Akhir Penderitaan Clarisa

Akhir Penderitaan Clarisa
Part 41


__ADS_3

Nia menghela nafasnya melihat wajah tulus Risa memohon untuk Alex. Ia yakin,Risa pasti sangat mencintai Alex.


"Kalau untuk kejadian di puncak,aku dan kak Irlan sudah memaafkan kak Alex dan aku janji gak akan memperpanjang masalah itu. Tapi kalau untuk bekerjasama dengan perusahaan Alex,itu semua tergantung bagaimana performa perusahaan itu. Ini dunia bisnis Clara,dalam dunia bisnis kita tidak bisa menggunakan hati untuk mengambil keputusan,walaupun aku gak bisa janji,tapi akan aku usahakan untuk membantu perusahaan Alex. Aku harap kamu bisa mengerti."


Risa pun mengangguk paham dengan kata-kata Nia.


"Dan satu lagi,tolong jangan beritahu Alex tentang kedatangan ku hari ini kalau Alex datang kesini. Dan jangan beritahu Alex tentang pembicaraan kita ini."


Nia mengangguk mengerti.


"Baik lah. Terus apa rencana mu sekarang?!"


"Entahlah,tapi yang pasti aku ingin pergi dari kota ini dan meninggalkan semua kenangan pahit yang ada dikota ini."


"Ya kamu benar, mungkin itu lebih baik. Supaya kamu juga bisa cepat menyembuhkan luka hatimu."


Setelah panjang lebar mereka berbincang,akhirnya Risa berpamitan pulang. Namun sebelum pulang,Nia memberikan tas Risa yang tertinggal di dalam mobil yang Risa rental.


🍀🍀🍀🍀🍀


Kini Risa sudah tiba di hotel tempat ia menginap,karena kondisi tubuh yang belum sembuh seratus persen,Risa memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya dan pulang ke kota M keesokan harinya.


"Clara...." panggil dokter Lucky yang sudah lama menunggu Risa di lobi hotel.


Risa menoleh ke arah sumber suara.


"Dokter Lucky.." lirih Risa saat melihat dokter Lucky sudah berjalan ke arah nya.


"Kamu darimana? Udah satu jam aku tunggu kamu disini." Tanya dokter Lucky.


"Ada yang harus aku urus dok. Lagian salah dokter sendiri kenapa nungguin saya." Jawab Risa.


"Aku khawatir dengan kondisi kamu,aku mau menanyakan kondisimu tapi gak tahu harus menghubungi kemana. Makanya aku kesini."


"Makasih atas perhatiannya dok,tapi kondisi saya sudah baik-baik saja kok sekarang. Jadi dokter gak perlu khawatir."

__ADS_1


"Syukurlah. Apa kamu sudah makan?"


"Sudah dok." Jawab Risa sambil menganggukkan kepala.


"Tapi aku yang belum makan,gimana kalau kamu temenin aku makan."


"Aduh gimana yah dok..." jawab Risa ragu-ragu,ia merasa tidak enak menolak ajakan dokter Lucky.


"Aku gak nerima penolakan,ayo." Dokter Lucky langsung menarik tangan Risa untuk ikut dengannya ke kafetaria yang ada di hotel itu.


Kini mereka sudah berada di dalam kafetaria. Setelah mereka duduk di salah satu meja,tak lama pelayan pun datang dengan membawa buku menu.


"Beneran nih kamu udah makan?" Tanya dokter Lucky pada Risa sebelum ia memesan makanan untuk dirinya.


"Beneran dok."


"Kalau gitu,aku pesenin minuman aja yah." Tawar dokter Lucky sekali lagi.


"Terserah dokter aja." Jawab Risa pasrah.


"Apa setelah ini kamu akan check out?" Tanya dokter Lucky setelah pelayan itu pergi.


Risa menggeleng.


"Mungkin besok dok."


"Gak usah panggil dok,aku kan bukan dokter mu lagi. Panggil aja Lucky atau mas Lucky juga boleh."


