
"Sheill..." panggil Bagas saat Sheilla selesai menidurkan bayi mereka.
"Ya."
"Aku mau bicara."
Deg. Jantung Sheilla berdegup sangat kencang. Ia khawatir apa yang ingin Bagas bicarakan adalah hal yang paling ia takutkan sejak ia melahirkan putri mereka. PERCERAIAN.
"Udah malam Gas,besok aja. Aku ngantuk banget." Jawab Sheilla. Ia sengaja mengulur waktu sampai hatinya benar-benar siap.
"Ini penting Sheill."
"Justru karena penting,jadi besok aja yah. Aku capek Gas,seharian ini anak kita mau nya di gendong terus." Tolak Sheilla lagi. Sengaja Sheilla mengatakan anak 'kita' untuk di jadikan senjata meluluhkan hati Bagas. Selain itu,anak Bagas dan Sheilla juga belum di beri nama.
Sheilla berjalan ke arah tempat tidur agar Bagas tak lagi ngotot ingin membicarakan hal serius dengannya.
Melihat sikap Sheilla yang seperti ini,Bagas yakin kalau Sheilla sedang menghindar dari nya untuk membicarakan hal serius. Padahal yang ingin Bagas bicarakan bukan tentang perceraian.
Bagas langsung menarik tangan Sheilla.
"Aku tau kamu gak ngantuk,kamu cuma mau menghindar dari aku kan?"
Sheilla langsung menghentak tangan Bagas.
"Aku beneran capek Gas!!!" Jawab Sheilla dengan nada sedikit meninggi.
"Suuut!! Pelanin suara kamu,nanti dia bangun!!" Bagas langsung menutup mulut Sheilla.
"Sini. Kita bicara di kamar aku!" Bagas pun menarik tangan Sheilla menuju kamarnya.
Sesampainya di kamarnya,Bagas langsung mengunci pintu kamarnya. Bagas tak takut meninggalkan anak mereka sendirian dalam kamar Sheilla karena di kamar Bagas sudah ada monitor kecil yang tersambung ke box bayi tempat bayi mereka tidur.
"Ngapain pintunya di kunci?" Tanya Sheilla saat melihat Bagas mengunci pintunya.
__ADS_1
"Biar kamu gak kabur sebelum urusan kita selesai."
"Kan aku udah bilang,aku capek Gas,aku mau istirahat. Kalau ada hal penting yang mau kamu bicarakan,besok aja.!"
"Kenapa? Apa kamu takut kalau yang aku bicarakan tentang perceraian?" Tanya Bagas sambil menatap wajah Sheilla dengan intens.
Sheilla tak menjawab,ia memalingkan wajahnya dari pandangan Bagas. Melihat Sheilla yang memalingkan wajahnya,Bagas menarik wajah Sheilla dan merangkum wajah wanita yang sudah melahirkan anaknya.
"Sheill.." kata Bagas sambil menatap dua bola mata Sheilla.
Melihat wajah Bagas yang serius,hati Sheilla makin kacau balau. Cepat-cepat ia menghentakkan tangan Bagas dari wajahnya.
"Gas...stop!! Aku gak mau denger!!" Kata Sheilla sambil menutup telinganya.
"Aku baru ngelahirin Gas,apa gak bisa kamu bahas perceraian setelah anak kita berumur empat puluh hari?!" Sheilla momohon pada Bagas dengan wajah tertunduk.
Bagas menarik nafasnya dalam-dalam. Ia menarik tangan Sheilla yang menutupi telinganya dan mendongakkan wajah Sheilla agar mereka bisa saling menatap.
Perlahan Sheilla membuka matanya dan menatap mata Bagas.
"Aku gak akan pernah menceraikan kamu. Aku mau kita bangun rumah tangga kita dari nol lagi. Kamu mau kan?"
Sheilla shock mendengar kata-kata Bagas.
"Apa ini mimpi?" Sheilla bertanya-tanya dalam hatinya.
Melihat ekspresi Sheilla yang terbengong-bengong,Bagas pun mencubit pipi Sheilla sedikit keras agar Sheilla tersadar dari lamunannya.
"Auw.." ringis Sheilla sambil mengusap pipinya.
"Ternyata ini gak mimpi." Kata Sheilla lagi dalam hatinya.
"Kamu mau kan?" Tanya Bagas sekali lagi.
__ADS_1
"Kamu salah minum obat?" Tanya Sheilla yang masih tidak percaya dengan ucapan Bagas.
"Aku serius Sheill." Kata Bagas dengan wajah serius.
"Tapi Gas,bukannya kamu masih dendam sama aku karena aku..." Sheilla tak sanggup meneruskan kata-katanya,karena ia sadar perbuatannya pada Bagas dulu sangat lah hina. Sudah memperbudak sudah memperbudak suami sendiri,ia juga berzina di depan mata suaminya.
"Aku udah maafin kamu Sheill. Saat menemani dan melihat langsung proses kamu melahirkan,saat itu lah aku memaafkan semua kesalahan kamu sama aku. Kamu udah membayar kesalahan kamu dengan mempertaruhkan nyawa kamu untuk melahirkan anak aku,benih yang sengaja aku tanam untuk balas dendam sama kamu. Yah..walaupun kamu belum bayar lunas semua kesalahan kamu."
"Belum bayar lunas,maksudnya?" Tanya Sheilla yang tak paham apa maksud Bagas.
"Karena kamu baru kasih aku anak satu. Dan hutang-hutang kesalahan kamu itu baru bisa lunas kalau kamu kasih aku dua atau tiga anak lagi. Makanya aku mau kita mempertahankan rumah tangga kita dan membangunnya lagi dari nol. Kita kubur masa lalu itu dalam-dalam dan jangan pernah sesekali kita menggalinya. Gimana kamu mau kan mempertahankan rumah tangga kita dan membayar lunas hutang kesalahan kamu?"
Mata Sheilla membelalak mendengar ucapan Bagas.
"Kamu serius?"
"Serius banget Sheill." Jawab Bagas mantap.
Mendengar kemantapan Bagas,Sheilla langsung memeluk tubuh Bagas dengan erat.
"Aku mau Gas..mau banget!! Aku janji akan bayar semua kesalahan aku yang dulu ke kamu,aku pasti jadi istri dan ibu yang baik untuk anak kita."
"Anak-anak kita Sheill. Ingat,utang kamu baru lunas kalau kamu udah ngasih aku dua atau tiga anak lagi." Bisik Bagas di telinga Sheill.
Wajah Sheilla memerah mendengar kata-kata Bagas.
Bagas menjauhkan tubuh Sheilla dari tubuhnya. Ia menatap lekat wajah Sheilla,perlahan tapi pasti kini bibir Bagas sudah mendarat mulus di bibir Sheilla. Ciuman yang tadinya lembut lama kelamaan semakin kasar dan memanas,hasrat keduanya pun menuntut untuk melakukan lebih dari sekedar ciuman panas.
Mungkin karena mereka sudah lama tak saling melepas hasrat,mereka jadi lupa kalau Sheilla belum bisa disentuh. Sheilla baru sadar kalau dirinya baru satu minggu melahirkan langsung mendorong tubuh Bagas saat tangan Bagas mulai bermain di area sumber kehidupan untuk anak mereka.
"Gas..jangan!!"
Bersambung...
__ADS_1