Akhir Penderitaan Clarisa

Akhir Penderitaan Clarisa
Part 13


__ADS_3

"Aku mau kamu resign jadi caddy."


Mata Risa membelalak. Kenapa tiba-tiba mas Bagas memintanya untuk resign. Apa karena pertengkarannya dengan Silvia? Kalau memang karena pertengkarannya dengan Silvia,harusnya Silvia juga di keluarkan dari tempat kerja.


"Mas Bagas mecat aku?" Tanya Risa kaget.


Bagas menggelengkan kepala.


"Bukan mecat,aku cuma minta kamu resign. Kamu tuh pacar aku,setelah aku pikir-pikir masa aku ngebiarin pacar aku tetap jadi caddy. Aku gak mau kamu dihina-hina lagi sama Silvia." Kata Bagas berbohong memberi alasan pada Risa.


Mendengar alasan Bagas yang memintanya resign,hati Risa jadi berbunga-bunga. Karena ternyata alasan Bagas agar Risa tak mendapatkan penghinaan seperti tadi siang.


Namun Risa kembali berpikir,kalau ia tidak bekerja,bagaimana dengan biaya hidupnya di kota ini. Walaupun Risa memegang kartu debit sang Ayah dan belum sama sekali Risa gunakan,tetap saja Risa harus mempunyai penghasilan sendiri.


"Tapi kalau aku gak kerja,gimana aku bisa hidup di kota besar ini mas?!"


"Aku akan membiayai hidup mu,sampai aku menemukan pekerjaan yang cocok untuk mu."


Risa menggeleng,walau hatinya senang tapi ia tak mau terus-terusan membebani kekasihnya itu.


"Terus kalau kamu gak mau aku membiayai hidup mu,berarti kamu tidak mau resign jadi caddy gitu?" Tanya Bagas saat melihat Risa menggeleng.


"Bukan gitu mas,tapi mas Bagas udah baik banget selama ini sama aku. Mas Bagas udah ngasih tumpangan apartemen ini sama aku aja itu udah sangat ngebantu aku mas."


Bagas sejenak berpikir bagaimana caranya agar Risa mau resign menjadi caddy golf,sehingga papa Cakra yakin kalau ia sudah memutuskan hubungannya dengan Risa.


Bagas tersenyum licik saat menemukan ide yang bisa membuatnya bisa bersama Risa sepengetahuan keluarga Bagas dan keluarga Sheilla serta bisa menikahi Sheilla tanpa sepengetahuan Risa.


"Aku nih calon suami mu Ris,anggap aja kita sedang latihan menjadi suami istri. Jadi sebagai calon suami mu,aku minta kamu diam dirumah dan aku akan membiayai semua kebutuhan mu." Kata Bagas yang memikirkan untuk menjadikan Risa sebagai wanita simpanannya.


"Tapi mas.."


"Ayo lah Ris,aku mohon. Aku juga akan membelikan mu rumah,agar kamu bisa bergaul dengan para tetangga jika kamu merasa bosan berada di rumah terus. Oke." Mohon Bagas dengan wajah yang di buat se meyakinkan mungkin.


Melihat wajah serius Bagas,Risa merasa yakin dengan perkataan Bagas.


Risa pun menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan Bagas.


Melihat Risa mengangguk,jelas hati Bagas bersorak kegirangan. Mudah-mudahan rencana Bagas yang ingin menjadikan Risa sebagai wanita simpanannya tidak di ketahui oleh keluarganya maupun keluarga Sheilla.


Bagas mendekati Risa dan menarik tengkuk Risa agar bibir mereka bisa saling bertemu. Dan malam itu Bagas kembali melampiaskan hasratnya pada Risa. Sofa di ruang televisi itu pun tak berhenti mengeluarkan suara decitan disaat Bagas mempercepat lajunya.

__ADS_1


Setelah hampir satu jam mereka berolah raga,kini Bagas sudah kembali memakai pakaiannya. Sedangkan Risa masih terbaring lemas di atas sofa dengan tubuh yang masih polos dan hanya tertutupi bantal sofa. Risa tak memakai lagi pakaiannya karena pakaiannya sudah kotor dipakai Bagas untuk membersihkan benihnya yang ia buang di perut Risa.


