
🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK SEMUANYA.🌹
🌹IGEH EMAK JUGA JANGAN LUPA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN SEMUA. JANGAN LUPA AJAK YANG LAIN BACA CERITA RECEH INI YA ANAK ANAK.🌹
“Aku ingin ke sana,” ucap Rara menunjuk sebuah rumah dimana di depannya ada sebuah tulisan yang menjelaskan bahwa di sana mereka bisa membuat kerajinan tangan sendiri dari tanah liat, itu menarik perhatian Rara. Dia ingin membuat sesuatu untuk kekasih hatinya itu. “Bagaimana?”
“Tapi Lucas tidak bisa ikut bermain di sana, Rara. Nanti dia malah berguling-guling di atas tanah liat saat tanganku kotor,” ucap Luke memberi pengertian sebelum mereka masuk ke dalam tempat itu. “Bagaimana kalau kita ke caffe di sana?”
“Kau ingin minum kopi lagi ‘kan?” tanya Rara menyipitkan matanya, mengingat bagaimana akhir akhir ini Luke terlalu banyak minum kopi yang mana membuat pikirannya teralihkan. Bahkan dirinya yang tampil seksi kalah dengan kopi yang sedang dinikmatinya.
“Aku ingin membeli beberapa kopi mentah untuk dibuat di rumah, bagaimana?” tanya Luke. “Kita akan membuatnya bersama, kita belajar di sini.”
“Tapi aku ingin membuat kerajinan tanah liat,” ucap Rara menghentikan langkahnya.
Menit menit terakhir di Guarda, mereka memutuskan untuk berkeliling desa lagi dan melihat tempat tempat yang belum terjamah. Meskipun hampir semua sudah didatangi, Luke tidak bosan karena dia lebih banyak menghabiskan waktu di kota, berbeda dengan Rara yang menginginkan sesuatu yang baru dan juga asing.
“Tidak apa aku sendiri, nanti akan aku perlihatkan hasil karyaku. Bagaimana?” tanya Rara dengan wajah memohon. “Caffe dan tempat kerajinan ini bersebelahan, kau bisa meminta pemilik caffe membongkar dindingnya agar kau bisa melihat wajahku,” ucap Rara masih dengan bibir yang merengut meminta permohonan agar diizinkan.
Dan Luke lemah akan hal itu, ada beberapa hal yang membuatnya selalu luluh pada Rara. Alasan Luke tidak ingin membuat kerajinan karena tempatnya tidak cocok untuk membawa bayi, apalagi terlihat wanita yang menjaganya sedang merokok sambil menyapu bagian pinggir tempat itu.
“Ayolah…., ya?”
Dan tidak biasanya Rara meminta berpisah, biasanya mereka harus selalu bersama. Itu tandanya ada sesuatu yang sangat ingin Rara lakukan.
Maka darinya, Luke mengangguk. Yang mana membuat Rara bertepuk tangan girang kemudian mencium pipi Luke. “Terima kasih.”
Lucas yang melihat tingkah ibunya itu ikut tertawa setelah mendapatkan kecupan bertubi tubi darinya.
“Mommy mu menggemaskan bukan?” gumam Luke saat Rara melangkah menjauh dengan langkahnya yang sesekali meloncat loncat mengekspresikan kebahagiaannya. “Dia wanita yang hebat bukan? kau harus menyayanginya, Lucas, banyak hal yang dilewatinya untuk bisa bersamamu, Sayang.”
🌹🌹🌹🌹
Saat dalam perjalanan menuju desa Guarda, Dev mendapatkan telpon dari mantan majikan, pria yang sebelumnya dia layani yakni Nobles. Itu panggilan antar negara, yang menandakan kalau pria tua itu belum kunjung pulang ke negara asalnya di Swiss.
Sambil menyetir, Dev mengangkat telpon, dia menggunakan earpiece untuk mendengarkan.
“Hallo, Tuan?”
“Dev, kau bersama dengan Luke?”
“Saya dalam perjalanan untuk menemuinya,” ucap Dev yang baru saja menyelesaikan masalah pekerjaan Luke di pusat kota, dan Dev kembali untuk sesuatu yang sangat penting.
“Aku akan mengizinkan mereka menikah, adakah yang bisa aku bantu supaya Luke bisa lepas dari Medina?”
