Wanita Simpanan CEO

Wanita Simpanan CEO
Season 2 : Cerita masa lalu


__ADS_3

🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK SEMUANYA🌹


🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123🌹


🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN SEMUA🌹


“Lucas, apa kau suka tempat ini?” tanya Rara yang sedang mengikuti langkah sang putra menelusuri villa ini, berbeda dengan sang suami yang tengah berbincang dengan penjaga villa.


“Mom, kita akan tinggal di sini?” tanya Lucas berhenti melangkah untuk sesaat, di depannya ada koridor panjang menuju sebuah ruangan yang gelap. Bocah itu merasakan sendiri bagaimana mencekamnya suasana di villa ini, dia sedikit tidak suka.


“Tidak, kita hanya akan membelinya dan menempati tempat ini jika sedang berlibur.”


“Tapi Lucas lebih suka berada di hotel saja.”


“Kenapa memangnya?”


“Di sini menyeramkan,” ucap Lucas merentangkan tangannya meminta digendong sang mommy. Yang membuat Rara tersenyum sebelum menggendong Lucas. Tangan putranya menunjuk ruangan di ujung koridor. “Tempat itu menyeramkan.”


“Ayo ke sana,” ucap Rara yang merasa tertantang, yang dia yakini adalah ketakutan membuat seseorang lemah. Dia ingin memastikan tempat itu tidak seburuk yang putranya fikirkan.


Dan saat membuka ruangan di ujung lorong yang ada di lantai dua, Rara mengerutkan keningnya saat tirainya tertutup.


“Mom, takut,” ucap Lucas memeluk sang Mommy.


“Tidak ada apa apa di sini, Sayang.” Rara menenangkan sambil membuka tirai, membiarkan cahaya matahari masuk. “See, tidak ada yang harus ditakuti.”


Sebuah kamar, terdapat ranjang kecil yang tersisa. Beserta gambar-gambar boneka di dinding kamar. “Sepertinya ini kamar anak kecil.”


Saat itulah Lucas memberanikan diri melihat sekeliling, tidak terlalu menyeramkan. Hanya saja suasananya begitu tidak menyenangkan. “Lucas tidak mau di kamar ini, ingin dikamar satunya.”


“Ya, kamar ini memang agak aneh. Sendirian di ujung koridor, kita harus melakukan beberapa perubahan.”


“Lucas ingin menemui Daddy.”


Rara melihat keluar jendela, tepat dimana sang suami berada di sana. “Lihat itu Daddy, langsung temui dia oke?”

__ADS_1


“Oke.”


Rara memberikan kecupan di pipi sang putra sebelum menurunkannya dan membiarkannya berlari mencari sang Daddy. Sementara dirinya masih terdiam di sana, melihat sekeliling. Dekorasi kamar ini membuat Rara yakin kalau anak dari Medina juga berada di sini sebelumnya.


Saat jemari lentiknya menyentuh dinding, ada rasa bersalah menyerang Rara. Kasihan pada sang bayi yang berakhir tidak memiliki sosok Mama. Apa kabar dengan ayahnya? Rara yakin jika ayahnya bertanggung jawab, Medina tidak akan kembali pada Luke dan meminta pertanggung jawabannya.


“Nyonya?”


“Astaga!” Rara berteriak kaget dan menoleh, mendapati wanita tua yang menjadi penjaga villa di sini. “Jangan membuatku serangan jantung.”


“Maaf, Nyonya. Saya membuat sencha, apa anda ingin menikmatinya?”


Rara mengangguk dan keluar dari kamar itu. “Sudah lama aku tidak meminum sencha buatan rumahan.”


🌹🌹🌹🌹🌹


“Bagaimana?” tanya sang penjaga villa saat tamunya mencicipi teh buatannya.


Rara tersenyum. “Ini enak.”


“Senang rasanya ada yang menyukai teh ini, Nona Medina tidak pernah menyukainya.”


“Apa yang anda ingin ketahui, Nona?”


“Hmmm…., dia bunuh diri?”


“Ya, dia membunuh dirinya sendiri. Saya pikir Nona Medina baik baik saja, mengingat dia sering berganti-ganti pasangan dan mendapatkan banyak uang dari mereka.” Sang penjaga menyeruput teh-nya. “Tapi suatu malam dia sepertinya bertengkar dengan seseorang, kemudian keesokan harinya saya mendapati dia terbujur kaku, begitupun dengan anaknya. Beruntungnya bayi 2 tahun itu masih bisa diselamatkan.”


“Bagaimana keadaannya sekarang? dimana bayi itu?”


“Saya dengar Nona Haimee bersama keluarga Nona Medina.”


“Haimee? Namanya Haimee?”


“Sebenarnya saya yang menamainya seperti itu, Nona Medina sepertinya tidak menerima kehadirannya sampai dia tidak pernah mengurusnya. Hanya mengandalkan pengasuh saja.”

__ADS_1


“Dia tidak memberi nama anaknya?”


“Sejujurnya saya tidak tahu, dia selalu mengatakan bahwa kami bisa memanggil apapun pada anak perempuan itu.”


Rara terdiam, malang sekali nasib anak itu. Melebihi dirinya sendiri.


“Nona Medina memenuhi semua kebutuhan Nona Haimee, hanya saja dia tidak pernah mengurusnya.”


“Bukankah dia masih butuh asi?”


“Ya, tapi Nona Medina tidak pernah memberikan miliknya. Bayi itu memakai susu formula.”


Rasa bersalah Rara semakin besar, dia berperan penting dalam kehidupan bocah itu. “Apa dia punya sosok yang dipanggil ayah?”


Wanita tua itu menggeleng. “Hanya kekasih Nona Medina yang datang dan berganti-ganti.”


“Dia benar-benar tidak menganggap anak itu? Kasihan sekali.”


“Ya, sangat menyedihkan. Pernah satu kali Nona Haimee menangis kencang karena demam, Nona Medina yang mabuk memukulnya kencang. Sejak saat itu saya berinisiatif memindahkannya ke kamar di ujung lorong supaya tangisannya tidak terdengar lagi.”


“Apa dia sering melakukan kekerasan pada anaknya?”


“Hanya hari itu saja, Nona.”


“Apa kau tidak khawatir kehidupan bocah itu sekarang?”


Sang penjaga Villa hanya menghela napasnya dalam. “Pengadilan sudah memutuskan, mereka berhak mengurusnya.”


🌹🌹🌹🌹


 


 


TO BE CONTINUE

__ADS_1


 


 


__ADS_2