"Mas Bagas mau pulang?"


Bagas mengangguk.


"Besok aku akan kesini lagi. Aku akan mempersiapkan surat resign mu,jadi kamu tinggal tanda tangan. Sekalian besok kita cari rumah untuk kamu tempati."


"Secepat itu?"


"Lebih cepat lebih baik. Lagipula aku tidak suka kalau kamu terus menemani tamu-tamu VIP lagi." Kata Bagas berbohong,agar Risa makin percaya padanya.


Setelah selesai membual,Bagas pun keluar dari unit apartemennya yang ia pinjamkan pada Risa.


🍀🍀🍀🍀🍀


Pagi ini Bagas sudah berada di apartemen Risa. Dia mengeluarkan papper bag yang berisi kotak hp keluaran terbaru dan amplop putih.


"Ini hp baru untuk mu,aku juga sudah memasukkan nomor baru. Jadi hp lama mu bawa kesini,biar aku buang."


"Tapi mas,hp ku ini masih bagus. Kalaupun mau ganti hp,nomornya gak usah di ganti lah mas."


"Kalau kamu gak ganti nomor,pasti teman-teman mu sesama caddy masih akan terus mengganggu mu. Dan aku gak mau itu terjadi."


Bagas pun mengangguk. Ia membiarkan Risa menyimpan nomor Nunik dan Iin.


Setelah menyimpan nomor Nunik dan Iin,Bagas mengeluarkan amplop putih yang berisi surat pengunduran Risa.


"Tanda tangan disini." Bagas menunjukkan tempat dimana Risa harus menandatangani surat resign nya.


Risa pun menandatangani surat itu.


"Kamu sudah sarapan?" Tanya Bagas sambil menaruh kembali selembar kertas surat pengunduran diri Risa ke dalam amplop putih.


Risa mengangguk.


"Sekarang kamu siap-siap,biar kita pergi cari rumah. Aku udah buat janji sama developernya."


Risa pun berjalan ke dalam kamar untuk mengganti pakaiannya dan memoles sedikit bedak ke wajahnya. Ia pun memasukkan dompet,hp,bedak,lipgloss,parfume dan tissue ke dalam tas nya. Setelah itu ia berjalan keluar dari dalam kamar.


"Ayo mas,aku udah siap."

__ADS_1


Mereka pun keluar dari dalam unit apartemen.


Satu setengah jam waktu yang ditempuh agar mereka sampai di perumahan yang sudah Bagas persiapkan untuk Risa,perumahan yang letaknya jauh dari pusat kota. Bagas memang sengaja membelikan Risa perumahan disana,agar Risa tidak bisa menjangkau informasi tentang dirinya saat dirinya dan Sheilla nanti menikah.


Setelah berbicara panjang lebar dengan developer,Bagas pun memutuskan membeli salah satu rumah sederhana seharga satu miliar secara cash atas nama Risa. Setelah menyelesaikan administrasinya,Bagas dan Risa pergi melihat rumah yang sudah sah menjadi milik Risa.


"Jadi minggu depan rumah ini sudah bisa di tempati?" Tanya Bagas pada sang developer.


"Iya pak,sesuai keinginan bapak."


Bagas pun menghampiri Risa yang sedang melihat-lihat rumah itu.


"Gimana,kamu suka?"


Risa mengangguk.


"Suka mas,suka banget."


"Bagus deh kalau kamu suka. Udah puas liat-liatnya? Kalau udah,kita pulang sekarang."


"Sudah mas,ayo kita pulang."


Bagas dan Risa pun berpamitan pada sang developer.


"Ris.." panggil Bagas yang sedang mengendarai mobil sambil matanya menatap jalanan.


"Iya mas.."


"Kita mampir ke praktek dokter kandungan dulu yah."


"Buat apa mas?"


"Konsultasi aja."


"Konsultasi? Apa mas Bagas ingin aku melakukan program kehamilan?"


Bagas menggeleng.


"Bukan,aku mau kamu konsultasi untuk mencegah kehamilan. Karena aku bosan kalau harus buang di luar terus." Kata Bagas santai.


Kata-kata Bagas berhasil menggoreskan sedikit luka di hati Risa. Seribu satu pertanyaan muncul di benak Risa.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2