Akhir Penderitaan Clarisa

Akhir Penderitaan Clarisa
Part 88


__ADS_3

Keesokan harinya,pak Eka datang kembali ke rumah sakit. Namun saat pak Eka datang ke rumah sakit,tak ada Alex maupun mamanya melainkan hanya ada kakak perempuan Alex yang menjaga pak Abram.


Melihat pak Eka datang,pak Abram yang sedang di suapi oleh anak perempuannya langsung menyuruh anak perempuannya itu keluar dari kamar rawatnya.


"Apa pak Abram sudah lebih baik?"


Karena sulit untuk pak Abram menjawab,pak Abram hanya menjawab dengan anggukan.


Karena ada suatu hal yang ingin di tanyakan pak Abram pada asistennya itu,jadi pak Abram mengambil pena dan kertas yang sudah di siapkan oleh mama Alex untuk berkomunikasi dengan dirinya.


"Gimana dengan pak Hendrawan?" Tulis pak Abram.


Pak Eka menarik nafasnya dalam-dalam sebelum memberitahu permintaan pak Hendrawan.


"Pak Hendrawan tidak akan menarik investasinya asalkan.."


Pak Abram melototkan matanya agar pak Eka melanjutkan kalimatnya.


"Asalkan pak Alex yang memimpin proyek. Dan bukan hanya itu pak. Bahkan semua karyawan di kantor,membuat petisi agar pak Alex di jadikan pemimpin di perusahaan. Kalau pak Abram tidak mau,maka karyawan akan melaporkan tindak tanduk pak Abram selama memimpin perusahaan yang suka memeras tenaga para karyawan tanpa membayar uang lembur mereka. Dan kalau sampai itu terjadi,bisa di pastikan perusahaan akan gulung tikar."


Mata pak Abram membelalak mendengar kata-kata pak Eka. Pak Abram mengepalkan tangannya,satu sisi ia belum mau menjadikan Alex pemimpin perusahaan sebelum Alex bercerai dari Risa. Tapi disisi lain,ia juga memikirkan perusahaan yang sudah ia bangun dengan susah payah dari nol,kalau ia tidak menuruti kemauan pak Hendrawan dan para karyawan,bisa-bisa perusahaan yang ia bangun susah payah itu hilang tanpa jejak.


"Baik lah. Saya setuju kalau Alex yang memimpin perusahaan dan memimpin proyek pembangunan real estate." Tulis pak Abram.


Pak Eka bernafas lega karena akhirnya pak Abram menyetujui keinginan pak Hendrawan dan para karyawan.


"Kalau begitu saya akan langsung membicarakan ini dengan pak Alex." Kata pak Eka.

__ADS_1


Ceklek. Tiba-tiba saja pintu kamar rawat papa Alex terbuka.


Sontak pak Abram dan pak Eka menoleh ke arah pintu.


"Pak Eka mau membicarakan apa dengan saya?" Tanya Alex pura-pura tidak tau,padahal ia sudah tau kalau papa nya pasti sudah menyetujui untuk memberikan perusahaan ke tangannya.


"Ah..begini pak Alex. Pak Abram sudah setuju untuk menerima pak Alex kembali ke perusahaan,bahkan pak Abram juga menyetujui kemauan para karyawan yang menginginkan pak Alex untuk memimpin perusahaan."


"Oh ya? Apa benar begitu pah?"


Pak Abram yang mendengar pertanyaan Alex langsung membuang wajahnya,karena pertanyaan Alex seperti sedang mengejeknya.


Alex tersenyum sinis melihat sang papa membuang wajahnya.


"Alex sih mau aja,tapi ada syaratnya."


"Asalkan Clara,istri saya, yang menjadi asisten pribadi saya di perusahaan. Dan papa memberikan saham sepuluh persen untuk Clara."


Mendengar syarat dari anaknya,sontak papa Alex kembali memutar lehernya untuk menatap Alex dan memberikan tatapan tajam pada anaknya itu.


"Kenapa? Papa gak terima dengan syarat aku?" Tanya Alex,ia tak kalah tajam menatap papa nya.


"Ya udah kalau gak mau,Alex juga gak mau!! Toh gak ada ruginya juga buat Alex kalau perusahaan papa bangkrut." Lanjut Alex.


Pak Abram mengepalkan tangannya,rahangnya juga mengeras melihat anaknya semakin berani melawannya. Seandainya pak Abram tidak dalam keadaan stroke,pasti pak Abram sudah menghajar Alex habis-habisan.


Pak Abram mengatur nafasnya untuk mengendalikan emosinya.

__ADS_1


"Baik lah. Terserah kamu saja,asal kamu bisa mempertahankan perusahaan!!" Tulis papa Alex. Dia rela merendahkan egonya hanya demi perusahaan bukan karena ia sudah bisa menerima Risa sebagai menantunya.


"Oke deal. Pak Eka bisa urus semua surat-suratnya,kalau semua beres dan istri saya sudah mendapat saham sepuluh persen,baru saya akan mulai bekerja di perusahaan dan pak Eka bisa menghubungi pak Hendrawan." Kata Alex penuh kemenangan.


Memang ini lah yang Alex inginkan,selain menyentil sang papa dengan mengambil alih perusahaan,Alex juga ingin membuat posisi Risa semakin kuat sebagai istrinya.


"Ya udah,kalau gitu Alex pamit jemput menantu papa dulu yah. Soalnya menantu papa mau dateng kesini,dia khawatir banget sama papa begitu Alex kasih tau papa kena stroke." Alex sengaja menyebut Risa dengan kata 'menantu papa' untuk membuat papanya semakin panas.


"Saya permisi dulu pak Eka." Pamit Alex pada asisten papanya.


Setelah pamit dengan papanya dan pak Eka,Alex pun keluar dari kamar rawat papanya untuk menjemput Risa di bandara.


🍀🍀🍀🍀🍀


Dua minggu sudah Alex dan Risa berada di kota besar. Syarat yang Alex ajukan pada sang papa sebelum kembali ke perusahaan pun sudah ia dapatkan. Alex dan Risa saling bekerjasama untuk membangun AB Property. Namun begitu hanya satu yang belum ada di genggaman Alex,restu sang papa untuk menerima Risa sebagai menantunya.


Sore ini setelah pulang bekerja, Alex dan Risa menyempatkan waktu untuk melihat kondisi papa Alex di rumah. Alex memutuskan untuk tidak satu atap dengan kedua orangtuanya,meski sang papa dalam keadaan tak berdaya untuk menindas Risa,tapi tetap saja sebelum papanya bisa menerima Risa seutuhnya,Alex tidak mau membuat Risa merasa canggung di rumah itu.


Kini mobil Alex sudah terparkir mulus halaman rumah papanya. Mereka berdua pun turun dari dalam mobil dan melangkahkan kaki untuk masuk kedalam rumah.


"Akhirnya kalian dateng juga,mama pikir kalian gak dateng hari ini." Sambut mama Alex saat melihat kedatangan anak dan menantunya.


"Dateng dong mah,abisnya menantu mama ini gak tenang kalau belum lihat kondisi papa mertuanya." Sindir Alex. Alex sengaja berkata seperti itu dan sedikit mengeraskan suaranya agar papanya yang ada di ruang keluarga mendengar.


"Darl.." Risa memberikan tatapan tajam pada Alex karena malu Alex mengatakan hal itu di depan mama mertuanya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2