Wanita Simpanan CEO

Wanita Simpanan CEO
Season 2 : Menyambut


__ADS_3

🌹jangan lupa kasih emak vote ya anak anak kesayangan emak semuanya.🌹


🌹igeh emak juga difollow di : @redlily123.🌹


🌹and, welcome to season dua.🌹


“Daddy? Lucas? Bangun! Wake up come on!” teriak Rara dari lantai bawah, dimana dirinya sedang memasak untuk sarapan kedua pria kesayangannya. “Guysss!”


Tidak ada jawaban selama Rara sedang menata meja, yang mana membuat Rara menarik napasnya dalam. Dia memejamkan mata beberapa saat sampai akhirnya seorang pelayan mendekat, “Perlukah saya membangunkan mereka, Nyonya?”


“Tidak, jangan pernah dekati mereka,” ucap Rara yang masih saja posesive terhadap kedua orang pria yang sangat dicintainya itu. Dan perlu diketahui, menerima pelayan di sini bahkan membutuhkan seleksi ketat dari seorang Rara. Mereka tidak boleh lebih cantik atau masih melajang, umurnya harus diatas Luke juga.


Sebagai catatan, kini mereka berada di ibu Kota Swiss. Ya, Luke membawa Rara pindah ke kota indah itu supaya Luke lebih dekat dari tempatnya bekerja. Mereka pindah sejak Lucas mulai bisa bicara, dimana Rara juga sadar kalau anaknya perlu didikan dari seorang yang ahli. Umurnya yang kini menginjak empat tahun, Lucas pandai berbagai bahasa, sangat mudah untuk seorang Luke memanggil guru ke rumah untuk putra tunggalnya itu.


Saat masuk ke dalam kamarnya, Rara tidak mendapati suaminya. Yang mana membuatnya menghela napas kemudian melangkah berat ke kamar Lucas yang ada di koridor lain di lantai dua. 


Begitu membuka pintu, Rara mendapati Luke sedang memeluk putranya dengan sangat erat di bawah gelungan selimut. Ranjang Lucas yang sedikit kecil membuat tubuh Luke hampir jatuh.


Rara berdiri menatap keduanya. “Daddy…. Hei, Luke Sayang. Bangun…..,” ucap Rara mengusap rambut suaminya dengan penuh kasih sayang. “Ini waktunya mandi, ayo…”


“Hm?” Luke bergerak dalam tidurnya


“Awas jatuh.”


BRUK! Belum juga bibir Rara mengatup, Luke jatuh ke atas karpet bulu. Yang mana membuat Rara tetap berdiri sambil menyilangkan tangannya di dada.


Luke meringis kesakitan, dia berhenti bergerak saat melihat sang istri berdiri di depannya. “Hai, Honey.”


“Sudah aku bilang, jika sudah bangun lekas mandi, jangan malah ke sini.”


“Tapi Lucas terllihat kedinginan.”


“Atau setidaknya kau harus membangunkannya, menerapkan kebiasan bangun pagi itu baik.”


“Oke oke,” ucap Luke sambil mencoba menegakan tubuhnya, dia berdiri di depan istrinya kemudian memberikan kecupan di bibir. “Kiss morning, Honey.”


Dan saat Luke keluar kamar, Rara hanya menghela napas, kini tinggal satu lagi yang harus dia bangunkan.


Namun sebelum Rara mengeluarkan kalimat, lebih dulu terpotong oleh, “Aku sudah bangun, Mommy. Thanks telah membawa Daddy pergi.”


“Uh….., anak Mommy ternyata sudah bangun? Kenapa tidak membangunkan Daddy mu dan malah ikut terlelap huh?” tanya Rara gemas menciumi pipi Lucas.


Yang mana membuat anaknya itu cemberut. “Lucas sudah dewasa, jangan lakukan itu.”


“Oke, sekarang mandilah. Panggil Nanny.”

__ADS_1


“No, Lucas akan mandi sendiri.”


Mata Rara menatap bagaimana putranya melangkah ke kamar mandi sendirian, membuat helaan napas itu keluar. “Dia mirip siapa? Kenapa begitu dingin, kenapa tidak sepertiku? Uh…, aku menginginkan bayi sekarang, Lucas sudah tidak mau ditempeli lagi.”


🌹🌹🌹🌹


“Hon, paskah ini David dan Sebastian akan datang ke Swiss bersama anak anaknya.”


“Wow, itu sebuah kejutan, siapa yang membawa ide itu?” tanya Rara yang sedang memilih dasi, sementara suaminya sibuk menatap pantatt bulat milik sang istri.


