
🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK SEMUANYA.🌹
🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN SEMUA. JANGAN LUPA AJAK YANG LAIN BACA KARYA RECEH EMAK INI YA PARA KESAYANGAN EMAK SEMUANYA.🌹
“Rara,” panggil Luke, menyadarkan perempuan yang sedang memegang tongkat baseball itu. Dia baru mengetahui kalau Luke ada di sana, yang mana membuat Rara terkejut dan segera melepaskan tongkat baseball dari genggamannya kemudia berlari menuju Luke.
Perempuan itu berhambur ke dalam pelukan pria yang sangat dia cintai sambil merengek. “Luke…., mereka pria jahat, kau tahu apa yang mereka lakukan?” tanya Rara dengan bibir mengerucutnya, dia mengadah dan menatap Luke dengan mata yang sendu. “Aku takut.”
Luke mengusap rambut Rara dan mendengarkan penjelasan yang keluar dari bibir mungilnya.
“Mereka…. Mereka manakutkan, mereka akan menyakitiku, mereka menyakiti wanita tua itu. Aku sangat ketakutan.”
“Sudah tidak apa apa.”
“Tapi anda yang melukai kami, Nyonya,” ucap salah satu pria yang masih tercengang melihat tingkah Rara pada pasangannya, berbanding terbalik dengan sikapnya beberapa menit lalu pada mereka.
Yang mana kalimat itu membuat Rara menengok dan menatap tajam keempat pria itu, sontak mereka langsung menunduk enggan beradu pandang dengan perempuan yang telah menghajar mereka.
“Kenapa kalian masih di sini?” tanya Rara kesal. “Minta maaf dan kembali saat dia sudah memiliki uang.”
“Baik, Nyonya,” ucap keempat pria itu membungkuk pada wanita tua yang menjadi pemilik tempat kerajinan itu. “Kami akan datang saat kau memiliki uang.”
“Bicara dengan sopan dan cium tangannya.”
“Ba⸻baik, Nyonya Russel.”
“Rara.”
“Mereka harus jera, Luke.”
Rara tersenyum puas melihat mereka benar benar melakukannya. Dan keluarnya para rentenir dengan wajah babak belur tentu membuat warga yang berjaga di sana terkejut, mereka bertanya tanya apa yang sebenarnya terjadi.
Sementara itu di dalam rumah kerajinan, wanita tua itu memaksa Rara dan Luke untuk tinggal sebentar. “Duduklah, aku akan membuatkan teh yang sangat enak untuk kalian.”
“Tidak perlu, kenapa kau repot repot? Mari obati lukamu dulu,” ucap Rara yang mengikuti wanita tua itu menuju dapurnya.
Sementara Luke menunggu dan duduk di kursi. Pandangannya terpaku pada Rara, dan fikirannya berputar bertanya bagaimana kehidupan Rara sebenarnya? Kenapa dia sangat mahir dalam bela diri? Kenapa Rara tidak melakukan pembelaan ketika dulu Luke mempek*sanya?
Tapi inilah takdir Tuhan, dimana Lucas harus ada, Rara harus hilang ingatan dan Luke harus jatuh cinta pada wanita yang tidak pernah dia sangka akan mengandung buah hatinya.
Melihat bagaimana Rara mengobati wanita tua itu membuat Luke tersenyum, hatinya menghangat. Bibir Rara tidak berhenti mengoceh, tidak ada lagi julukan mayat hidup, yang ada adalah alarm berjalan. Luke menyukai Rara yang sebenarnya, yang belum mengenal tragedy yang menimpa hidupnya.
“Kenapa kau melamun?” tanya Rara sambil memajukan bibirya. “Lihat tanganku.”
Luke menggenggam tangan Rara dan melihat telapak tangannya sesuai keinginan.
“Ada ruam di sana, itu karena aku memegang tongkat baseball terlalu kuat. Sakit…..,” rengeknya sambil menyandarkan kepala di dada bidang pria pujaannya. “Bagaimana ini? rasanya sangat sakit.”
Luke terkekeh, dia menciumi telapak tangan Rara beberapa kali. “Masih sakit?”
__ADS_1
Rara tertawa cekikikan. “Nanti lebih banyak ciuman ya, jangan hanya di tangan saja.”
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
“Sore ini kita akan pulang, kenapa membeli banyak makanan?” tanya Luke yang sedang menggendong Lucas, matanya melihat Rara yang menyusun makanan yang dibelinya sepanjang perjalanan pulang dari tempat kerajinan itu.
“Wah…..,” gumam Rara memperlihatkan rasa kagumnya. “Aku ingin memakan semuanya, mereka begitu menggoda, Luke. Aku tidak tahan mengunyah mereka semua.”
Luke hanya terkekeh melihat bagaimana Rara menggoyangkan kaki kakinya karena tidak sabaran melahap semuanya.
“Jangan serakah, nanti kau akan sakit perut.”
“Ini masih lama, aku menelpon Kate untuk menjemput malam saja.”
“Apa?” tanya Luke terkejut.
Yang mana dihadiahi cekikikan dari Rara. “Aku sudah berkemas, Kate sudah membawa koper koper kita, jadi kita pasti pulang. Tenang saja.”
Kate memang sudah kembali ke mansion di belakang gunung lebih dulu dengan koper koper pakaian mereka, sementara Dev kembali melakukan pekerjaan yang belum selesai.Â
Mata Rara menangkap Lucas yang tertidur di pangkuan Luke, membuatnya mendekat dan merentangkan tangan sebagai tanda ingin menggendong buah hatinya.
“Tidak apa apa, aku akan mengendongnya,” ucap Luke.
