Akhir Penderitaan Clarisa

Akhir Penderitaan Clarisa
Part 46


__ADS_3

Bukannya menjawab,mbak Iin malah memeluk Risa sambil menangis,begitu pun dengan mbak Nunik yang ikut memeluk Risa sambil menangis.


"Bunda udah gak ada non..." kata mbak Nunik di tengah-tengah isak tangisnya.


JEDAAAAR... Bagai tersambar petir di siang bolong,begitu lah kabar kepulangan sang bunda ke sang Pencipta di telinga Risa.


Risa menjauhkan tubuh mbak Nunik dan mbak Iin dari tubuhnya.


"Ma...mak..sud mbak Nunik gak ada gimana?" Tanya Risa mencoba memastikan pemikirannya dengan perkataan mbak Nunik.


"Bunda Shania udah meninggal non." Kini mbak Iin yang buka suara.


Mendengar berita sang bunda sudah meninggal,kepala Risa langsung pusing,penglihatannya menggelap dan nafasnya tiba-tiba sesak. Risa pun langsung ambruk tak sadarkan diri.


"Non...non Risa...!!" Teriak mbak Nunik dan mbak Iin melihat Risa yang sudah tidak sadarkan diri. Mereka pun membaringkan Risa di atas sofa,cepat-cepat mbak Iin mengambil minyak angin untuk merangsang Risa agar tersadar.


Mungkin efek tubuh yang lelah dan tekanan batin yang begitu berat,membuat Risa tidak tersadar dari pingsannya meski mbak Iin sudah merangsang kesadaran Risa dengan minyak angin. Mbak Iin dan mbak Nunik pun pasrah dan memilih menunggu Risa hingga tersadar sendiri.


Setengah jam kemudian akhirnya Risa pun tersadar.


Mbak Iin yang menunggui Risa sejak tadi,mendekat ke arah Risa begitu melihat Risa mengerjapkan matanya.


"Non Risa gak kenapa-kenapa kan?" Tanya mbak Iin khawatir.


Risa menatap wajah mbak Iin dengan lekat.


"Mbak..tampar Risa.!!" Pinta Risa.


"Hah?!" Mbak Iin tidak percaya kalau Risa meminta dirinya untuk menampar Risa.

__ADS_1


"Tampar Risa mbak!!!" Teriak Risa,ia berharap semua yang di alaminya hanya lah bunga tidur belaka.


Karena mbak Iin tak kunjung menamparnya,Risa pun menampar wajahnya sendiri berkali-kali.


Plak plak plak plak.


"Non berhenti non!! Jangan begini non..!!! Non Risa sadar non,jangan begini non.!!" Teriak mbak Iin sambil mencoba menghentikan aksi Risa yang menampar dirinya sendiri.


Mbak Nunik yang sejak tadi di dapur membuatkan makan malam untuk mereka pun berlari ke arah ruang tamu.


"Astaga non Risa.!!" Pekik mbak Nunik yang melihat Risa sedang menampar dirinya sendiri.


Mbak Nunik pun membantu mbak Iin untuk menahan tangan Risa agar tak lagi menampar dirinya sendiri.


"Sadar non...sadar..!!" Kata mbak Nunik sambil membawa Risa ke dalam pelukannya.


"Jadi semua ini bukan mimpi mbak?? Jadi bener bunda udah gak ada?!" Tanya Risa sambil terisak di pelukan mbak Nunik.


"Betul non yang di bilang mbak Nunik. Non Risa harus sabar,harus kuat,harus ikhlas. Kalau non Risa lemah dan terpuruk. Pasti bapak sama ibu gak akan tenang di alam sana." Timpal mbak Iin yang juga ikut memeluk Risa.


Mendengar kata-kata mbak Nunik dan mbak Iin,Risa semakin menangis tersedu-sedu. Walaupun benar apa yang dikatakan mbak Nunik dan mbak Iin,tetap saja Risa adalah manusia biasa. Hati siapa yang tidak hancur ditinggalkan kedua orang tuanya. Apalagi kepergian bunda Shania,tidak diketahui oleh Risa,bahkan Risa pun tidak hadir dan menyaksikan langsung prosesi pemakaman sang bunda.


"Kita makan dulu yah non,saya udah masakin makanan kesukaan non Risa loh." Kata mbak Nunik mencoba mengalihkan kesedihan Risa.


"Iya non,non Risa makan dulu. Non Risa mau makan di meja makan atau mau saya ambilin kesini?!" Tanya mbak Iin.


Risa menjauhkan tubuhnya dari mbak Nunik.


"Risa gak laper mbak. Risa mau ke makam bunda. Tolong anterin Risa kesana aja." Jawab Risa sambil mengusap air matanya.

__ADS_1


"Ini udah malem non,gimana kalau besok aja kita bertiga kesana? Gimana?" Tawar mbak Nunik sambil ikut mengusap air mata Risa.


"Iya non,besok aja. Kita janji,besok pagi-pagi sekali kita berdua akan anter non Risa ke makamnya ibu. Sekarang non Risa makan dulu,habis itu istirahat. Jangan siksa diri sendiri non,ibu sama bapak pasti sedih dan gak akan tenang kalau ngeliat non Risa kayak begini." Timpal mbak Iin.


Risa sejenak berpikir,mungkin benar yang dikatakan mbak Iin. Risa pun menganggukkan kepalanya menyetujui tawaran mbak Iin dan mbak Nunik untuk pergi ke makam sang bunda besok pagi.


Mbak Iin dan mbak Nunik pun tersenyum melihat anggukkan dari kepala Risa.


"Sekarang kita makan yuk non." Ajak mbak Nunik.


Risa pun kembali menganggukkan kepalanya. Mereka bertiga pun berdiri dari sofa ruang tamu dan berjalan menuju meja makan.


Setelah mengisi perut,Risa,mbak Iin dan mbak Nunik pun kembali ke ruang tamu.


"Mbak,bunda kapan meninggalnya?!" Pertanyaan yang harusnya dari tadi Risa tanyakan kepada mbak Iin dan mbak Nunik. Namun karena berita kematian sang bunda seperti mimpi baginya,Risa sampai tidak untuk menanyakan kapan dan sebab kematian sang bunda.


Mbak Iin dan mbak Nunik pun saling pandang untuk memberikan kode satu sama lain perihal siapa diantara mereka yang akan menceritakan tentang kematian bunda Shania.


"Kurang lebih delapan bulan yang lalu non." Akhirnya mbak Nunik lah yang membuka suara menjawab pertanyaan Risa.


"Delapan bulan yang lalu?!" Lirih Risa.


Mbak Nunik dan mbak Iin mengangguk.


Risa kembali mengingat-ingat kejadian delapan bulan yang lalu yang ia alami di kota besar. Sepertinya waktu kematian sang bunda sama dengan waktu Bagas menghilang dari hidup Risa. Risa langsung menggelengkan kepalanya,ia tak mau lagi mengingat tentang Bagas.


"Terus bunda meninggal kenapa? Kenapa kalian gak kabarin Risa?!"


"Waktu itu ibu berusaha kabur dari rumah sakit non,ibu pengen banget pulang ketemu bapak. Pas di jalan besar,ibu ketabrak mobil. Ibu sempat koma beberapa hari,tapi nyawanya gak terselamatkan." Mbak Iin menceritakan kronologis kematian bunda Shania.

__ADS_1


Risa menganga mendengar cerita mbak Iin,air matanya juga sudah mengalir di pipinya.


Bersambung...


__ADS_2