku ingin jalan jalan keluar, Kate.”


“Tapi anda tidak diizinkan untuk itu, Nyonya. Maafkan saya.”


“Maksudku di sekitaran hutan ini,” ucap Rara memberikan Lucas pada pengasuhnya. “Tolong jaga dia.”

__ADS_1


“Baik, Nyonya.”


“Nyonya, anda harus ditemani.”


“Kate aku hanya duduk di bawah pohon besar itu, jangan khawatir. Kau tahu dimana jika harus mencariku.”


Lewat jalan belakang, Rara keluar dari benteng itu, dia menghela napas dalam. Di usianya yang sekarang, Rara selalu ingin bermain main dan menjelajah tempat baru. Memang sulit menerima kenyataan kalau dirinya sudah memiliki keluarga.


Namun, itu terpatahkan saat mengingat Luke.


Terdiam sesaat, Rara berteriak, “Aku mencintaimu, Luke! Aku mencintaimu! Kau pria seksi! Aku menyukaimu apapun yang kau lakukan!”


Kemudian Rara menutup wajahnya, dia malu dengan hati yang meletup letup memikirkan pria itu. “Dia seksi, aku mencintainya.”


🌹🌹🌹🌹


Medina mabuk berat, itu yang membuat Luke tidak focus. Apalagi banyak tamu di sini, yang mana membuatnya harus terlihat peduli pada wanita di sampingnya.


“Sebaiknya kau bawa dia, Luke. Tidak apa meninggalkan pesta lebih awal.”


“Ya.”


Luk membopong Medina menuju mobil mereka. Dalam langkahnya Luke bertanya, “Kenapa kau bisa mabuk? Kenapa minum banyak?”


“Aku mempermalukanmu?” tanya Medina kemudian….


“HOEKKK!”


“Oh astaga!” teriak Luke saat Medina memuntahi jasnya.


“Hehehe, maaf. Aku yang akan mencucinya, kemarikan,” ucap Medina mencopot paksa jas Luke dan memeluknya.


Luke yang melihat itu langsung menidurkan Medina di kursi belakang, sementara dirinya di depan bersama dengan Dev.

__ADS_1


“Dia mabuk?”


“Ya, kau yang membawanya ke kamarnya, aku malas.”


“Baik, Tuan.”


Dan tanpa diketahui oleh Luke, ternyata Medina itu tidak mabuk. Dia hanya menjalankan rencana licik yang ada dalam otaknya.


Pura pura muntah sambil memeluk jas Luke adalah salah satunya, yang mana membuat Dev terpaksa menggendongnya dan membaringkannya di kamarnya.


“Pergi! Aku ingin tidur!”


Dev keluar sebelum mengatakan sepatah kata pun.


Setelah pintu tertutup, Medina membuka matanya seketika. Dia menyunggingkan senyumannya dan berdiri sambil mengusap bekas muntahannya sendiri.


Medina merogoh ponsel milik Luke dari dalam saku jas.


Seolah waktu berpihak padanya, ada telpon masuk. Dan itu dari Rara.


Membuat Medina tertawa, dia tidak harus bingung membuka password dari ponsel Luke.


Medina mengangkatnya begitu saja.


“Hallo?” tanya Rara dari sana. “Kemana saja kau? Kau tega mengabaikanku? Aku merindukanmu, pria tampan.”


Medina mengerutkan keningnya dengan tingkah Rara. Apa yang terjadi dengannya? Kenapa dia seberani ini. atau memang ini sifat aslinya.


Medina tertawa di sana.


“Aku Medina, dan kau menelpon nomor suamiku, jal@ng sialaaan!”


🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


TO BE CONTINUE


__ADS_2