
🌹MAAF PENDEK YA, EMAK MASIH ADA ACARA KELUARGA.🌹
🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK SEMUANYA.🌹
🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN SEMUA.🌹
Sore hari yang indah, Rara melangkah menuju suatu tempat dengan menggunakan truk. Tentu saja bukan dia yang membawanya, melainkan tukang yang dia sewa. Sementara Lucas ada di pangkuannya, dan pengasuhnya ada di box belakang menjaga makanan yang begitu banyak di sana.
Senyum di wajah Rara tidak kunjung luntur saat dia mengingat tujuannya melakukan hal ini. dia terus menciumi puncak kepala putranya dengan penuh kasih sayang, membuat Lucas mendongkakan kepalanya kemudian tertawa saat melihat ibunya tersenyum padanya. Jemarinya terangkat menyentuh dagu bidadari yang telah membawanya ke dunia.
Yang mana perlahan membuat senyuman Rara perlahan luntur karena mengingat wajah pria yang sangat dia rindukan. “Apa yang sedang dilakukan Daddymu, Lucas?”
“Eungggg….,” jawab bayi itu sambil tertawa.
“Oh, dia sedang stress?”
Sampai supir truk itu berkata, “Sudah sampai, Nyonya.”
Di sinilah Rara sekarang berada, di sebuah panti asuhan anak anak yang tidak memiliki orangtua. Seorang suster sudah menunggu kedatangannya, membuat Rara tersenyum dan datang padanya, sebelumnya Rara memang menelpon panti itu bahwa dia akan datang dan memberikan sedikit bantuan.
“Rara?”
“Hallo, suster. Apakah ada orang yang membawakan barang barang yang aku bawa di dalam box itu?”
“Dalam box mobil itu?”
“Iya, suster.”
“Puji Tuhan, Nak,” ucapnya memanjatkan rasa syukur, suster itu meminta anak anak yang sudah agak dewasa dan para penjaga di sana mengeluarkan barang barang dari dalam sana. Begitupun pengasuh Lucas dan supir truk yang membantu, Rara hanya diam sambil duduk dan menggendong Lucas.
Menatap banyaknya barang yang dikelaurkan, seperti beras, minyak, gandum, kentang, dan banyak lagi makanan lainnya. Inilah uang Kakek Nobles, digunakan untuk memberi makan anak anak yang tidak beruntung.
Rara tidak ingin menikmati kebahagiaannya seorang diri, jadi dia membagikannya ke beberap panti yang ada di Minesota. Itu yang membuat pengeluaran membengkak. Masa bodoh, Rara tersenyum mengingat Kakek Nobles juga pernah ikut andil dalam sulitnya Luke menyatu dengannya. “Ini sudah sepadan, Kek. Kebaikannya untukmu juga nantinya.”
__ADS_1
Sampai biarawati yang sebelumnya itu kembali datang mendekat. “Ayo, Nak. Kita duduk di dalam.”
“Tidak apa, Suster. Aku masih ingin melihat lihat di sekitar sini.”
“Baiklah, ayo aku antar.”
“Boleh aku ke belakang sana?” tanya Rara sambil berdiri.
“Tidak ada yang menarik, hanya kebun kecil.”
Rara mengikuti langkah biarawati itu ke bagian belakang terlebih dahulu, melihat bagaimana kebun itu tidak terawatt. Dan hanya ada beberapa bagian tanah yang masih ditanami oleh sayran, sisanya adalah lahan kosong dengan penuh rumput.
“Suster, kenapa bagian ini tidak ditanami?”
“Kami belum sempat membeli benihnya.”
“Oh astaga, sebentar aku menelpon pengasuh Lucas,” ucap Rara mengeluarkan ponsel dan menghubungi wanita gemuk yang ada di bagian depan gereja di sana. “Hallo, bisakah kau kembali ke pasar dan membeli benih benih tanaman?”
🌹🌹🌹🌹
Lucas terlihat sangat menyukai wanita yang baru saja dia temui itu, tangannya terangkat ingin menyentuh dagu Suster Ami.
“Dia sangat tampan, tapi tidak mirip denganmu, Rara.”
Rara hanya tersenyum mengingat darimana Lucas mendapatkan gen yang sangat baik itu.Â
“Dia mirip Daddy nya, Daddy nya bekerja keras untuk Lucas,” ucap Rara, karena pada kenyataannya Luke memang bekerja keras dengan menahan segala sisi di tangannya agar Rara diam saat itu.
