
Kakek Nobles melihat dari kejauhan, bagaimana Luke menggendong Lucas dengan penuh kasih sayang. Pria itu telah tumbuh menjadi sosok dewasa, menjadi pria yang bisa diandalkan dan juga memiliki kasih sayang yang begitu melimpah untuk keluarganya.
Kaki pria tua itu melangkah, mendekati sosok cucunya yang sedang memandang pekarangan belakang rumah mereka di Desa Guarda. Ya, mereka telah kembali. Untuk mempersiapkan pernikahan yang pro dan kontra antara Luke dan Rara.
Luke ingin pernikahan yang megah, sementara Rara hanya ingin mengucapkan janji suci di altar. Itu sudah lebih dari cukup untuknya. Rara tidak ingin menjadi pusat perhatian, dia hanya ingin hidup bersama dengan Luke.
Dan itu akan diadakan di gereja yang ada di pedesaan, Luke akhirnya menyanggupi keinginan Rara untuk melaksanakan pesta kecil saja. tidak ingin bertengkar dengan sang istri, Luke memilih menghabiskan waktu di halaman belakang rumahnya yang ada di tengah hutan.
Mendengar suara langkah kaki, Luke menengok. Mendapati Kakek Nobles yang ikut duduk di bangku panjang di sampingnya.
“Enaknya bisa menikmati matahari terbenam di sini,” puji Kakek Nobles, kemudian menatap Lucas yang terlelap dalam gendongan Daddy nya. “Maafkan Kakek.”
“Maaf untuk yang mana?” tanya Luke penasaran,
“Untuk semuanya, terutama aku yang menentang dirimu dengan Rara.”
“Tidak apa.”
“Kakek menyesal.”
“Aku tau.”
“Asal jangan bantu Rara lagi melarikan diri dariku.”
Kakek Nobles berdehem, dia merasa sangat bersalah akan hal itu. Bukan hanya pada Luke, Kakek Nobles merasa bersalah dengan uangnya yang terkuras habis. “Kau akan menjadi suami yang hebat. Jangan pedulikan apa yang mereka bicarakan di luar sana.”
“Yang aku pedulikan hanyalah Rara dan Lucas.”
Kakek Nobles mengangguk. Berita perceraian Luke dan Medina sudah keluar, mereka telah resmi berpisah dan membuat public heboh. Ditambah lagi dengan Medina yang mundur dari dunia hiburan dan menghilang begitu saja.
“Dimana kau akan tinggal setelah resmi menjadi suaminya, Luke?”
“Rara menyukai tempat ini, aku rasa tiap akhir pekan kami akan ke sini. Dan Kakek? Nenek bilang dia akan membawa Kakek ke Minesota.”
“Well, apapun untuk orang yang kita cintai bukan?”
“Apapun untuk orang yang kita cintai.”
Kakek Nobles mengusap rambut Luke dengan penuh kasih sayang. “Orangtuamu akan bangga padamu.”
****
__ADS_1
“Kate! Ayo cepat!” teriak Rara saat dia tiba di rumah. Dia benar benar merindukan Luke setelah melakukan persiapan perniakahan ini.
Kakinya membawanya masuk ke dalam rumah, mengedarkan pandangan pada sekitar. Ada sedikit rasa asing mendapati rumah begitu ramai. Kakek Nobles dan istrinya, Dev dengan pekerjaannya, Luke bersama putranya, Kate dan para pelayan yang membantu. Rara sangat menyukai hal ini.
“Kate, ayo susun makanannya.”
“Baik, Nyonya.”
“Apa saja yang kau beli, Rara?” tanya Nenek masuk ke dapur dan melihat apa yang dibeli Rara. “Daging sapi?”
“Kita akan langsung mengadakan pesta dengan orang orang desa begitu pernikahan selesai.”
“Ide yang bagus. Mari Nenek bantu bumbui.”
“Terima kasih, Nenek. Bisa aku berikan tugas ini padamu? Aku ingin melihat Luke.”
“Dia ada di kamarnya.”
Rara langsung berlari kencang, tidak mempedulikan ucapan Kakek Nobles yang memberinya peringatan untuk lebih hati hati.
