
🌹🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK SEMUANYA.🌹🌹
🌹🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹🌹
🌹🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN SEMUA.🌹🌹
Rara terbangun begitu dia mendengar suara ketukan pintu, ini masih dini hari. Dan siapa yang bertamu padanya sepagi buta ini?
Sebelum membukanya, Rara melihat dari hole door, ternyata seorang wanita gemuk yang tersenyum kemudian mengatakan tanpa suara bahwa dirinya adalah pengasuh. Rara segera membukanya, tapi tidak mengizinkannya masuk. Tangan Rara menyilang di sana menghalangi. “Kau kiriman Dev?”
“Iya, Nyonya. Nama saya Meli.”
“Panggil aku Rara.”
“Iya, Nyonya Rara.”
“Maksudku Rara saja.”
“Baiklah.”
“Apa yang kau bawa?” tanya Rara tatkala dia mencium aroma enak dari sesuatu yang dibawa oleh wanita gemuk itu.
Pengasuh yang akan menjaga Lucas itu tersenyum sambil mengangkat barang bawaanya. “Pai apel,” jelasnya.
Yang seketika membuat Rara mempersilahkannya masuk, dia tersenyum tidak tahan memakan pai. Apapun keadaannya, makan tetaplah nomor satu. Begitu motto hidup Rara.
“Kau sendirian ke sini dini hari apa tidak takut?” tanya Rara saat Meli menghidangkan pai di meja kemudian mempersilahkannya untuk memakannya.
“Tidak, diluar sangat ramai. Bahkan bar dan klab masih menyala.”
Rara terdiam, tangannya tertahan saat hendak menusuk pai, yang mana membuat Meli khawatir. “Apakah anda punya gejala stroke mendadak?”
Seketika Rara menatapnya tajam. “Jagalah Lucas untukku.”
“Baik, Nyonya Rara. Namanya Lucas ya? Uh…, dia sangat tampan.” Meli melangkah ke abox bayi di sana, melihat Lucas yang sedang terlelap.
“Kau akan terkejut jika melihat papahnya, dia lebih tampan. Aku merasa kasihan pada Lucas, ada sedikit gen milikku di sana. Aku juga merasa bersalah karena telah menodai keturunan suci tampannya suamiku,” ucap Rara dramatis kemudian kembali berfikir. “Klab masih buka?”
“Iya, Nyonya.”
“Aku akan ke sana sebentar oke?”
__ADS_1
“Tapi, Nyonya….”
“Tidak apa, jangan khawatir, aku akan pulang sebelum matahari terbit.”
Rara memakai jaketnya, dia benar benar penasaran akan klab, bar dan tempat tempat orang dewasa seperti yang Rara baca di internet. Namun, saat Rara keluar dari hotel, dia kalap melihat begitu banyak makanan, membuat matanya melebar melihat street food dimana mana dengan aroma yang memabukan.
“Makanan… makanan….,” gumam Rara mengusap perutnya. “Kita mampir dulu ya.”
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Dev mendengar suara berisik, membuatnya membuka mata perlahan. Ini masih jam lima pagi, dia bingung dengan keributan yang berasal dari ruang utama. Dev mendekat ke sana, dia terkejut melihat Kakek Nobles yang sedang berkemas.
“Anda mau kemana, Tuan Besar?”
“Dev, kau tahu aku tidak pandai berakting. Bisa bisa aku memberitahukan dimana Rara.”
“Tapi anda tidak tahu Nona Rara pergi kemana.”
“Itu dia, Dev. Tapi aku tahu rencana Rara, jadi aku memilih untuk menjauh. Bilang saja padanya kalau aku menyalahkan diri sendiri dan terlalu malu untuk melihat Luke,” ucap Kakek Nobles tergesa gesa hendak pergi.
Dev melihat mata istri dari Kakek Nobles yang mengangguk kemudian berkata, “Biarkan saja dia, dia memang memiliki mulut bocor.”
“Kemana anda akan pergi?”