Seketika Dev menepikan mobilnya, tidak menyangka mendengar sendiri kalimat itu dari mulut Nobles, jelas Dev mengingat bagaimana sosok itu begitu membenci dan menentang Rara.
“Apa sesuatu terjadi, Tuan?”
__ADS_1
“Ya, aku ingin menikah kembali.”
“Apa?”
“Sekarang aku berada di Minesota, dan aku bertemu dengan mantan kekasihku, aku takut Luke tidak memberi izin, mengingat wanita pujaanku bukanlah dari kaum atas. Jadi, aku rasa aku merasakan apa yang Luke rasakan selama ini.”
Dev memejamkan matanya, ternyata ini alasan Kakek Nobles tiba tiba memberikan izin pada Luke. Kenyataannya, seseorang harus merasakan apa yang orang lain rasakan supaya bisa memahami perasaan yang lainnya. Tidak akan ada yang memahami sebuah kesulitan manusia, kecuali mereka pernah berdiri di sepatu yang sama dengan mereka.
“Bisa kau bantu Luke, Dev?”
“Saya membantu semampu saya, Tuan. Mereka membuat perjanjian menikah, dan akan bercerai dalam waktu lima bulan.”
“Wah, baguslah. Jadi menurutmu, aku bisa menikah sekarang?” tanya Kakek Nobles di sana. “Aku ingin menetap di Minesota. Dan akan aku berikan apapun untuk Lucas, termasuk perusahaanku. Aku tidak peduli, aku ingin masa tuaku tenang.”
“Lebih baik anda pulang dulu dan membicarakannya dengan Tuan Luke, Tuan.”
“Ah…., aku harus tetap pulang? Baiklah, lanjutkan apa yang kau lakukan, Dev.”
TUT.
Baru juga Dev akan membuka mulutnya untuk berbicara, Kakek Nobles sudah menutup panggilan.
Dev menghela napas, dia kembali melajukan mobil menuju Desa Guarda untuk menemui majikannya. Dev adalah saksi bisu bagaimana menjadi orang kaya tidak sebahagia yang orang pikirkan, masalah datang bahkan membuat pertengkaran antar keluarga. Sangat disayangkan untuk Luke, membuat Dev prihatin dengan keadaannya. Satu satunya cara agar Luke lepas dari Medina adalah dengan Medina sendiri yang melepaskannya dan membatalkan perjanjian.
Luke mengirimkan lokasi terkininya pada Dev sesuai permintaannya, alamat itu mengatarkan pada salah satu Caffe di ujung desa.
Dari luar caffe pun, Dev melihat bagaimana Luke bercanda dengan bayinya yang didudukan di baby chair. Mereka terlihat sangat bahagia, yang hampir saja membuat Dev melupakan tujuannya.
“Dev, duduklah.”
🌹🌹🌹🌹
“Nona Medina kembali beraktivitas di London, anda tahu?” tanya Dev memperlihatkan ponselnya.
Luke mengerutkan kening, sedikit kesulitan bergerak karena Lucas ingin digendong ayahnya.
“Apa yang hendak dia lakukan? Kembalinya dia ke dunia pemodelan membuat media akan menarik perhatianku juga bukan?”
“Salah satu kenalanku melihatnya di sana bersama Tuan Robert.”
“Ah….., mantan pacarnya? Semoga saja mereka kembali bersama,” harap Luke yang menginginkan dirinya bersama Rara jika Medina melepaskannya. “Tapi…., bukankah perusahaan miliknya…..?”
Dev mengangguk saat Luke menggantungkan ucapannya. “Sudah bangkrut, saya khawatir dia hanya memanfaatkan Nona Medina.”
“Itu akan membuatku dalam kesulitan,” ucap Luke yang memikirkan jangka panjang, bagaimana jika Robert membuat Medina rugi, dan yang harus menanggung semuanya adalah Luke, tentang semua kerugian dan pandangan media masa pada Medina. “Aku akan melakukan sesuatu nanti, jangan ganggu pikiranku yang sedang liburan, Dev.”
Ketika keduanya sedang bicara, warga desa yang juga ada di caffe itu mengatakan hal hal yang menarik perhatian Luke.
“Dia datang ke Toko Shawn dan memporakporandakannya.”
__ADS_1
“Aku khawatir jika bulan depan tidak ada turis datang, apa yang harus kita berikan pada mereka?”
