
Keesokan paginya,setelah mengisi perut di kafetaria yang ada di hotel itu,Risa pergi menuju tempat ia menyewa mobil yang ia gunakan untuk membuntuti Alex. Rencananya,ia ingin bertanggung jawab penuh untuk mobil yang ia sewa karena ia tidak bisa mengembalikan mobil tepat waktu,apalagi mobil itu tidak tau kemana.
"Selamat pagi mbak." Sapa Risa pada salah satu pegawai yang bekerja di tempat perentalan mobil.
"Ia pagi juga mbak. Ada yang bisa saya bantu.?!"
"Bisa saya ketemu dengan pemilik tempat rental ini?!"
"Ada perlu apa yah mbak?!"
"Gini mbak,beberapa hari lalu saya kan rental mobil disini,rencananya cuma satu hari,tapi sampai sekarang saya belum bisa mengembalikan mobil itu. Karena saya mengalami insiden,dan mobil itu masih saya tinggalkan di daerah puncak. Jadi saya mau bicara langsung dengan pemilik tempat ini untuk membicarakan ganti rugi nya."
"Mobil yang mana yah mbak?! Karena di data saya,gak ada tuh mobil yang belum kembali."
"Masa sih mbak? Coba periksa lagi."
"Bisa liat kartu rentalnya mbak?!"
"Maaf mbak,kartu rentalnya ada dalam tas saya,dan tas saya,saya tinggalkan di dalam mobil. Tapi kemaren saya rentalnya atas nama saya kok,Clarissa Nadiva." Risa pun mengeluarkan kartu tanda penduduknya yang selalu ia simpan di rumahnya.
Pegawai rental itu pun memeriksa data-data Risa melalui sistem.
"Oh mobil jenis xxxx dengan plat xxxxxx yah mbak?! Mobil itu udah kembali kok mbak."
Mata Risa membelalak.
"Kok bisa?! Siapa yang sudah mengembalikannya mbak?!" Tanya Risa masih tidak percaya. Ia takut kalau Alex yang melakukannya.
"Atas nama bu Niana."
Mata Risa makin membulat,ia tidak percaya dengan apa yang di lakukan Nia padanya. Padahal ia pernah menjebak Irlan untuk merusak hubungan mereka berdua. Tapi,Nia malah membalas perbuatan buruknya dengan terus membantunya.
"Yakin mbak atas nama Niana? Bukan nama Alex?!" Tanya Risa sekali lagi. Pegawai itu pun menganggukkan kepalanya.
"Yakin mbak."
__ADS_1
"Oh iya,kalau saya boleh tau,tas saya yang ada di dalam mobil itu,apa di bawa oleh Niana juga?"
"Sepertinya begitu mbak,karena kami terima mobil dalam keadaan kosong."
"Oh..baik mbak,saya permisi dulu. Terimakasih."
Risa pun melangkahkan kakinya keluar dari tempat perentalan mobil dan menunggu taksi online yang ia pesan,untuk mengantarnya ke kantor Dirgantara Group.
Begitu sampai di depan kantor Dirgantara Group. Risa tidak langsung masuk ke dalam,ia malah memilih untuk mengumpulkan keberanian di kafe dekat kantor Nia sebelum bertemu dengan Nia.
Sebenarnya Risa agak takut dan malu untuk menemui Nia,tapi ia tidak ingin ucapan terimakasih yang sangat ingin ia ucapkan pada Nia harus mengendap di dalam hatinya terlalu lama. Setelah keberaniannya terkumpul. Dengan langkah mantap,Risa berjalan memasuki area gedung Dirgantara Group. Ia pun berjalan menuju meja resepsionis begitu kakinya menginjak lantai lobi.
"Selamat siang bu. Ada yang bisa saya bantu?!" Tanya seorang resepsionis pada Risa.
"Saya ingin bertemu bu Niana,apa beliau ada di ruangannya?"
"Apa ibu sudah buat janji dengan ibu Niana sebelumnya?"
Risa menggelengkan kepalanya.
"Belum bu. Tapi ada hal yang sangat penting yang ingin saya bicarakan dengan beliau. Tolong beritahu saja pada bu Niana kalau Clara ingin bertemu."
"Halo mbak Vera,ada wanita bernama Clara ingin bertemu bu Niana,apa bu Niana bisa menerima tamu sekarang?"
"Sebentar saya tanya bu Nia dulu." Sekretaris Nia pun mematikan panggilan dari meja resepsionis dan melakukan panggilan ke meja kerja Nia.
"Ya Ver.."
"Bu,di bawah ada wanita bernama Clara ingin bertemu,apa ibu mau bertemu sekarang,atau saya buatkan jadwal?"
"Clara?? Bukannya dia harusnya masih dirumah sakit?? Kenapa dia ada disini?" Nia bertanya-tanya dalam hati.
"Suruh naik aja Ver,dan siapkan minuman dan cemilan yah untuk tamu saya itu." Nia pun mengakhiri panggilan Vera.
Setelah mendapat izin dari Nia,baru lah Vera memberitahukan ke bagian resepsionis untuk mengantar Risa naik ke lantai dimana ruangan Nia berada.
__ADS_1
Tok tok tok
Vera mengetuk pintu ruangan Nia saat Risa sudah datang.
"Masuk."
Vera pun membuka pintu ruangan Nia.
"Silahkan masuk bu Clara." Vera mempersilahkan Risa masuk ke dalam ruangan Nia.
Risa pun melangkahkan kaki nya masuk ke dalam ruangan Nia. Setelah Risa masuk,Vera menutup kembali pintu ruangan Nia dan kembali ke meja kerjanya.
Melihat Risa sudah berada di dalam ruangannya,Nia pun berdiri dari kursi kebesarannya dan mendekat ke arah Risa yang masih berdiri di dekat pintu.
"Kamu udah keluar dari rumah sakit?!" Tanya Nia.
Risa mengangguk.
Nia pun menggandeng tangan Risa untuk duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
"Ayo duduk." Setelah mendudukkan Risa di sofa,Nia pun ikut duduk di sofa yang berhadapan dengan Risa.
"Kapan kamu keluar dari rumah sakit? Kok pihak rumah sakit gak ada yang ngabarin ke aku yah?!"
"Tadi malam. Mereka udah coba hubungin kamu,tapi gak bisa-bisa katanya." Jawab Risa,karena begitulah yang di katakan dokter Lucky padanya.
"Tapi pihak rumah sakit kan bisa hubungin asisten aku."
"Udah lah,gak usah di bahas soal itu." Risa menghela nafasnya sebelum melanjutkan kata-katanya.
"Kedatangan aku kesini untuk mengucapkan terimakasih sama kamu,karena kamu udah menyelamatkan nyawa aku,ditambah lagi kamu udah bantu aku mengembalikan mobil rental yang aku pakai untuk membuntuti kalian ke puncak." Kata Risa to the point.
"Harusnya aku yang berterimakasih sama kamu Ra,kalau bukan karena kamu,mungkin kak Alex sudah menodai aku waktu itu." Balas Nia.
Krik krik krik. Suasana hening sejenak.
__ADS_1
"Ekhm...kalau boleh tau,sebenarnya apa hubungan kamu sama Alex? Bukannya kamu perempuan yang waktu itu bersama Irlan di ruangan kafe Irlan?!" Tanya Nia memecahkan keheningan.
Bersambung...