“Dad, kau mendengarku? Siapa yang merencanakannya? Ini bukan hanya agenda belaka seperti biasanya kan?”


“Tidak, mereka akan benar benar datang paskah ini.”


“Baguslah.” Mata Rara tertuju pada dasi abu abu yang senada dengan jas yang akan dikenakan oleh suaminya.


Luke tidak suka pakaian formal, tapi mengingat dia akan bertemu dengan petinggi negara, maka dia harus enak dipandang. Biasanya Luke hanya memakai kemeja saja, memakai jas membuat Luke merasa akan menikah kembali, mana tubuhnya terasa kaku.


“Mereka akan ke sini? Kapan? Sebelum paskah bukan? aku ingin mempersiapkan rumah ini,” ucap Rara mendekat dan memasangkan dasi pada suaminya.


Sementara Luke sedikit meregangkan kakinya supaya dia setara dengan Rara tinggi badannya. Tangannya yang tidak bisa diam itu meraba raba pantatt istrinya.


“Ya tentu saja sebelum paskah. Aku fikir kita tidak akan menyambut mereka di sini.”


“Bagaimana kalau di Guarda saja? di rumah kita yang di sana.”


“Kita ke sana setiap akhir pekan.”


“Maksudnya kita pakai untuk merayakan kedatangan mereka, Hon. Mereka juga akan menginap, lebih bagus jika di sana. Suasana baru?”


Rara mengerutkan keningnya penasaran. “Pasti ada alasan kau meminta di sana bukan? kenapa?”


“Oh ayolah, ini ide bagus. Anak anak suka alam, ayo kita tanya Lucas.”


“Hentikan gerakan tanganmu, Daddy. Lucas bisa saja ke sini dan melihat tingkahmu.”


“Aku merindukanmu, Lucas sudah dewasa, tidak ingin menambah anak?”


“Aku sedang memikirkannya.”


Setelah menikah, Rara memang menghindar memiliki anak terlalu cepat. Dia mengubah pemikiran ingin memberi Lucas adik karena saat itu umur Lucas masih sangat kecil. Rara tidak ingin kasih sayangnya terbagi.


Dan sekarang, tangan Luke menelusup masuk ke dalam rok Rara dan menyentuh bagian dalamnya yang terhalang celana.


“Luke,” ucap Rara memberi peringatan.

__ADS_1


Dan jika Rara sudah menggunakan panggilan itu, maka ini gawat. Yang mana membuat Luke segera berdehem.


“Tenang saja, dad. Malam ini aku akan memakanmu sampai habis.”


“Aku tidak sabar.”


“Ayo sarapan, Lucas pasti menunggu kita.”


Dan benar saja, anak berusia empat tahun itu begitu mengikuti etika dengan sangat baik. Untuk anak seusianya, Lucas tidak pernah membuat kekacauan yang menghebohkan. 


“Morning, Son. Kau sudah menunggu.”


“Lucas akan berusia lima tahun sebentar lagi.”


“Lalu??” tanya Luke bingung. 


“Lucas mau ke perpustakaan negara.”


Rara terdiam menatap sang anak, dia benar benar jauh berbeda dengan dirinya. Rara suka makan, Lucas suka buku.


“Ide bagus, kita akan ke sana bersama.”


‘Mommy tidak usah diajak.”


‘Hei!” ucap Rara tidak terima.


“Mommy akan sangat mengagumkan jika menyiapkan makanan d rumah bukan?” tanya Lucas.


Yang diberi anggukan oleh Luke, memang Rara tidak cocok dengan perpustakaan. Dia selalu mengeluh minta pulang atau makan.


“Makananmu yang terbaik, Hon.”


“Oke, akan aku pertimbangkan,” ucap Rara yang merasa lebih baik. “Ah iya, Lucas kau ingat teman teman Daddy mu yang Mommy ceritakan? Mereka akan datang bersama anak anaknya.”


“Anak anak yang Daddy ceriatakan?” tanya Lucas. “Yang pintar memanjat, melompat, berguling dan meraung?”


Luke mengangguk. “Iya, yang itu,” ucapnya pelan. “Bukankah lebih bagus jika kita menyambut mereka di rumah Guarda?”


Lucas menatap ke lantai dua, dimana ada pintu perpustakaan miliknya sendiri. Akhirnya anak itu mengangguk. “Right, Dad. Akan bagus jika di sana, anak anak suka alam terbuka.”


“Nah, kau dengar itu, Hon?”


🌹🌹🌹🌹


TO BE CONTINUE

__ADS_1


__ADS_2