
⭐⭐⭐⭐⭐
Di rumah sakit.
Setelah mengurus kepulangan Risa,dokter Lucky pun mendatangi Risa di kamarnya.
"Loh kok belum ganti baju?!" Tanya dokter Lucky melihat Risa yang belum menukar pakaiannya.
"Saya gak punya baju ganti dok." Jawab Risa malu-malu.
"Astaga." Sepertinya dokter Lucky lupa kalau selama beberapa hari Risa di rumah sakit,tidak ada yang datang mengunjungi Risa apalagi membawakan baju ganti untuk Risa.
"Ya sudah,tunggu disini. Saya beli baju di toko pakaian dekat sini. Tapi gak pa-pa kan kalau gak branded???" Tanya dokter Lucky.
"Gak pa-pa dok." Jawab Risa.
Dokter Lucky pun keluar dari kamar Risa dan melangkahkan kakinya keluar dari gedung rumah sakit menuju toko pakaian yang jaraknya hanya tiga gedung dari gedung rumah sakit.
Setelah pakaian untuk Risa sudah di dapatkan,dokter Lucky pun kembali ke rumah sakit dan masuk ke dalam kamar Risa.
Ceklek. Pintu terbuka.
"Ini pakai." Dokter Lucky menyodorkan papper bag yang ada di tangannya ke hadapan Risa.
Risa pun mengambil papper bag itu dan masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.
Tak lama ia pun keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan baju yang dokter Lucky berikan.
"Ayo." Ajak Risa menghampiri dokter Lucky yang sedang duduk diatas sofa sambil memainkan hp nya.
Dokter Lucky pun menoleh ke arah Risa.
"Sudah siap?" Tanya dokter Lucky sambil berdiri dari duduknya dan memasukkan kembali hp nya kedalam saku.
Risa mengangguk.
Mereka berdua pun keluar dari dalam kamar Risa,berhubung kondisi Risa yang belum pulih seratus persen,mereka pun jalan secara perlahan. Mereka pun menggunakan lift khusus untuk dokter untuk turun ke lobi.
__ADS_1
"Kamu mau aku antar kemana?" Tanya dokter Lucky.
Kini mereka sudah berada di dalam mobil milik dokter Lucky.
Risa sejenak berpikir. Sebenarnya,ia ingin pulang sendiri ke rumah yang Bagas berikan untuknya. Tapi...ia baru ingat kalau saat ini,ia tidak pegang uang untuk membayar ongkos taksi. Sekalipun harus bayar di rumah,ia tidak menyimpan uang tunai di rumah,hanya ada kartu atm peninggalan sang papa yang ia pegang selama ini yang ia simpan di lemarinya.
Akhirnya ia memutuskan untuk memberitahu dokter Lucky alamat rumahnya.
Setelah mendapatkan alamat rumah Risa,dokter Lucky pun menyalakan mesin mobilnya,kemudian melajukan mobilnya menuju alamat yang Risa berikan padanya.
⭐⭐⭐⭐⭐
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam,kini mobil dokter Lucky pun sudah tiba di depan rumah Risa.
"Ra...Clara.." dokter Lucky menepuk pundak Risa untuk membangunkan Risa yang sedang tertidur pulas.
"Eugh.." Risa melenguh sambil mengerjapkan matanya.
"Kita udah nyampe Ra.." kata dokter Lucky saat melihat mata Risa yang mulai terbuka.
Risa pun meluruskan duduknya dan mengumpulkan kesadaran,ia lihat sekeliling dan ternya benar,sekarang mereka sudah tiba dirumahnya.
Risa mengangguk.
"Bener dok. Makasih yah dok,udah mau nganter." Kata Risa sebelum membuka pintu mobil.
Dokter Lucky pun mengangguk.
Risa pun turun dari dalam mobil dan langsung melangkahkan kakinya menuju pintu rumahnya. Tanpa Risa sadari kalau dokter Lucky ternyata juga ikut turun dari dalam mobil mengekori Risa.
