
Alex melangkahkan kakinya menuju kamar hotel tempat ia dan Risa bertemu.
Tok tok tok. Alex mengetuk pintu kamar hotel.
Ceklek. Risa membuka pintu kamar itu.
"Hai Darl.." sapa Risa.
Dia sudah menggunakan lingerie,menampilkan dengan jelas lekuk tubuhnya.
Alex segera masuk ke dalam kamar. Dia duduk di sofa di depan ranjang.
"Apa yang udah loe dapat?" Tanya Alex to the point.
"Sabar Darl,ngapain sih buru-buru. Mending kita seneng-seneng dulu." Risa merayu Alex dengan duduk di pangkuan Alex dan membelai rahang tegas Alex dengan jemarinya. Ia sudah sangat merindukan lelakinya.
"Gue mau liat dulu hasil kerja loe."
Risa memanyunkan bibirnya tak suka,ia lalu berdiri dan mengambil amplop yang berisi rekaman video saat dirinya bersama Irlan di kafe tadi.
"Nih.." Risa melempar amplop itu ke wajah Alex.
Alex membuka amplop dan melihat hasil rekaman.
"Gimana,puas loe sama videonya? Kalau belum,gue bisa bikin lagi. Tapi bayarannya lebih mahal,karena ternyata tuh cowok susah banget buat tergoda sama gue." Bayaran yang di maksud Risa bukan lah uang atau barang branded,melainkan waktu Alex bersamanya yang harus lebih lama. Karena semenjak kepulangan Nia,Alex tidak pernah punya waktu dengannya.
Alex tersenyum licik.
"Gak usah,ini udah cukup. Gue akan screen shoot beberapa bagian."
Alex menaruh kembali rekaman itu ke dalam amplop. Dan menaruh amplop itu diatas nakas di samping sofa.
Dia beranjak dari duduknya,dan mendekat ke arah Risa yang sedang berdiri di depan jendela menikmati wine.
Alex memeluk Risa dari belakang. Memberikan kecupan-kecupan nakal di leher Risa.
"Makasih Darl.." bisik Alex ditelinga Risa dengan nafas yang memburu.
__ADS_1
Nafsu Alex sudah meninggi saat melihat Risa membuka pintu tadi.
Risa pun terangsang saat Alex berbisik di telinganya. Dia langsung membalikan tubuhnya menghadap Alex dan ******* bibir Alex dengan rakusnya.
Mereka pun saling memberikan cumbuan-cumbuan. Risa mulai membuka pakaian Alex satu persatu sampai tubuh Alex polos,begitu pun Alex,hanya dengan sekali tarikan kini tubuh Risa sudah polos.
Mereka sudah sama-sama tidak sabar lagi, Alex mendorong tubuh Risa terlebih dulu ke atas ranjang dan mengukung tubuh Risa.
Tak perlu menunggu lama,Alex pun memasukkan miliknya ke bagian intim Risa. Dan pertarungan sengit yang mengeluarkan keringat dan desahan-desahan kenikmatan pun terjadi.
"Jadi apa rencana loe abis ini Darl?" Tanya Risa disela-sela pergulatan mereka.
Gak usah ditanya lagi,yang jelas gue akan buat Nia benci sama dia."
"Wow...terus apa loe akan nikah sama anak konglomerat itu?"
Jelas lah,cuma dengan cara nikahin dia,perusahaan bokap gue bisa lebih maju. Jadi gue gak usah pusing-pusing cari investor."
"Apa kita masih bisa kayak gini kalau loe udah nikah."
"Tergantung.."
"Kalau Nia bisa puasin gue seperti loe yang selalu bisa muasin gue,gue gak butuh loe lagi. Tapi kalau loe mau,sekali-sekali boleh lah.."
"Ish nyebelin!!" Risa memukul dada Alex. Sebenarnya Risa sangat geram mendengar kata-kata Alex itu.