Membuat Dev menunduk dan melihat ada rumah kecil di sana, jaraknya hanya sekitar 10 meters saja. ini menggelikan, hendak menghindar tapi terlalu dekat. “Anda yakin?”
“Sudahlah, Dev. Aku harus pergi, dia tidak boleh melihatku seperti ini. dia akan segera bangun, bye.”
Dev hanya terdiam melihat kepergian Kakek Nobles, bahkan Dev bisa melihat Kakek Nobles melambaikan tangannya sebelum memasuki rumah kecil di sana.
“Aku akan membuat sarapan, apa yang kau suka, Dev?”
“Apa saja, Nyonya Besar,” jawab Dev.
Membuat Kate ikut masuk ke dalam dapur bersama majikannya. “Biarkan saya membantu, Nyonya.”
“Tentu saja, mari berdoa semoga semuanya berjalan dengan lancar, Kate. Aku yakin Luke akan kacau setelah ini.”
Dan pria yang sedang mereka bicarakan itu masih berbaring pingsan, sampai sinar matahari mulai membuat matanya silau. Dia terbangun, menatap langit langit dan termenung dengan apa yang sedang terjadi dengan dirinya. Dia menarik napasnya dalam dalam memikirkan apa yang terjadi dengannya, kepalanya terasa begitu sakit untuk diajak berfikir.
Sampai dia teringat sesuatu; lamaran, Medina, kekacauan. Yang mana membuat Luke seketika menyibakan selimut kemudian mencari ke segala sisi. Dimana Rara?
__ADS_1
Luke keluar dari kamarnya. “Rara?! Lucas?! Rara?!”
“Tuan?”
“Kate, dimana Rara?”
Kate terdiam, mata sendunya memperlihatkan kebenarannya. Itu mengakibatkan otak Luke berfikir keras, takut apa yang menjadi mimpi buruknya itu terwujud.
“Mana Dev? Kate, Mana Dev?!”
“Tuan Dev sedang mencoba menenangkan Tuan Nobles, beliau terus menangis merasa bersalah karena kepergian Nyonya Rara.”
Luke kalut, dia memeriksa setiap ruangan. Dan tidak adanya barang barang Rara membuatnya yakin kalau perempuan itu meninggalkannya. Tidak ingin emosinya semakin mengambil alih, Luke mencari keberadaan Dev.
Begitu menjumpai batang hidung pria itu, Luke langsung mencengkram kuat kerah bajunya. “Dia tidak benar benar pergi ‘kan? Dia masih ada di sini ‘kan?”
“Maaf, Tuan. Tapi Nyonya Rara begitu terluka sehingga dia ingin pergi.”
“Kenapa kau tidak menahannya. Dev! Kau tahu apa yang aku perjuangkan selama ini!”
“Maaf, Tuan.”
“Kemana dia pergi?”
“Saya tidak tahu, dia tidak memberitahukannya.”
“God! Kau tidak berguna!” ucap Luke melepaskan cengkramannya. Dia melangkah mengambil kunci mobilnya, tergesa gesa hendak pergi.
Kalimat pertanyaan dari Nenek dan Kakek Nobles tidak dihiraukan sama sekali, begitupun Dev yang tidak diajak berdiskusi apapun. Namun terlihat jelas, mata itu menahan air mata, sesak di dadanya dan juga penyesalan yang mendalam.
Untuk pertama kalinya, Dev melihat Luke rapuh dalam ketegarannya.
Begitu mobil yang dikendarai Luke melesat entah kemana, Dev menghubungi Rara dengan nomor baru perempuan itu.
“Apa, Dev?”
“Sebaiknya anda bersiap, Nyonya. Tuan akan segera menemukan anda, entah apa yang dia lakukan, dia pergi menggunakan mobilnya.”
“Oh astaga….., Tuhan benar benar menjawab doaku, aku merindukannya. Tapi aku ingin menghabiskan uang Kakek Nobles dulu di luar sini, tolong buat dia lebih lama sendirian. Bye, Dev, aku harus makan camilan lainnya.”
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
TO BE CONTINUE