Mata Risa membelalak,tangannya gemetar saat ia di depan pintu,karena pintu rumahnya sudah dalam keadaan terbuka sedikit.
"Kenapa Ra?!" Tanya dokter Lucky yang berhasil membuat Risa semakin tersentak.
"Astaga.." Kaget Risa sambil memegang dadanya,kemudian ia menunjuk ke arah pintu rumahnya.
Dokter Lucky mengikuti arah tangan Risa ke pintu.
__ADS_1
"Kok pintunya terbuka?!" Tanya dokter Lucky yang juga kaget.
Risa menggedikkan bahu.
"Jangan-jangan ada maling lagi yang masuk kerumah kamu." Perkataan dokter Lucky semakin membuat jantung Risa berdetak lebih kencang.
Bukan karena maling yang masuk,tapi karena feelingnya mengatakan,pasti Alex yang sudah menemukan rumah ini.
"Kamu tunggu sini." Kata dokter Lucky,kemudian dia berjalan ke arah mobilnya dan mengambil dongkrak yang ada di dalam mobil untuk ia gunakan sebagai senjata kalau memang ada maling di dalam rumah Risa.
Dokter Lucky pun melangkahkan kakinya menuju Risa yang masih menunggu di teras rumah.
"Ayo kita masuk pelan-pelan,kamu tetap di belakang aku.!" Perintah dokter Lucky. Mereka pun masuk ke dalam rumah dengan sangat pelan.
Dengan langkah mengendap-ngendap mereka mengelilingi ruangan yang ada dirumah Risa satu persatu. Namun hasilnya nihil tak ada maling yang mereka temukan. Tinggal kamar Risa yang belum di periksa. Mereka pun berjalan ke kamar Risa.
Begitu masuk ke dalam kamarnya,hal yang pertama Risa periksa adalah flashdisk yang Risa simpan di dalam laci nakas. Sesuai feeling Risa,flashdisk itu telah lenyap.
Risa langsung terduduk di pinggiran tempat tidur. Ia memegangi dadanya. Ia takut kalau memang benar Alex yang mengambil flashdisk itu dan Alex melihat isi rekaman yang ada di flashdisk itu. Seandainya flashdisk itu jatuh ke tangan orang suruhan klien Risa yang pernah ia jebak,Risa tidak pusing karena Risa memiliki banyak copyannya. Tapi kalau jatuh ke tangan Alex,sepertinya Risa tidak rela kalau sampai Alex tau yang sebenarnya. Hatinya sudah terlalu sakit,karena perkataan Alex yang tidak mempercayainya bahwa anak yang ia kandung adalah anaknya di tambah lagi,anak itu sudah meninggal di tangan Alex karena obsesi Alex.
"Kamu kenapa Ra,kok pucet banget? Jahitan kamu sakit?!" Tanya dokter Lucky khawatir.
Risa menggeleng
"Dia udah nemuin tempat ini dok." Lirih Risa pelan,namun masih bisa di dengar oleh dokter Lucky.
"Dia?? Dia siapa? Si Alex itu maksud kamu?!"
Risa mengangguk.
"Kenapa kamu bisa yakin kalau dia yang datang kesini?!"
"Flashdisk aku hilang. Aku yakin orang suruhan Alex sudah memberikan informasi tentang aku ke Alex,makanya Alex datang kesini untuk mencari bukti tentang informasi yang orang suruhannya berikan."
"Bisa aja tebakan kamu salah. Coba kita periksa yang lain,apa ada barang-barang kamu yang hilang lagi."
Risa menggeleng.
__ADS_1
"Aku yakin seratus persen itu Alex,kalau memang maling,kenapa laptop itu gak dibawa pergi?" Risa menunjuk laptop yang ada di meja rias. Namun seketika mata Risa beralih ke sebelah laptopnya,yang ia ingat kalau disebelah laptop itu tempat ia terakhir kali menaruh buku hariannya. Risa pun langsung berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke arah meja rias. Dia membuka laci-laci untuk mencari keberadaan buku hariannya namun tetap tidak ia temukan.
Bersambung...