Akhir Penderitaan Clarisa

Akhir Penderitaan Clarisa
Part 9


__ADS_3

Risa menghela nafasnya kecewa. Namun ia tidak mau banyak protes dengan sikap Bagas. Mungkin saja Bagas seperti itu karena memang dirinya lelah,apalagi permainan tadi,Bagas lah yang bekerja keras. Begitulah pemikiran Risa. Risa pun memilih memejamkan matanya kembali.


Satu jam waktu yang di perlukan Bagas untuk beristirahat,kemudian ia meminta Risa untuk bermain kembali. Dan malam itu, empat kali sudah Bagas melakukan hal itu pada Risa. Dan selalu berakhir dengan Bagas yang memunggungi Risa.


🍀🍀🍀🍀🍀


Pagi ini Risa terbangun karena suara alarm yang berbunyi dari hp nya.


"Eugh..." Risa mengerjapkan matanya. Ia mengambil hp dari atas nakas dan mematikan alarm.


Ia melihat ke sebelahnya. Tak ada lagi Bagas di sebelahnya.


"Mas Bagas mana?" Lirih Risa. Ia pun mendudukkan tubuh nya.


"Auw.." pekik Risa saat merasakan sakit dan perih di bagian intinya. Namun sekuat tenaga Risa mencoba untuk bangkit dari tempat tidurnya. Ia berjalan memungut pakaiannya yang ada di lantai.


Dengan langkah pelan,Risa berjalan menuju kamar mandi yang ada di kamarnya itu.


Tok tok tok. Risa mengetuk pintu kamar mandi. Ia pikir Bagas ada di dalam kamar mandi.


"Mas...mas Bagas di dalam?" Karena tak kunjung ada jawaban,dan Risa pun tidak mendengar suara air. Risa pun membuka pintu kamar mandi. Ternyata Bagas tak ada di dalam.


"Kok gak ada. Kemana mas Bagas? Apa dia lagi bikinin sarapan buat aku?" Risa bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Ia pun melangkahkan kaki nya keluar dari kamar menuju dapur. Namun lagi dan lagi,ia harus menelan kekecewaan karena ternyata Bagas juga tak ada di dapur.


Risa pun kembali ke dalam kamar.


Ia mengambil hp nya dan melakukan panggilan ke nomor Bagas.


"Halo mas.." sapa Risa saat Bagas menerima panggilannya.

__ADS_1


"Iya,kenapa?"


"Mas Bagas dimana,kok aku bangun mas Bagas gak ada?!"


"Yah pulang lah Ris,masa aku mau nginap disitu kan gak mungkin. Habis permainan terakhir kita,aku langsung pulang." Jawab Bagas dengan entengnya. Ia tak sadar ada hati yang sangat terluka mendengar jawaban Bagas.


"Kok kamu gak pamitan sih mas?" Tanya Risa kesal.


"Aku lihat kamu tidur pulas banget,aku gak tega bangunin kamu."


"Tapi mas..."


"Udah gak usah besar-besarin masalah. Mending sekarang kamu siap-siap berangkat kerja. Aku gak bisa jemput kamu hari ini,karena aku datang agak siangan. Aku mau antar mama berobat dulu." Bagas pun langsung mengakhiri panggilan dari Risa.


Melihat Bagas mengakhiri panggilan telepon secara sepihak hati Risa semakin sakit.


"Kenapa setelah kamu melakukan itu pada ku,kamu berubah mas. Kenapa???!!!" Risa tak kuasa menahan tangisnya. Ia menangis sesunggukan meratapi kebodohannya.


Dengan menahan rasa sakit di bagian intinya,Risa masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Bagas sangat pintar,ia tak meninggalkan jejak kepemilikannya di leher Risa,namun ia meninggalkan jejak kepemilikannya di bagian tubuh Risa yang bisa tertutupi pakaian.


Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan,Risa pun keluar dari unit apartemennya menuju tempatnya bekerja. Sebenarnya hari ini ia memilik shift siang. Namun karena tamu VIP menginginkan dirinya yang mendampingi bermain golf,mau tak mau Risa pun memenuhi panggilan pagi ini.


⭐⭐⭐⭐⭐


"Hei..Clara,udah di tunggu pak Arnold tuh di ruang tunggu.." kata salah satu rekan kerja Risa sesama caddy golf.


Selain Adit,Bagas dan Ayu,teman-teman Risa sesama caddy memanggil Risa dengan panggilan Clara. Kata mereka nama Risa tidak cocok untuk wajah Risa yang cantik. Risa pun setuju-setuju saja dengan nama baru yang teman-temannya berikan.


"Pak Arnold udah dateng dari tadi May?" Risa balik bertanya pada Maya,teman seprofesinya itu.


"Sepuluh menitan lah."

__ADS_1


Setelah mengganti baju seragam,Risa pun berlari kecil menuju ruang tunggu dimana tamu VIP nya sudah menunggu.


"Pagi pak Arnold,maaf saya telat." Risa menyapa pak Arnod sang tamu VIP itu,sekaligus meminta maaf atas keterlambatannya. Sebenarnya bukan salah nya juga,karena Risa baru di beri tahu setengah jam sebelum janji temu dengan pak Arnold."


Pak Arnold melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Gak pa-pa,cuma telat sepuluh menit."


Mereka pun menuju lapangan golf dengan menaiki mobil golf.


Setelah hampir dua jam menemani Pak Arnold bermain golf,akhirnya Risa dapat beristirahat juga. Ia pergi ke kantin untuk membeli makanan,karena sejak pagi ia belum mengisi perutnya. Ditambah lagi semalam Bagas habis menggempurnya.


Risa berjalan ke bangku kosong di kantin itu dengan memegang nampan.


"Hai Ra.." panggil Silvia pada Risa yang baru saja duduk.


Risa menoleh. Ia memutar bola matanya malas saat melihat kehadiran Silvia,karena Silvia adalah salah satu orang yang tidak menyukai hubungannya dengan Bagas.


"Belagu banget sih loe mentang-mentang pacaran sama anak pemilik tempat ini?" Gunjing Silvia pada Risa.


"Mau loe apaan sih?? Heran gue,gue gak pernah ganggu loe,kenapa loe selalu ganggu gue.!!"


"Dih gak nyadar.!! Loe tuh gadis kampung,gak pantes buat pak Bagas.!! Pasti loe deketin pak Bagas pake tubuh loe kan!!!" Bukannya diam Silvia malah makin menghina Risa.


Risa memejamkan matanya dan menarik nafasnya dalam-dalam,mencoba untuk menenangkan hatinya agar tak terpancing dengan kata-kata Silvia.


"Kenapa diem aja loe?? Bener kan yang gue bilang!!! Asal loe tau yah pak Bagas itu udah punya tunangan,tunangannya itu model. Sekarang loe boleh seneng bisa jadi pacar pak Bagas,tapi kalau tunangannya pak Bagas udah pulang dari Paris,kelar hidup loe!!! Gue yakin seratus persen kalau loe pasti langsung di campakkin sama pak Bagas.!!"


Mendengar kata-kata Silvia,emosi Risa tak bisa di bendung lagi. Risa langsung menggebrak meja.


BRAAAAAK

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2