Rara menggelengkan kepalanya tidak setuju. “Dia harus di kamar di dalam box miliknya, kemarikan. Kau harus menemaniku makan,” ucap Rara memaksa membawa Lucas ke dalam pangkuannya.
“Bagaimana jika dia menangis?” Luke khawatir.
Kamar itu sudah bersih dan rapi, tersedia box bayi karena sebelumnya Luke yang meminta.
Tidak ingin bayinya kesulitan bergerak di box yang keci, Rara menidurkannya di kasur berukuran king size. Dia mengelilingi tubuh mungil Lucas dengan bantal dan guling supaya tidak jatuh.
Rara juga menyalakan monitor supaya bisa melihat dan mendengar bayinya walaupun jarak mereka jauh.
Tidak ingin melewatkan kesempatan, Rara beberapa kali menciumi Lucas yang sedang terlelap, dia tersenyum manis melihat putranya tumbuh dengan sehat.Â
“Anak Mommy tersaang, Mommy sangat menyayangimu.”
🌹🌹🌹🌹🌹
“Kenapa lama sekali?” tanya Luke saat Rara baru datang.
“Maaf, aku tidak tahan melihat wajahnya yang imut,” ucap Rara menyimpan monitor di dekat meja.
Dirinya duduk di atas karpet dan menatap makanan di depannya, menyalakan TV supaya lebih seru dan menikmati kebersamaan di sore hari.
“Ayo mulai memakannya,” ucap Rara begitu girang.
Luke tersenyum dan ikut mendudukan diri di atas karpet, dia memberikan usapan di kepala Rara dengan begitu halus. Melihat senyuman Rara adalah segalanya untuk Luke.
“Kau tidak akan makan?”
__ADS_1
“Aku penasaran akan sesuatu.”
“Apa?” tanya Rara yang mulai menyantap makanan di depannya, matanya sudah tidak focus lagi, tapi telinganya mendengar dengan jelas apa yang dikatakan pujaan hatinya. “Katakan padaku.”
“Kau pintar bela diri?”
Rara mengangguk sambil menyuapkan kue basah ke dalam mulutnya. “Aku pandai dalam empat seni bela diri. Kungfu, Muay Thai, Aikido dan Taekwondo,” jelas Rara yang mana membuat Luke terkesima. Sebanyak itu perempuan di depannya menguasau bela diri?
Sementara Rara kebingungan dengan pertanyaan Luke. “Kau tidak mengetahuinya? Apa aku selemah itu tujuh tahun terakhir?”
Luke menggaruk tengkuknya bingung apa yang harus dikatakan. “Kau pendiam.”
Yang mana sontak saja itu membuat Rara tertawa. “Sepertinya aku yang berusia 24 tahun menyebalkan bukan?”
“Tidak seperti itu,” ucap Luke mengambil salah satu kue cokelat dan mamakannya. “Ingat saat kita melakukan hubungan int*m? kau selalu mengeluh lelah, kenapa tidak mendorongku saja saat aku hilang kendali?”
Rara menjawab dengan mulut penuhnya. “Aku bilang aku hebat dalam bela diri, tapi kekuatanku tidak sebanding dengan pria, apalagi di depanmu, kekuatanku hilang semua, jantungku berdetak kencang dan seluruh tubuhku rasanya seperti jelly hanya dengan melihat wajah tampanmu.”
Luke tertawa karena gombalan Rara. “Begitukah?”
“Uh, ada cokelat di bibirmu,” ucap Rara mendekat dan menj*lat bibir Luke, dia menepis jarak hanya lima centi saja. “Ingin berciuman?”
“Jangan menggodaku, Rara.”
“Ayo buat kenangan indah terakhir di sini,” ucap Rara yang tiba tiba naik ke dalam pangkuan Luke dan telapak tangannya merayap di dada yang masih dibungkus kaos hitam. “Bagaimana?”
“Aku ingat dengan jelas bagaimana kau menangis meminta berhenti padakku. Rara, kau tahu aku sering kehilangan kendali jika melakukan hal itu.”
“Tidak apa apa, lagipula itu enak meskipun sedikit perih saat kau hilang kendali.”
Luke tetap menggeleng, dia memalingkan wajah saat Rara hendak menciumnya. Bukan apa apa, Luke benar benar kehilangan kendali jika melakukan itu. Rara seolah menjadi candu yang membuatnya terus menghentakan kejant*nannya di dalam lubang sempit Rara. Bagaimana nafsunya menguasai hingga membuat Rara beberapa kali mengalami pelepasan hingga akhirnya meneteskan air mata karena kelelahan.
Namun, bukan Rara namanya jika gampang menyerah. Rara dengan mudahnya mencium leher Luke dan menyesapnya di sana. Dia menggoyang goyangkan pinggulnya sehingga beradu dengan kejantan*n yang masih terbungkus di sana.
“Eunghh… hentikan, Rara.”
“Ayolah, bagaimana?” Rara mengulum bibirnya.
Shiit! Rara terlihat sangat imut di mata Luke. “Jangan menyesalinya.”
“Akkkkhh!” Rara seketika mengalungkan tangannya di leher Luke saat pria itu tiba tiba berdiri.
SREEEEEKKK! Luke merobek baju Rara dengan begitu mudahnya..
Dan saat itulah Rara sadar, semua pakaian miliknya sudah dibawa oleh Kate. Lalu? Bagaimana nasibnya?
Dan Luke yang sudah bernafsu tidak bisa dihentikan, seperti sekarang yang…… “Akhhhhhhhh…. Ssshhhhhhhh….. pelan…..”
🌹🌹🌹🌹🌹
HA HA HA HA
__ADS_1
TO BE CONTINUE