“Aku mungkin meninggalkan desa dan bekerja di kota.”
“Bisakah kita meminjam sesuatu ke bank? Hasil festival kemarin tidak terlalu menyenangkan.”
Itu membuat Luke membalikan badannya. “Maaf, tapi apa yang kalian bicarakan, Tuan Tuan?”
“Rentenir, kami meminjam pada mereka untuk membuka tempat usaha, tapi wisatawan yang datang tidak sesuai harapan kami.”
“Apa luka di wajahmu karena mereka?” tanya Luke menatap salah satu warga yang duduk di dekat pintu kayu.
“Ya, ini aku dapatkan bulan lalu. Jika tida membayar separuhnya, mereka akan memukulmu.”
“Mereka datang setiap bulan?”
“Tergantung mood mereka,” jelas salah satunya. “Aku tidak tahu apakah Nyonya Cleu sudah ditinggalkan atau belum, aku melihat mereka masuk lewat jalan belakang.”
Kemudian yang lainnya berkata, “IItulah kenapa kami berjaga di Caffe, jika Nyonya Cleu berteriak jadi kami bisa datang secepat mungkin.”
“Nyonya Cleu?” tanya Luke. “Dimana tempat tinggalnya?”
“Itu, dia yang memiliki rumah tanah liat itu. Astaga, siapa yang tertarik membuat kerajinan tanah liat saat ini? dia tidak pandai membaca peluang. Yang aku takutkan kita tidak mendengar teriakannya, kalian tahu rumahnya kedap suara. Bagaimana kalau kita ke sana lima menit lagi? Kalian juga tidak ingin mendapatkan pukulan jika datang lebih awal bukan?”
Seketika tubuh Luke menegang, dia berdiri dan menyerahkan Lucas pada Dev. “Jaga dia.”
“Anda mau kemana, Tuan?”
“Rara ada di sana,” ucap Luke berlari keluar dari caffe.
Entah kenapa kecemasan ini membuat larinya melambat. Jantungnya berdetak kencang, Luke telah berjanji tidak akan ada yang menyakiti Rara lagi, tidak akan yang menyentuhnya barang sejengkal pun. Apalagi jika sebuah kekerasan bisa memicu trauma, seperti yang dokter katakana sebelumnya, “Nyonya Rara bisa mengingat lagi tujuh tahun yang dia lupakan jika ada sesuatu yang memicunya, seperti sesuatu yang sering dia temui dan rasakan tujuh tahun ke belakang ini.”
Demi tuhan! Luke tidak ingin kehilangan Rara.
Tangannya mendorong pintu seketika, dadanya naik turun karena adrenaline nyameningkat. Namun, yang Luke lihat adalah…….. beberapa pria sedang berlutut sambil berjajar rapi, mereka menunduk dan beberapa lebam terdapat dalam wajah empat pria berbadan besar itu.
Sementara sosok mungil yang dicarinya sedang memainkan tongkat baseball sambil berdiri di depan empat pria itu, mulutnya mengatakan, “Kalian ini harus memperlakukan orang yang lebih tua dengan penuh kesopanan, dia sudah menjelaskan kalau dia akan memberikan uangnya besok, kenapa kalian memaksanya dan menyakitinya? Lihat tubuh keriputnya mendapatkan luka, kalian tidak kasihan? Dia berjanji pada kalian, bahkan memberikan seperempat uangnya sekarang!”
Rara mengusap dahinya yang berkeringat karena aktivitasnya beberapa menit yang lalu. “Bayangkan jika ibu kalian yang diperlakukan seperti itu, astaga kalian membuatku frustasi. Jangan lakukan itu lagi, lakukan dengan sopan, paham?!”
Para pria itu memejamkan mata saat Rara menakut-nakuti dengan mengayunkan tongkat baseball miliknya. Mereka mengangguk seketika. “Kami paham, kami paham. Tolong jangan sakiti kami lagi, Nona.”
“Aku sudah menikah! Panggil aku Nyonya Russel.”
“Baik, Nyonya Russel, kami paham,” ucap mereka serentak.
Sementara Luke terdiam di sana, dia berkedip dengan otak bertanya tanya. Apa Yakuza yang membesarkan Rara di Jepang?
🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
TO BE CONTINUE