Risa pun mengangguk.


"Rencananya kamu mau pergi kemana?"


"Rencananya sih mau pulang ke kota M."


"Apa keluarga mu ada di sana?"

__ADS_1


Risa hanya menjawab dengan anggukkan.


"Apa tidak pa-pa kalau mereka tau kondisi mu seperti ini?"


"Entah lah,sepertinya aku akan merahasiakan keadaan ku dari mereka. Karena kalau sampai bunda ku tau tentang keadaan ku,pasti penyakitnya tidak akan sembuh-sembuh."


"Penyakit? Apa bunda mu mengidap penyakit keras?"


Risa menggeleng.


"Bukan raganya yang sakit mas,tapi jiwanya."


"Mak...sud ka..mu??!" Tanya dokter Lucky ragu-ragu,walaupun sebenarnya dia mengerti apa yang dikatakan Risa.


"Bunda .." kata-kata Risa harus terpotong karena pelayan yang datang membawa makanan yang di pesan dokter Lucky.


"Selamat menikmati,pak..bu.." kata pelayan itu setelah menaruh pesanan dokter Lucky diatas meja.


"Terimakasih mbak." Balas dokter Lucky dan Risa bersamaan.


Dokter Lucky pun mulai menyantap makanannya,ia memilih untuk menjeda pembicaraan tentang keadaan bunda Risa,karena ia yakin pembicaraan tentang bunda Risa akan kembali menguras emosi.


Setelah selesai menyantap makanannya. Dokter Lucky kembali menanyakan perihal keadaan bunda Risa.


"Kamu belum jelasin sama aku tentang bunda kamu. Apa maksud kata-kata kamu tadi?" Tanya dokter Lucky sambil menyeka mulutnya dengan tissue makan.


Risa menghela nafasnya sebelum ia menceritakan tentang keadaan sang bunda. Risa pun menceritakan kondisi keluarganya mulai dari ayahnya yang meninggal dan mental sang bunda yang drop karena ditinggal sang suami hingga semua aset keluarganya yang harus lenyap seketika karena hutang-hutang om dan tante Risa.


Bahkan Risa juga menceritakan pada dokter Lucky tujuan awal ia datang ke kota besar dan awal kehancurannya saat berhubungan dengan Bagas dan harus berakhir sebagai jalang pribadi Alex. Risa tak malu menceritakan itu pada dokter Lucky,bukan karena ia tidak tahu malu,tapi ia ingin dokter Lucky tau siapa dirinya sebenarnya. Agar dokter Lucky bisa berpikir seribu kali jika ingin membantunya.


Tapi ternyata pikiran Risa salah,bukannya ilfeel,dokter Lucky malah makin kasihan dengan keadaan Risa. Karena Risa harus rusak karena kepolosannya dalam hal mengenal karakter laki-laki.


"Aku gak nyangka jalan hidup mu seperti itu. Anggap saja ini adalah pelajaran hidup sekaligus teguran untuk mu Ra. Dan ingat,tak ada kata-kata terlambat untuk berubah. Jangan pernah merasa diri mu tidak berharga,bagaimana orang lain mau menghargaimu kalau kamu sendiri tidak bisa menghargai diri mu sendiri. Jadi mulai sekarang,tegakkan kepala mu dan pandang lurus ke depan,melangkah dengan keyakinan. Sekalipun kamu tidak memiliki mahkota,aku yakin akan ada laki-laki tulus dan baik hati yang akan menerima mu apa adanya. Kamu paham kan?!" Kata dokter Lucky panjang lebar menasehati Risa.


Risa pun menganggukkan kepalanya. Benar apa yang di katakan dokter Lucky,mungkin ini kehancurannya di kota ini adalah bentuk teguran dari yang Maha Kuasa karena dirinya pergi meninggalkan sang bunda dan tidak pernah lagi memperhatikan bundanya sejak mengenal Bagas karena sempat terbuai oleh cinta semu yang Bagas berikan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2