
🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK SEMUANYA🌹
🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123🌹
🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN SEMUA🌹
Rara panik, anak satu satunya hilang entah kemana. Bahkan dia siap menghubungi kepolisian jika dalam lima menit sang anak belum ditemukan juga.
"Mommy," sebuah suara mengintrupsi semua sarafnya.
Yang mana membuat Rara segera membalikan badannya, dia kaget saat melihat Lucas ada di hadapannya. Seketika Rara menarik napas dalam dan memeluk Lucas. Dia hampir saja menangis saat itu juga karena putra sulungnya itu.
Lucas yang merasakan kesedihan sang Mommy itu membalasnya dengan pelukan yang erat. Dia merasakan bagaimana kegundaan sosok perempuan itu. “Maaf, Mommy,” ucap Lucas peka.
Yang mana membuat Rara segera merangkup pipi sang putra. “Jangan menghilang seperti itu lagi ya, Mommy khawatir denganmu. Okay?”
“Lucas membeli ini untuk Mommy,” ucapnya mengeluarkan sebuah jepit berbentuk bunga. “Mommy cantik, jangan khawatir Daddy akan menyukai perempuan lain.”
Rara seketika tertawa, ternyata putranya seringkali mendengar percakapannya dengan sang suami. “Terima kasih, bisa kau pakaiakan pada Mommy?”
Lucas mengangguk dan memakaikannya pada sang Mommy, kemudian diberikannya kecupan di pipi sosok itu. “Terima kasih untuk Mommy,” ucap Lucas seolah mengungkapkan bertapa dirinya tidak bisa apa apa tanpa sosok di depannya.
“Ini cantik sekali… uh, anak tampan Mommy. Mommy mencintaimu.”
“Lucas tau, dan Lucas lapar,” ucapnya melepaskan pelukan terlebih dahulu kemudian melangkah duduk di kursi yang sebelumnya ditempati kedua orangtuanya.
Yang mana membuat Rara menyipitkan mata sambil tersenyum jahil. “Dia punya sifat seperti Daddy-nya astaga. Dasar tsundere,” gumam Rara kemudian ikut duduk.
“Lucas, sepertinya kau nanti harus punya kekasih yang sedikit lebih banyak bicara.”
“Huh?”
“Supaya rumah milikmu nanti tidak sepi, bagaimana?”
“Mommy, Lucas masih kecil.”
“Eh…, dasar bocah tampan. Kau benar benar turunan Daddy-mu,” ucap Rara kemudian memberikan sushi untuk putranya. “Makanlah.”
__ADS_1
“Daddy mana?”
Saat itu juga Rara sadar, satu lagi element dalam hidupnya yang hilang. “Astaga, dimana dia?” matanya mengedar.
Sampai sosok itu terlihat di ambang pintu restaurant dengan terengah-engah. “Astaga… Honey, aku sudah memanggil kepolisian untuk menemukan Lucas,” ucap Luke menatap manik sang istri.
“Um, aku rasa tidak perlu. Dia sudah ada di sana,” tunjuk Rara pada putranya yang sibuk makan.
Manik Luke terbelalak seketika. “Seriously? Itu dia? Bukan hantunya?”
Rara tersenyum kemudian mendekati sang suami, merangkup pipinya sebelum menjatuhkan kecupan di pipinya. “Itu hadiah untukmu, ayo kita makan. Nanti malam kita bisa berduaan, oke? Jangan memarahinya, dia hanya mencarikan hadiah untukku.”
🌹🌹🌹🌹
“Jangan pernah lakukan itu lagi, jika akan mencari hadiah atau Mommy, beritahu Daddy. Daddy akan membantumu. Apalagi ini di negara orang lain, kau tidak bisa melakukan itu seenaknya, Lucas. Jangan berjauhan dengan Mommy ataupun Daddy. Satu kemungkinan jika kau tersesat, kau akan diculik, bukan dibantu.”
“Tapi aku bisa pergi ke pos polisi,” ucap bocah itu mengerucutkan keningnya.
“Ya, tapi fikirkan bagian terburuknya. Bagaimana jika penculik itu membawamu saat kau bertanya padanya dimana pos polisi, atau saat kau dalam perjalanan menuju pos polisi.”
Lucas memilih diam daripada membantah Daddy-nya yang sedang menyetir, dia takut konsentrasi sang Daddy hilang kemudian kesialan menempel pada mereka.
“Daddy menyayangimu, kau paham bukan?”
“Yes, Daddy. Iam sorry.”
“Anak pintar, jangan lakukan itu lagi ya? Jika perlu bantuan mencari sesuatu, harus bersama orang dewasa yang kau kenal.”
“Oke, Daddy.”
Rara hanya tersenyum mendengarkan, sementara pandangannya menatap keluar jendela mobil. Tentu saja sang suami berhak memarahi putranya, mendidiknya dengan caranya asalkan tidak menggunakan kata-kata kasar dan pukulan fisik. Rara tahu betul, campur tangan sang suami dalam mendidik putranya itu sangat dibutuhkan.
“Aku benar-benar merindukan negara ini,” gumam Rara.
Luke menggenggam tangan sang istri. “Kau yakin akan membeli villa itu?”
“Ya, ayo kita lihat villa itu.”
__ADS_1
Masalahnya, villa itu bekas Medina. Sebenarnya Luke ingin melepaskan semua yang berkaitan dengan Medina. Namun sang Kakek memintanya membantu keluarga itu, setidaknya dengan membeli villa kemudian menyewakannya saja pada orang lain.
Begitu sampai di tempat tujuan, manik Rara terkesima dengan bangunan yang begitu megah dan juga memiliki nilai seni yang tinggi. “Well, Medina benar benar tau seni.”
“Mommy akan membeli villa ini?”
“Bukan Mommy, Sayang. tapi Daddymy.”
“Kita bahkan belum melihatnya, ayo kita periksa.”
Ketika Rara keluar dari mobil, maniknya menangkap sosok perempuan tua yang sepertinya sudah menanti kedatangannya. “Selamat datang, Tuan dan Nyonya Russel. Saya Himme penjaga villa ini.”
“Hallo, Himme. Kudengar villa ini memiliki akuarium besar di dalamnya. Bisa kita melihatnya?” tanya Rara.
“Ah tentu, hanya saja sepertinya kita harus menunggu suamiku.”
“Kenapa?” tanya Luke yang kini menggendong Lucas. “Apa kuncinya ada padanya?”
“Tidak, kuncinya jatuh ke bawah kursi itu. Bagian bawahnya sangat sempit dan juga berat, jadi suamiku sedang meminta bantuan orang lain.”
Luke menurunkan Lucas. “Sebentar,” ucapnya kemudian mencoba mengangkat kursi kayu itu.
Dan benar saja, sangat berat. Bahkan tidak bergeser sedikitpun. “Astaga, terbuat dari apa kursi itu?” gumam Luke mengusap pinggangnya.
“Biar aku coba,” ucap Rara.
“Honey, kau ak⸻ OH MY GOD!” Luke terbelalak kaget melihat Rara dengan mudah mengangkat kursi itu dengan satu tangan, kemudian tangannya yang lain mencari-cari kunci di bawah sana.
“Dapat,” ucap Rara dengan penuh kegembiraan, dengan santainya dia memutar kunci dan masuk lebih dulu. “C’mon guys, aku tidak sabar melihat villa ini.”
🌹🌹🌹🌹
 
 
TO BE CONTINUE
__ADS_1