
Lima Tahun Kemudian.
Sosok Anak lelaki yang tampan memegang tangan seorang ibu yang telah berbaring selama lima tahun ini. Dia setia menunggu ibunya bangun.
" Mami, Jay datang. kapan mami bangun?" Tanya Lirihnya sambil menahan air matanya, setiap datang kesini dia selalu bertanya seperti itu terus.
" Mami tahu tidak Jay dapat juara 1 loh, Lihat Jay gambar apa hayo tebak? Jay Gambar mami menggandeng Jay..hiks kapan mami bangun huhuhu Jay sangat rindu mami huhuhu.." Tangisan anak kecil itu pecah.
Lima tahun kurang tiga bulan yang lalu Yeojin melahirkan seorang bayi laki-laki dengan operasi meski keadaan bayinya sehat tetapi prematur. Selama ini Dia hidup dibawah pengawasan keluarga Do, meskipun mereka baik dengannya tetapi dia merasa tidak nyaman.
Pada umur tiga tahun Jay Lee memasuki keluarga Do, mereka menatap Jay Lee dengan tatapan tidak sukanya. Meskipun umurnya masih kecil tetapi Dia sangat peka.
" Paman sepertinya keluarga paman tidak suka denganku!" seru Jay kecil.
" Meskipun mereka tidak suka tapi ada paman, kamu tenang saja ya." jawab Daniel Do.
" Berhenti kau Daniel, siapa yang menyuruh kau bawa anak tidak jelas itu hah!!" teriak seorang lelaki tua yang disebut dengan tetua Do.
" ini anak Nina bukan anak tidak jelas." jawab Daniel dengan dingin. Jay kecil hanya memegang tangan Daniel dengan erat, hatinya merasa takut sekali.
"Nina? Kau tahu jelas bahwa Nina sudah meninggal tiga tahun yang lalu dan kau membawa abunya, apa kau lupa?!!" Tanya Tetua itu dengan keras.
" Nina masih hidup!! inilah anaknya nina denganku!!" bentak Daniel Do. Dengan keras kepalanyaDia tetap bawa Jay masuk keluarganya.
Selama dua tahun lebih Jay hidup dengan keras, setiap Daniel pergi dengan urusan perkerjaannya dan meninggalkan Jay bersama Keluarganya. Dia mengalami penghinaan dari sepupunya, Dia banyak menghabiskan waktunya untuk menemani ibunya dirumah sakit.
" mami kenapa mereka marah sama Jay, memangnya Jay salah apa?" Keluh Jay kecil yang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
" Kata Papi, aku harus jadi anak yang kuat biar mami cepat bangun."
" Mami, bagaimana rasanya dipeluk oleh mami? temanku banyak yang bilang kalau disaat kita sedih terus dipeluk oleh ibunya pasti rasa sedihnya akan hilang."
" Oh iya mami, apa benar Jaybukan anak papi? Bibi Soo bilang bahwa Jay bukan anak papi karena tidak mirip dengan papi. padahal papi bilang bahwa Jay mirip dengan mami jadi tidak mirip sama papi."
" Mereka tidak menyukai Jay huhuhu." mulut kecilnya mengeluarkan kata-kata yang disimpan oleh hati kecilnya.
Tangisan kini memenuhi ruangan, perawat dan dokter hanya menatap kasihan. sudah beberapa tahun ibunya tidak bangun dari komanya. umur sekecil itu harus mengalami keadaan seperti itu.
.....
Jay berjalan meninggalkan rumah sakit dengan kaki kecilnya dengan penuh semangat, Dia harus ceria biar maminya tidak sedih ketika bangun nanti.
" Aduh..." Seru Jay jatuh karena menabrak seseorang lelaki tampan yang sedikit mirip dengannya.
" Ayo bangun. hati-hati kalau jalan ya." seru lelaki itu sambil membantu Jay bangun.
" Maafkan Jay paman tidak hati-hati pas jalan tadi." seru Jay meminta maaf dengan sopan. Mata mereka bertemu ada rasa nyaman pas Jay menatap Lelaki itu.
" Ka...kamu mirip Jiy-"
__ADS_1
" Papi...ayo kita masuk, nenek sudah menunggu loh." seru Anak perempuan dengan nada manjanya.
Lelaki itu hanya tersenyum sebagai balasan dari perkataan anaknya. " Baiklah, papi akan segera kesana." jawab Lelaki itu.
Lelaki itu menoleh anak laki-laki dihadapanya, Dia mengelus rambut kepalanya Jay. " Lain kali hati-hati ya, Daah." seru Lelaki itu sambil berjalan meninggalkan Jay yang menatap punggung Lelaki itu semakin lama semakin hilang.
Deg...Deg...Jantung Jay berdetak kencang ada rasa nyaman disaat Lelaki itu Mengelus rambut Jay. " Kok rasanya aneh." Lirihnya lalu dia keluar dari gedung rumah sakit dan kembali kerumahnya.
Lelaki itu menatap Jay sendari tadi " Hallo, tolong selidiki anak yang tadi nabrak aku." Lirihnya kepada seseorang yang akan membantunya.
" aku tidak salah, Dia mirip dengan Jiyeon." Guman kecilnya.
....
Jay berjalan memasuki rumah dengan kaki kecilnya belum sampai dipintu sudah tidak disambut oleh Tetua yang menggandeng seorang anak perempuan yang wajahnya sangat mirip dengan Ayahnya, Daniel Do.
mereka berjalan melewati Jay yang lebih menyedihkan mereka bahkan tidak memedulikan kehadiran Jay.
