
🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK SEMUANYA.🌹
🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLOW DI : @REDLILY123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN.🌹
Luke memiliki hari yang sibuk untuk saat ini, apalagi orang orang yang ingin bekerja sama dengannya adalah orang orang dari bidang entertainment. Namun, Luke sengaja membatasinya agar dia tidak dikenal lebih banyak oleh public. Biarkan hanya orang orang yang berkepentingan saja yang mengenalnya.
Luke juga belum melakukan akusisi untuk perusahaan peninggalan kakeknya. Dia sengaja akan melakukannya nanti jika suatu saat nanti mmereka memojokannya. Seperti saat ini, Luke sedang memainkan perusahaan peninggalan kakeknya itu, dan menunggu dia mengeluarkan kartu as.
Hari yang sangat melelahkan, Luke merebahkan dirinya di sofa, yang mana membuat Dev mengetuk meja untuk memastikan dirinya ada di sana.
“Sejak kapan kau disana?”
“maaf menganggu anda, Tuan. Tapi anda harus bergegas pergi untuk meninjau pekerjaan yang mereka lakukan.”
“Aku sudah meninjau semuanya,” ucap Luke dengan malas.
“Perusahaan yang satunya.”
“Oh astaga.”
“Semuanya terkendali, anda hanya perlu untuk datang dan memastikan semuanya.”
“Pekerjaan di sini membuatku frustasi.”
“Mungkinkah anda ingin segera melakukan akusisi dalam waktu dekat?” tanya Dev.
Tentu saja hal itu ditertawakan oleh Luke. “Tidak, itu akan menjadi kartu terakhirku jika mereka benar benar membuatku kesal.”
“Tuan Nobles meminta anda datang ke rumahnya untuk makan siang.”
__ADS_1
“Baiklah, kau yang menyetir.”
Dev mengangguk dan mengambil kunci yang dilemparkan oleh Luke.
Dalam perjalanan, Luke mendapatkan telpon dari Rara. Membuat Luke tersenyum senyum melihat tingkat Rara yang sangat menggemaskan. Luke mengangkat telponnya.
“Hallo?” tanya Luke lebih dulu.
“Luke.”
Luke tersenyum tanpa suara mendengar Rara yang antusias.
“Ada apa? Kau sudah makan?”
“Sudah, bagaimana denganmu? Ini jam makan siang bukan.”
“Ya, aku sedang keluar untuk membeli makanan.”
“Baiklah, makan dengan baik dan pulang dengan cepat. Aku merindukanmu.”
“Tidak, dia tidur sepanjang hari. Aku rasa dia akan terbangun sepanjang malam nanti.”
“Tidak apa, ingin dibawakan sesuatu?”
“Untukku?”
“Tentu saja.”
“Aku hanya ingin cintamu saja.”
Dan tentu saja itu membuat Luke terdiam.
__ADS_1
Sampai keheningan memecah karena suara tangis Lucas dari sana. “Ah, Lucas sepertinya bangun. Nanti aku telpon lagi. Bye, I Love You, By.”
Sampai telpon sudah putus pun, ponsel itu tetap menempel di telinga Luke, dia tersenyum manis mendengar suara lucu Rara barusan. “Dia sangat menggemaskan.”
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Rara tersenyum melihat Lucas yang terlelap di pangkuannya, dia berjalan membawa Lucas keluar dari rumah.
“Anda mau kemana, Nyonya?”
“Berjalan jalan, tenang saja aku tidak akan keluar gerbang.” Ucap Rara.
“Saya akan ikut bersama anda..”
“Oh ayolah, Kate, aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama Lucas.”
Kate terdiam di sana. “Kau bisa istirahat, Kate.”
Meskipun berada di tengah hutan, tentu saja terdapat pagar yang mengintari rumah. Untungnya ini pagar, bukan benteng sehingga Rara bisa melihat keadaam luar.
Dan hutan begitu indah, tanah mereka terbuat dari rumput hijau menyerupai padang. Lumut lumut hijau memeluk akkar pohon sampai ke batangnya, ditambah dengan dedaunan yang berwarna serupa menambahnya indah.
Rara berada di belakang rumah. Dia berjalan mengintari pagar sampai mendapatkan ada pintu keluar juga di sana.
“Jika ada pintu di sini, maka mungkin ada jalan,” gumam Rara yang mencoba untuk membuka pintu itu.
Dan ternyata berhasil, hal itu membuat pintu terbuka. Rara dengan senyumannya yang lebar melangkah keluar mengikuti suara burung yang begitu indah.
“Ini sangat indah bukan?” tanya Rara pada bayinya yang terlelap di sana.
Tidak ada jawaban Lucas membuat Rara terenyum kemudian kembali berkata, “Mimpikanlah burung-burung itu, Nak. Ini sangat menenangkan, Daddymu sangat pintar memilih tempat, termasuk pintar memilih pasangan hidup seperti Mommy.”
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹
TO BE CONTINUE