“Dasar bocah,” gumam Kakek Nobles melihat tingkah Rara.
“Luke…., apa kau merindukanku? Seharian ini aku keluar..”
Tidak ada jawaban dari bibir suaminya. “Luke?”
“Hmmm?”
“Bangun,” ucap Rara memaksa, bibirnya masih berusaha membangunkan suaminya dengan ciuman. “Jangan tidur, kita akan makan malam. Nenek sedang memasak, ayo bangun.”
Akhirnya Luke membuka matanya dan melihat sosok yang sangat dia rindukan. “Aku lelah, seharian ini aku mengasuh Lucas.”
“Lusa kita akan menikah, jaga kesehatanmmu. Aku tidak mau pengantin priaku pingsan saat berada di altar,” ucap Rara yang kini duduk di atas perut bawah Luke yang masih terlentang. Bahkan Rara menggoyangkan pinggulnya dan sesekali berkata, “Ahh……, ini menyenangkan. Jika kau sakit kau tidak akan mendapatkan ini, Luke.”
“Oh Tuhan, hentikan ini, Rara.”
“Aku juga merindukanmu,” ucap Rara membuka kaos bagian atasnya kemudian menunduk mencium bibir Luke. “Malam ini aku akan membuatmu terjaga.”
Yang mana malah membuat Luke tertawa. “Jangan bercanda, terakhir kali kita melakukannya kau menangis.”
Rara mengerucutkan bibirnya kesal sambil menghela napas malas. “Itu karena…. Um….. karena aku sedang tidak vit. Ayolah kita lakukan ini, makan malam satu jam lagi. Kita bisa melakukannya.”
__ADS_1
*****
Nenek sudah menyiapkan makan malam dengan porsi yang sangat besar mengingat rumah ini dipenuhi oleh banyak manusia sampai hari pernikahan tiba. “Semuanya, makan malam siap.”
Dan benar saja, yang bisa mengumpulkan manusia hanyalah makanan. Membuat Nenek mengerutkan keningnya ketika tidak menjumpai Rara dan Luke. “Tolong panggilkan Rara dan Luke, Kakek.”
Kakek Nobles yang tinggal lima centi untuk duduk itu kembali menegakan tubuhnya. “Baik, Nenek.”
Pria tua itu menaiki tangga menuju kamar cucunya. “Aku juga merindukan Lucas, apa Lucas sedang bermain bersama kedua orangtuanya?” tanya Kakek Nobles pada dirinya sendiri.
“Pasti mereka bertiga sedang menumpahkan kerinduan selama seharian ini tidak berkumpul.”
Namun saat Kakek Nobles hendak mengetuk pintu, dia mendengar suara;
“Stop it! Akhh…, Luke please… stop… don’t do that. Luke.”
Kakek Nobles menelan ludahnya kasar. Dia mengetuk pintu.
TOK. TOK. TOK.
“Luke, ini Kakek. Nenek menyuruh kalian makan malam.”
“Sebentar kakek!”
“Itu kakek, hentikah! Akkhhh!”
Kakek Nobles menyilangkan tangannya di dada sambil berkata, “Tolong buang pikiranku yang itu, Tuhan.”
Dan beberapa detik kemudian Luke keluar dengan Lucas yang sudah bangun di pangkuannya. “Tolong bawa dan awasi dia. Aku ada urusan dengan Rara.”
BRAK! Luke kembali menutup pintu. Disusul dengan suara Rara yang mengatakan, “Ampun… uh…. Aku janji tidak akan menggodamu lagi…. Akh… perih, Luke… sakit…. Geli! Oh my….. akkkhhhh!”
Kakek Nobles menelan ludahnya kasar, dia mengusap telinga Lucas. “Tidak apa, Kakek ada di sini untukmu.”
Sebelum pergi, Kakek Nobles memukul pintu dan berteriak, “Jangan kelewatan, Luke! Kalian akan menikah lusa.”
“Kakek! Tolong Rara! Panggilkan 119! Kakek!” teriak Rara dari dalam sana.
****
TO BE CONTINUE
__ADS_1