" Kau tahu siapa anak kecil itu?" seru Bibi Soo kepada Jay, Dia hanya mengerut keningnya.
" Dia adalah anak kandung kak Daniel, berarti kehadiranmu tidak dibutuhkan lagi. Jadi aku harap kamu keluar dari sini." Bisik Bibi Soo.
Meskipun perkataannya kejam tetapi ada benarnya juga kini anak kandungnya sudah ditemukan jadi Jay kapanpun akan dilupakan. Bibir mungilnya kini berdetar menahan air matanya.
Setelah mendengar perkataan bibi soo Jay mengemasi barang kedalam tas, niat untuk keluar dari rumahnya kini semakin kuat.
Dia berjalan kearah ruang belajar Ayahnya dan mengetuk pintu.
" Masuk." Seru Ayahnya dari dalam ruangan.
Setelah disuruh masuk Jay baru masuk dan duduk dikursi kemudian menghela nafasnya.
" Ada apa, sepertinya gelisah?" Tanya Daniel Do lembut.
" Papi, tadi siapa?" Tanya Jay penasaran.
" Nami,-"
" Anak kandung papi?" Tebak Jay, Daniel hanya menganggukan kepalanya atas tebakan Jay.
" Oh....Jadi benar kata mereka, aku bu..bukan anak papi lalu aku anak siapa?" Lirih Jay sambil menahan air matanya.
" Maafkan aku Jay, Selama ini aku terlalu terobsesi oleh istriku yang meninggalkan. sejak itu aku bertemu dengan ibumu, aku mengira bahwa Nina masih hidup karena itu aku mengadopsimu sebagai anakku. tolong maafkan aku." Jelas Daniel pelan.
Jay hanya diam saja.
" Meskipun kamu bukan anak kandungku, kamu tetap jadi kakaknya Nami. tolong jangan ting....."
"aku kesini hanya meminta izin untuk tinggal diasrama sekolah." Seru Jay.
__ADS_1
" Bukannya dari awal kamu tidak mau?" Tanya Daniel.
" Jarak dari asrama ke rumah sakit lebih dekat." Jawab Jay.
" kalau itu yang kau mau, baiklah." pasrah Daniel.
Jay tersenyum dan pamit kepada Daniel, Dia berjalan keluar dari ruang baca Daniel. mimik wajahnya kini berubah menjadi sedih.
" Kalau aku bukan anak papi berarti anak siapa? Cihhh...sungguh menyedihkan kau Jay, Papi kandung saja tidak punya dan mamimu masih tidur entah kapan bangunnya." Dalam hatinya.
" Huhuhuhuhuhuhu." Tangisannya pecah memenuhi kamarnya. Seseorang sejak tadi mendengarkan tangisan Jay.
" sungguh malang nasibnya, anak sekecil dia harus mengalami keadaan seperti ini. sungguh kasihan." lirihnya kemudian mengetuk pintu kamar Jay.
"Tok....tok....tok... Jay, ayo makan dulu. Kakak bawa makanan sop pangsit kesukaan Jay. kakak masuk ya?" Seru orang yang mengetuk pintu.
" Masuk saja kak!" seru Jay sambil menghapus air matanya.
Do Shin hee masuk kekamar Jay sambil membawa semangkuk Sop pangsitnya, hanya dia yang dirumah ini sayang kepadanya selain Daniel Do. " kau ada masalah? Ayo ceritakan pada kakak!" Seru Do Shin Hee sambil memeluk Jay.
" Jay tidak apa-apa kok kak." Jawab Jay sambil tersenyum polos.
" kamu serius? aku mendengar bahwa kamu besok akan tinggal diasrama." Tanya Do Shin Hee.
" Iya, karena asrama lebih dekat dengan rumah sakit hehehe." tawa Jay.
" Baiklah, kakak akan mengantar besok. Oh iya, kakak akan membawa sop aku suapin ya?" Seru Do Shin Hee.
Do Shin Hee menghabiskan menemani Jay makan dan tidur, Dia mengelus rambut Jay dengan lembut. " Ya Tuhan, Tolong sembuhkan maminya Jay dan berikan kebahagian yang semestinya kepada Jay. Kakak sayang Jay, Jangan sedih lagi ya." bisik Do Shin Hee sambil menghapus air matanya yang mengalir begitu saja.
....
Dengan Janjinya Daniel dan Shin Hee mengantar Jay tinggal diasrama, Jay menatap keluar jalan yang sering dilaluinya. " Jay harus jaga kesehatan, jangan lupa kalau sekolah libur mampir kerumah saja atau cari Kakak ke kantor kakak pekerja oke!" Seru shin Hee.
" Baik kak, aku sudah ingat semuanya." Jawab Jay.
" Baik-baik ya disana, Jangan merasa kalau kamu sendirian. Betul kan Kak Daniel?" Tanya Shin Hee kepada Daniel.
" Iya." jawab Singkatnya.
Sesudah sampai disana Shin Hee memeluk Jay dan memberi hormat kepada gurunya Jay.
" Bu guru, aku titip Jay. jaga keponakanku dengan baik." Seru Shin Hee sebenarnya tidak rela berpisah dengan Jay.
" Sudahlah, ayo kita pulang." Seru Daniel Do tanpa memedulikan Jay. sikapnya dingin setelah anak kandungnya ditemukan, Dia bahkan tidak memedulikan Jay lagi.
Jay menatap pungung papinya dengan tatapan nalarnya, Dia merasa telah terbuang. air matanya mengalir begitu deras " JAY SAAYANG PAPI!!" Teriak Jay lalu dia berlari masuk kedalam asrama.
.
__ADS_1
.
.