
🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE Y ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK🌹
🌹IGEH EMAK : @REDLILY123🌹
🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN🌹
"Kalung apa itu, Tuan?" Tanya Dev saat Luke masuk ke dalam mobil.
Luke menatapnya. "Dari penggemar Medina," ucapnya sambil memasukannya di saku belakang jok. Dia bahkan malas membahasnya, orang orang yang merupakan penggemar Medina mengetahui dirinya.
"Besok kau tidak perlu datang, aku akan membawa mobil sendiri."
"Baik, Tuan."
"Untuk pertemuan itu, kau yang ambil. Aku akan memeriksa hasilnya."
"Baik, Tuan," ucap Dev. "Dan Tuan Nobles ingin bertemu dengan anda."
"Aku ingin berhenti menemuinya untuk beberapa saat. Suruh dia tidak menunggu kedatanganku, katakan saja aku sangat sibuk."
"Baik, Tuan. Dan aku dengar keluarga besar Medina akan melakukan pertemuan."
"Ya, dan aku malas ikut."
"Dia akan melakukan segala cara agar kau bisa ikut, Tuan."
"Aku tahu. Kenapa enam bulan terasa seperti enam tahun untukku, aku ingin dia mengakhiri sesuai perjanjiannya."
Dev merasa kasihan, tapi tidak ada yang bisa dia lakukan. "Bagaimana poin lainnya?"
"Kami hanya berakting suami istri di depan orang orang tertentu."
"Selama kau bisa pulang pada Rara dan melihat Lucas, aku rasa itu sudah cukup, Tuan. Mereka bisa menguatkanmu."
"Kau benar," gumam Luke.
Saat dia melihat keluar jendela, dia mendapat panggilan dari Kakek Nobles. Luke segera mengangkatnya.
__ADS_1
"Hallo?"
"Kau bilang akan menemui Kakek, kenapa tidak?"
"Aku sibuk, Kakek."
"Kau ke rumah wanita simpanan itu?"
"Rara, namanya Rara."
Kakek Nobles berdecak di sana, yang mana membuat Luke menghela napasnya dalam. “Aku akan ke sana lain kali.”
“Kapan?”
“Aku tidak bisa memberi janji.”
“Ingat, Luke. Sampai kakek matipun, kalian tidak akan kakek restui meskipun kau sudah punya perusahaan jauh lebih besar. Jika kau ingin bersamanya, maka tunggu kakek sampai mati.”
Luke kembali menghela napas dalam. “Tolong jangan buat aku memohon agar kakek cepat meninggal.”
“Oke, akan aku tutup telponnya, Kakek.”
“Cobalah untuk memberi Medina kesempatan.”
Luke menarik napasnya dalam. “Kakek tahu dia orang seperti apa.”
“Mungkin kalian cocok.”
“Jika kakek ingin menemuiku dengan alasan Medina atau Rara, aku memiliki urusan lebih penting. Jaga dirimu, Kakek.”
Luke menutup telponnya. Dia menarik napas dalam dan mencoba tenang apalagi mobil mulai memasuki desa Guarda.
🌹🌹🌹🌹
“Kau lihat gelembung itu, Kate?”
“ya, Nyonya.”
__ADS_1
Rara tertawa puas. “Apa sepertinya hobbyku memasak tujuh tahun ini?”
Kate tersenyum melihatnya, apalagi berbagai telur gosong yang menjadi bahan percobaan. Sepertinya kehilangan ingatan Rara membuatnya juga melupakan bagaimana dia mahir memasak tujuh tahun ini.
“Mungkin anda butuh sedikit belajar.”
Perempuan yang memiliki ingatan tujuh belas tahun itu tertawa gembira sambil melihat Kate. “Ini menyenangkan, aku benar benar berada di dapur.”
“Apa sebelumnya anda tidak pernah ke dapur?”
Rara menggeleng. “Orangtuaku melarangnya, sekarang aku bebas melakukan apapun. Meski terkadang aku bertanya tanya apa yang terjadi tujuh tahun ini.”
“Tapi anda bahagia sekarang bukan?”
Rara mengangguk penuh kepastian. “Selama Luke di sampingku dan selalu ada untukku, aku bahagia. Aku sangat mempercayainya.”
Dan ketika Rara sedang melakukan percobaan menggoreng telur ke sekian kalinya, terdengar suara tangisan dari Lucas lewat monitor yang dibawa bawa oleh Rara.
“Oh, bayi kecilku menangis.”
“Biar saya yang menyelesaikannya, Nyonya.”
“Oke, Kate. Terima kasih.”
Rara berjalan dengan penuh riang menuju ke ruangan tempat berjemur, dimana dia melihat Lucas sedang meminum susu lewat dot oleh pengasuhnya.
“Biar aku yang menggendongnya.”
“Silahkan, Nyonya.”
Rara menghela napas dalam, dia belum bisa memberi asi mengingat susunya mongering.
“Maaf ya, Mommy tidak memberi asi padamu. Tapi Mommy janji, Mommy akan memberikanmu adik.”
🌹🌹🌹🌹
TO BE CONTINUE
__ADS_1