
Saat mendapati jalan besar, Nia berjalan menyusuri jalan itu. Ternyata jalan besar itu jaraknya masih dekat dengan vila. Membuat Nia harus berjalan kembali menyusuri jalan besar itu untuk menjauh dari vila. Baru beberapa meter Nia berjalan,ternyata Alex sudah datang menyusulnya.
"Nia....!!" Teriak Alex.
Sontak Nia menoleh sesaat,kemudian berlari sekencang-kencangnya saat melihat Alex sudah dibelakangnya. Tapi apalah daya,Alex yang menyusulnya dengan mobil dengan cepat sampai pada Nia. Alex pun turun dari dalam mobil. Dia menarik tangan Nia agar masuk ke dalam mobil.
Irlan yang baru sampai dititik Nia berada,memicingkan matanya saat melihat ada dua orang yang saling tarik menarik di tengah jalan. Karena Irlan melihatnya dari jarak yang lumayan jauh,Irlan belum menyadari kalau itu Alex dan Nia. Namun setelah mobil Irlan mendekat,baru lah Irlan sadar kalau si wanita itu adalah Nia. Dengan cepat Irlan keluar dari mobilnya dan berlari sekencang-kencangnya menghampiri dua orang itu.
"Lepasin tangan kotor loe dari Nia..!!" Teriak Irlan pada Alex saat sudah berada di dekat mereka.
Alex dan Nia menoleh ke arah sumber suara.
"Kak,tolongin aku kak.!!" Teriak Nia pada Irlan meminta pertolongan.
Dengan langkah cepat dan lebar,Irlan menghampiri Alex dan memberikan bogem mentahnya pada Alex.
Alex pun langsung jatuh tersungkur. Keadaan kepalanya yang masih pusing akibat pukulan kayu dari Risa tadi masih belum hilang,ditambah bogem mentah dari Irlan membuat Alex oyong seketika.
Setelah Alex jatuh tersungkur. Irlan mendekati Nia.
"Kamu gak pa-pa kan?" Tanya Irlan khwatir.
Nia mengangguk.
"Kamu diapain sama dia?"
Nia menggeleng.
"Dia gak sempet ngapa-ngapain aku kak."
Mendengar jawaban Nia,Irlan bernapas lega. Dia membawa Nia ke dalam pelukannya.
Tanpa mereka berdua sadari,dari arah belakang Alex sudah siap menikam Irlan dengan sebuah pisau lipat yang sudah ia siapkan di balik bajunya.
Risa yang melihat gerak-gerik Alex yang berjalan ke arah Nia dan Irlan sambil memegang pisau,langsung berlari mendekat ke arah Nia dan Irlan.
"Awaaaaasss" teriak Risa. Sambil berlari ke arah Irlan dan Alex. Dan...
Jleeeb..
__ADS_1
Pisau yang seharusnya menancap diperut bagian samping Irlan,malah menancap di perut Risa.
Irlan dan Nia menganga melihat Risa yang sudah jatuh di jalan,dengan perut bersimbah darah.
Alex pun tak kalah terkejut,karena pisau itu malah mendarat diperut Risa. Alex mematung di hadapan Risa yang bersimbah darah.
Irlan dan Nia menghampiri Risa.
Melihat Alex yang mematung,membuat emosi Irlan tersulut kembali.
Ia menyadarkan Alex dengan bogem mentahnya lagi ke wajah Alex.
Bugh..
"Sadar loe goblok!!! Angkat dia,kita bawa kerumah sakit!!!!" Teriak Irlan saat melihat Alex yang sudah sadar.
Alex pun buru-buru mengangkat Risa kemobilnya,dan menaruh Risa di kursi belakang.
"Gue aja yang nyetir,loe temenin dia dibelakang. Sumpel dulu perutnya pake kain-kain biar darahnya gak ngalir terus.!!" Kata Irlan yang memilih menyetir karena tidak percaya dengan Alex untuk mengendarai mobil karena Alex seperti orang linglung sekarang.
"Sayang,kamu bawa mobil ku." Kata Irlan pada Nia.
Nia pun mengangguk dan berlari menuju mobil Irlan.
Ia mulai melajukan mobil Alex menuju rumah sakit terdekat sesuai petunjuk gps.
"Ra...bertahan Ra..!!" Lirih Alex pada Risa. Tak sadar airmatanya keluar saat mengucapkan kata-kata itu.
