Wanita Simpanan CEO

Wanita Simpanan CEO
Season 2 : Pertemuan di Guarda


__ADS_3

🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK SEMUANYA🌹


🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123🌹


🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN SEMUA🌹


Suara tangisan membuat Rara mengalihkan pandangannya, dia segera menghentikan aktivitas membuat adonan kue. "Tolong lanjutkan ini," ucap Rara pada pelayan di sana.


"Baik, Nyonya."


Sementara Rara melangkah mencari anaknya yang sedang menangis. Itu berasal dari arah halaman belakang, Rara mengerutkan keningnya melihat sang pengasuh Lucas kebingungan dan sedang berusaha menghentikan tangisan anak itu.


"Kenapa dia?"


"Saya tidak tau, Nyonya. Sejak tadi Tuan Muda memeluk bukunya sambil menangis."


"Biar aku saja," ucap Rara mendekat dan duduk di karpet yang terbentang di halaman belakang rumah. Dia menatap Lucas yang menangis kencang, matanya terpejam saking kuatnya tangisan. Jika seperti ini, maka Rara menduga sesuatu yang menyakiti hatinya begitu dalam.


Tangan Rara terangkat untuk mengusap rambut Lucas supaya tidak menghalangi dahinya. "Hei, kenapa?"


"Huaa….. Mommy."


"Kenapa? Apa sesuatu menggigitmu? Atau buku itu tidak sebagus ekspektasimu?" Tanya Rara


Biasanya Lucas menangis memang karena bukunya tidak sesuai ekspektasi, dimana jika dia berusaha belajar hal baru dan malah membuatnya pusing. "Iya? Karena itu?"


"Bukan, Mommy," ucap Lucas perlahan berhenti menangis, dia membuka buku untuk memperlihatkan apa yang membuatnya menangis. "Look at."


"What?" Gumam Rara mencoba menahan tawanya. Bibirnya berkedut tidak tahan melihat kotoran burung yang mengotori buku tersebut. "You cry because this? Because your book?"


"Ini kotoran, Mommy," ucap Lucas memejamkan matanya dan kembali menangis. "Ini karena kita berada di tengah hutan, Mommy."


Rara tertawa dan membawa Lucas ke dalam gendongannya. Mereka memang sudah berada di Guarda untuk menyambut kedatangan teman teman Luke. 


"Sudah jangan menangis, bukannya sekarang kau sudah berusia empat tahun, Lucas Sayang? Ah, Mommy lupa, sebentar lagi kau akan berusia lima tahun. Sudah jangan menangis."


"Hiks…. Buku buku itu menyakitiku."


"Bagaimana kalau membagi mainanmu di kamar kamar yang akan ditempati Uncle Sebastian dan Uncle David? Mereka datang dengan anak anak mereka."


Lucas mengangguk dan melingkarkan tangannya di leher sang mommy, membiarkan ibunya menggendong ke dalam rumah.

__ADS_1


"Bagaimana nasib buku milik Lucas?"


"Nanti akan dibersihkan."


"Tapi nanti bau."


"Kalau begitu kita beli lagi."


"Kita tidak boleh menyia nyiakan buku."


 "Lalu apa solusinya?" Tanya Rara yang seringkali berdebat dengan Lucas dalam hal seperti ini.


"Um…. Nanti saja di pikirkannya."


Rara menurunkan Lucas di kamar utama, tempat Rara, Luke dan Lucas tidur bersama nantinya. Kamar Lucas akan dipinjam oleh anak anak Lily dan David karena katanya mereka ingin tidur bersama dengan Oma mereka.


Ah, Rara tidak sabar menanti kedatangan mereka dan membiarka rumahnya penuh dengan kehangatan.


"Mainan apa saja yang akan kau berikan?"


"Anak dari Uncle Bastian itu perempuan, tapi Lucas hanya punya robot."


"Um… baiklah. Dan ini buku untuknya," ucap Lucas membariskan boneka dan buku yang akan dipinjamkannya pada anak dari Sebastian.


Kening Rara berkerut. "Buku? Sayang, dia baru berusia tiga tahun."


"Tidak apa, mungkin saja dia akan suka."


"Lucas, dan ini bahasa Yunani. Dia mana paham."


"Kita coba saja," ucap Lucas menatap Rara dengan mata bulatnya. "Jika dia suka maka dia akan banyak membaca daripada lari lari."


Rara hanya menghela napas. Putranya ini entah mirip siapa.


🌹🌹🌹🌹


Rara kembali ke dapur untuk memasak setelah memastikan anaknya tertidur di kamar. Ini sudah siang, seharusnya ada banyak camilan yang sudah siap.


"Kate, apa makanannnya sudah siap?"


"Belum sepenuhnya, Nyonya. Bisakah anda ikut saya? Sepertinya kita kekurangan cokelat, jika tidak warnanya akan seperti ini."

__ADS_1


Rara mengikuti langkah Kate kemudian tatapannya tertuju pada toping cup cake di atas meja. "Benar, kita butuh lebih banyak cokelat. Ini paskah, kita juga harus menyembunyikan telur untuk anak anak bukan?"


"Untuk telur kami sudah menyiapkannya," ucap Kate membukakan kulkas dan memperlihatkan cokelat berbentuk telur. "Tinggal dibungkus saja."


"Oke, aku dan yang lain yang akan melakukannya."


Dan saat Rara memeriksa yang lainnya, dia mendengar sebuah mobil yang masuk ke pekarangan depan. Mustahil itu Luke karena suaminya sedang sibuk di perusahaan agar paskah nanti bisa berkumpul.


Dengan langkah cepat, Rara menuju ke halaman belakang. Dia tertawa tidak percaya melihat mobil sport yang memasuki pekarangannya. "Apa kalian gila? Mobil sport? Hei, apa batu batu di depan sana menggores mobilmu?"


Sebastian --sahabat dari suami Rara-- itu memicingkan matanya melihat Rara yang tertawa sambil menyilangkan tangannya di dada. "Kau tidak memberitahuku bagaimana medan di sana."


"Aku memberitahu Nana akan hal itu."


Nana --istri sebastian-- yang baru saja keluar itu hanya menghela napas. "Ini membuktikan bahwa aku juga manusia, Mas."


"Wah, aku tidak percaya kalian benar benar datang. Kita hanya banyak berbincang di telpon. Dan Nana, tidak masalah aku memanggilmu nama bukan? Kita hanya beda beberapa--"


"Kau Tuan rumah di sini?" Tanya Nana yang kesulitan menggendong Joy yang tertidur. 


"Ya, aku Rara. Kita sering Video Call, tidak mungkin kau melupakan wajah cantikku bukan?" Rengek Rara.


"Maka buat dirimu berguna, bantu aku," ucap Nana.


"Hahaha, okay okay." Rara mendekat.


"Hallo, Aunty Rara." Sapa seorang anak kecil yang merupakan adik tiri Sebastian yang ikut. Usianya baru 10 tahun.


"Hallo, Mike. Kau punya kamar sendiri jangan khawatir."


"Terima kasih."


"Kau bisa menidurkan Joy di kamar yang ada di sebelah kanan lantai dua."


"Kenapa tidak kau tunjukan sendiri sembari membawakan barang barangku? Bukankah kau akan membantu membawakannya?"


"Woaaahh…." Rara terpukau. "Di dunia nyata kau lebih realistis."


🌹🌹🌹


To Be Continue

__ADS_1


__ADS_2