“Dia tidak ikut?”
Senyuman Rara memudar, dia menatap lurus pada patung bunda Maria di depannya. Mereka memang sedang berada di gereja sambil menunggu makan malam tiba. Rara akan menghabiskan waktu lebih lama di sini untuk ketenangan hatinya.
Melihat perubahan raut wajah Rara, membuat Suster Ami sedikit merasa bersalah. Dia berfikir ada masalah dengan ayah dari bayi di pangkuanya. “Maaf.”
“Itu bukan hal yang membuat kami terpisah jauh, Suster. Aku tetap sangat mencintainya saat ini juga, aku akan sedang menjauh sebentar untuk menyadarkannya.”
__ADS_1
“Sesuatu terjadi pada kalian, Nak?”
“Ya, Lucas adalah bayi di luar pernikahan.”
“Uh… bayi ini suci,” ucap Suster Ami mencium puncak kepala Lucas. “Lalu apa masalahnya? Kalian tidak menikah? Atau dia meninggalkanmu juga?”
“Dia pasti sedang mencariku, suster. Dia sangat mencintaiku.”
“Lalu apa masalahnya, kau ingin bercerita?”
Rara menarik napasnya dalam, memang ada sedikit rasa pilu melihat dirinya sendiri yang berumur 24 tahun begitu menyedihkan. Bagaimana dirinya di siksa dan dicaci maki membuat Rara mengasihani dirinya sendiri. Rara merasa menyesal tidak menolong dirinya sendiri saat itu.
“Aku pernah kehilangan arah, Suster. Kemudian Tuhan membuat ingatanku terhapus, dan munculan aku sekarang. Aku mungkin berumur 24 tahun, tapi aku masih merasa berumur 17 tahun. Aku masih ingat beberapa bulan lalu saat aku bangun dari koma, aku merasa itu adalah seminggu semenjak ulangtahun orangtuaku.”
Rara memberi jeda ceritanya dengan menatap jemari Lucas, dia menggenggam jemari mungil itu. “Lalu aku mulai melihat mimpi mimpi dimana di sana aku sedang disiksa, ada pria yang aku cintai di sana, dan sekarang aku tahu itu bukanlah mimpi. Tapi alam bawah sadarku yang memperlihatkanku tentang masa laluku.”
“Apa pria yang kau cintai itu memperlakukanmu dengan baik setelah kau membuka mata?”
Rara mengangguk kuat. “Dia sangat baik, dia mencintaiku. Dia memperlakukanku seolah aku adalah barang paling rapuh,” jelas Rara dengan semangat saat dia mengingat bagaimana Luke memperlakukannya.
“Lalu masalahnya adalah dia yang tidak berkata jujur? Kau kesal akan hal itu karena merasa dibohongi?”
Rara menggeleng dengan senyumannya. “Tidak, aku tahu kenapa dia menyembunyikannya. Karena tidak ingin terluka. Aku hanya…..,” ucapan Rara menggantung saat dia menatap Lucas penuh kasih sayang, menggenggam tangan mungil itu dengan penuh kehati-hatian. “Aku masih merasa menjadi remaja yang ingin mencoba berbagai hal dan melupakan sosok ini. aku takut…. Tidak menjadi ibu yang baik untuknya, aku takut dia tidak akan bangga memiliki ibu sepertiku. Aku tidak tahu apa apa, mentalku seperti ini. aku temperament dan masih penasaran akan hal hal baru seperti remaja pada umumnya. Aku tidak pantas.”
Rara meneteskan air matanya sambil menciumi tangan Lucas.
Membuat biarawati itu mengusap kepala Rara penuh dengan kelembutan, “Hei, Rara. Jika kau sampai menangisi Lucas seperti ini, jika kau memiliki banyak rasa takut untuk bayimu, maka kau pantas untuknya. Lihat, dia bahkan ingin berlari memelukmu, kau adalah ibu terbaik untuknya.”
Rara terkekeh di sela tangisannya saat Lucase merentangkan tangannya ingin digendong oleh Rara. Membuat perempuan itu memeluk Lucas dengan erat dan menciumi puncak kepala putra sulungnya itu.
“I love you, I love you,” gumam Rara di telinganya.
🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
TO BE CONTINUE