Dengan keadaannya yang setengah sadar,Risa membalas perkataan Alex dengan senyuman.
"Love you darl.." cicit Risa,yang masih bisa didengar Alex.
Mendengar pernyataan cinta Risa,tangis Alex pun pecah. Risa menaikkan tangannya untuk mengusap air mata Alex. Sedangkan tangan satunya mengeluarkan amplop putih dan memberikannya ke tangan Alex.
Alex tak langsung membuka amplop itu. Ia menaruh amplop itu ke dalam sakunya. Buatnya sekarang,mengetahui isi amplop itu tidak penting.
Lima belas menit Irlan mengendarai mobil Alex. Dan sekarang mereka sudah sampai di rumah sakit terdekat. Terlihat mobil Irlan yang dikendarai Nia sudah sampai terlebih dahulu.
Nia sebelumnya melapor ke IGD kalau sebentar lagi akan datang pasien dengan luka tusuk. Sehingga para perawat bersiap-siap menunggu pasien di depan pintu IGD dengan brankar yang juga mereka siapkan.
__ADS_1
Begitu mobil Alex berhenti di depan pintu IGD,para perawat dengan sigap berlari menghampiri pasien.
Alex membantu perawat untuk membaringkan Risa di brankar. Setelah Risa di baringkan di brankar,perawat pun berlari mendorong brankar menuju ruang operasi.
Alex,Nia dan Irlan menunggu didepan pintu kamar operasi. Alex terlihat sangat gelisah. Mulutnya tak berhenti komat-kamit mendoakan agar Risa selamat.
Melihat Alex yang sedang gelisah,ingin sekali Nia mendekati Alex dan memberi kekuatan pada Alex untuk tetap tenang dan selalu berpikir positive. Tapi hati nya masih sangat kesal karena mengingat rencana busuk Alex padanya. Untung saja ada Risa yang datang memberitahu rencana busuk Alex,kalau tidak mungkin sekarang ia sudah dinodai oleh Alex.
"Kita pulang yuk." Ajak Irlan pada Nia.
Nia menggeleng.
"Aku belum bisa tenang kak kalau belum tau keadaan wanita itu."
"Ngapain sih kamu peduli sama wanita itu, wanita itu sama Alex yang udah sekongkol buat ngerusak hubungan kita.." kesal Irlan.
"Kak,kalau bukan karena wanita itu mungkin sekarang aku.." Nia tidak melanjutkan kata-katanya,karena salah satu dokter yang ada di ruang operasi keluar.
"Apa disini ada keluarga korban?" Tanya sang dokter.
Nia sejenak melihat Alex yang terdiam seperti orang bodoh. Nia menghela nafasnya.
"Saya dok,saya kerabatnya." Nia maju selangkah mendekati dokter itu.
"Luka tusuknya cukup dalam,tapi kami berhasil menghentikan pendarahannya. Tapi untuk kandungan pasien....maaf kami tidak bisa menyelamatkannya,karena tusukannya mengenai dinding rahim." Dokter itu menjelaskan.
Duuuuaaaar..
Mata Alex membelalak kaget saat mendengar kalau Risa sedang hamil dan kandungannya tak bisa di selamatkan.
"Clara ha...hamil dok?" Tanya Alex.
"Iya pak,pasien sedang hamil,perkiraan sudah memasuki minggu ke dua." Jawab dokter itu.
Setelah memberi penjelasan dokter itu pun masuk lagi ke dalam ruang operasi untuk melanjutkan operasi pengangkatan janin yang masih sebesar kacang polong.
Alex terduduk lemas setelah mengetahui Risa hamil. Otaknya mulai menerka-nerka.
"Kenapa dia bisa hamil,bukannya selama ini dia pakai alat kontrasepsi??? Lalu anak siapa yang di kandung Clara??? Apa jangan-jangan itu anak gue??? Akh gak mungkin,Clara ngelakuin hubungan itu bukan cuma sama gue. Bisa aja itu anak salah satu investor yang dia rayu.." Begitulah Alex bertanya-tanya dalam hatinya.
__ADS_1
Tapi otaknya kembali teringat pada kata cinta yang Risa ucapkan padanya saat dalam perjalanan ke rumah sakit,dan teringat pada amplop yang Risa berikan padanya.
Bersambung...