Alex merasakan kalau dirinya sudah mau sampai di puncaknya. Dia semakin mempercepat ritme pinggul nya. Dan sampai lah Alex di puncak bersamaan dengan Risa.
Mereka berdua sama-sama mengerang panjang. Alex tumbang diatas tubuh polos Risa.
Alex menarik miliknya dari bagian inti Risa dan membaringkan tubuhnya di samping Risa.
"Darl.." Risa memeluk Alex.
"Hemh.." dengan deru nafas yang masih belum teratur.
"Aku harap hubungan kita masih tetap berlanjut sekalipun kamu udah nikah sama dia nanti."
__ADS_1
"Kita liat nanti aja Darl..oke..!" Alex membalas pelukan Risa dan mengecup puncak kepala Risa.
Sebenarnya Alex juga masih ingin berhubungan dengan Risa,jika ia sudah menikah dengan Nia nanti. Tapi Alex takut perbuatannya akan ketahuan oleh Nia atau papa Niko,kalau sampai itu terjadi,apa yang selama ini Alex usahakan menjadi sia-sia.
Keesokan harinya,Alex mendatangi Nia ke kantornya untuk meminta maaf atas kejadian kemaren sekaligus untuk menjemput Nia,meski sebenarnya ini belum jam pulang kerja. Namun sayang,ternyata ada meeting di luar kantor. Alex yang di beritahu sang sekretaris kalau Nia meeting di restoran xxx,memilih untuk menyusul Nia kesana.
Kini Alex sudah berada di restoran xxx tempat Nia sedang meeting. Hampir satu jam Alex menunggu,tapi Nia tak kunjung keluar dari private room. Membuat Alex bertanya kepada resepsionist restoran.
"Mbak,room atas nama Pratama Group belum check out yah?" Tanya Alex.
Resepsionist itu pun mengecek.
"Belum pak."
"Di dalam itu ada siapa saja?" Tanya Alex,takut-takut kalau Nia ternyata di dalam bersama Irlan.
Sewaktu sekretaris Nia mengatakan kalau Nia ada meeting dengan Presdir Pratama. Group,hati Alex sedikit lega karena Presdir Pratama Group masih di pimpin oleh Tian Pratama,alias papa Irlan. Alex sama sekali tidak kepikiran kalau bisa saja Irlan menggantikan papa nya.
"Ada pak Irlan selaku Presdir Pratama Group dan ibu Niana selaku Presdir Dirgantara Group."
Mata Alex membelalak mendengar nama Irlan yang menjadi Presdir Pratama Group.
"Cuma mereka berdua?!" Tanya Alex terkejut.
"Iya pak."
"Di room berapa mereka?" Tanya Alex dengan emosi yang sudah menggebu-gebu.
"Maaf pak,itu rahasia. Kami tidak bisa memberikan informasi kepada pihak lain."
Tiba-tiba saja ia langsung teringat dengan rekaman yang sudah ia screen shoot dan sudah di pindahkan Alex ke hp yang baru ia beli khusus untuk mengirimkan foto-foto itu,yang rencananya akan ia kirim ke Nia disaat yang tepat. Dan menurut Alex sekarang adalah saat yang tepat.
Dengan nafas yang memburu,Alex kembali ke mobilnya. Sesampainya di dalam mobil,ia langsung mengambil hp itu dan langsung mengirimkan foto-foto itu ke nomor Nia.
Alex tersenyum licik saat foto-foto itu sudah berhasil terkirim ke hp Nia. Ia pun mulai menghitung dari angka satu,dan disaat hitungan yang ke dua puluh keluarlah Nia dari dalam restoran. Alex mengikuti Nia dari belakang dengan mobilnya,disaat Nia berhenti dan duduk di sebuah halte bus,Alex berhenti di hadapan Nia dan membunyikan klakson mobilnya,seolah-olah ia tak sengaja bertemu Nia disana.
"Nia..." panggil Alex.
__ADS_1
Bersambung...