
Alex melepaskan sejenak ciuman mereka agar Risa bisa mengambil nafas. Sambil menunggu Risa puas mengisi oksigen ke paru-parunya,Alex pun menurunkan bibirnya ke leher Risa dan memberikan jejak-jejak penjelajahannya disana.
"Darl,stop!!! Jangan sentuh yang itu." Risa melarang Alex menyentuh duo squishy nya.
Bibir Alex pun berhenti menjelajah di leher Risa. Ia menjauhkan wajahnya dari leher Risa dan menatap wajah istrinya dengan mata sendunya.
"ASI mu udah keluar?" Tanya Alex dengan nafas yang berat karena sekarang ia sedang menahan hasratnya yang sudah di ubun-ubun.
"Masih sedikit."
"Ya udah kalau gitu biar aku bantu untuk memperbanyak produksi ASI mu."
"Maksudnya?"
"Kemaren waktu di rumah sakit,ada ibu-ibu yang bilang kalau ASI kamu belum keluar,mungkin aja karena si kembar yang belum pintar nyedot. Jadi ibu-ibu itu nyaranin supaya aku bantu nyedot sampai ASI kamu keluar banyak,jadi si kembar gak usah susah payah nyedot." Kata Alex.
"Ngaco kamu! Gak mungkin kayak gitu."
"Yah kita coba aja lah Ra,mana tau aja omongan ibu-ibu itu benar."
"Tapi darl..."
"Gak ada tapi-tapian!!" Alex langsung membuka kancing dress yang Risa pakai satu persatu. Setelah semua kancing terbuka,cepat-cepat Alex membuka pengait kain yang menutupi duo squishy. Setelah pengait berhasil Alex lepaskan,Alex langsung melemparkan kain penutup duo squishy ke sembarang tempat dan langsung meraup duo squishy dengan sangat rakus. Bukannya membantu menyedot seperti yang Alex katakan tadi,Alex malah memainkan lidahnya di puncak duo squishy.
"Aakh darl..." sepertinya Risa terbawa suasana akan permainan lidah Alex.
Mata Alex mendelik melihat wajah Risa yang sudah merem melek. Alex pun menghentikan sejenak acara bermainnya dengan duo squishy dan kembali meraup bibir Risa.
Sepertinya hasrat sepasang suami istri itu sudah semakin menggelora,terbukti dari permainan bibir mereka yang makin memanas dan tangan mereka yang saling menjamah area sensitif pasangan mereka.
Perlahan tapi pasti kini kedua orangtua baru itu sudah sama-sama tidak di lapisi kain penutup yang menutupi tubuh mereka.
"Ssshhh....aaahh...Ra.." desah Alex saat Risa memasukkan benda pusaka Alex kedalam mulut Risa.
Hampir satu jam mereka saling membantu. Risa membantu Alex meninabobokan benda pusaka sang suami yang sempat terbangun. Dan Alex membantu Risa untuk memperbanyak produksi ASI yang akan di konsumsi baby Agam dan Agler.
⭐⭐⭐⭐⭐
Tiga tahun berlalu.
Kini Agam dan Agler sudah berubah menjadi balita. Risa pun sudah memasukkan Agam dan Agler di preschool.
Hari ini adalah weekend,seperti weekend-weekend biasanya,Alex dan Risa selalu menyediakan waktu untuk kedua buah hatinya untuk berjalan-jalan. Entah itu ketaman bermain,ke pantai atau sekedar mengunjungi mama Alex yang kini tinggal bersama kakak perempuan Alex yang terakhir.
Sejak papa Alex meninggal setahun yang lalu,kakak perempuan Alex yang terakhir memilih untuk tinggal di rumah mama Alex,agar mama Alex tidak merasa kesepian tinggal di rumah itu. Maklum saja,sejak Agam dan Agler berumur enam bulan,Alex memutuskan keluar dari rumah orangtuanya untuk hidup mandiri di rumah yang ia sudah ia persiapkan sebagai hadiah untuk Risa.
Weekend kali ini,Alex mengajak istri dan anaknya-anaknya pergi ke pantai,sekalian mereka akan menginap di vila yang Alex hadiahkan untuk Risa. Tak lupa Alex juga mengajak mbak Nunik dan mbak Iin untuk menjaga Agam dan Agler,agar Alex bisa memiliki waktu berduaan dengan Risa.
Setelah perjalanan yang memakan waktu kurang lebih tiga jam. Akhirnya mobil yang Alex kendarai tiba juga di vila.
"Mami,Agler mau langsung main air boleh?" Tanya Agler.
__ADS_1
"Boleh sayang,tapi main airnya di pinggir-pinggir aja yah." Jawab Risa sambil mengelus rambut Agler.
Agler pun mengangguk,ia pun langsung berlari dengan antusias mendekati bibir pantai. Mbak Iin yang bertugas menjaga Agler pun ikut berlari di belakang Agler. Maklum,Agler tergolong anak yang aktif dan gesit.
Namun tidak dengan Agam. Agam tidak tergolong anak yang pendiam tapi tidak juga masuk kategori anak yang cerewet. Agam hanya akan bicara panjang lebar jika topik pembicaraannya mengenai sekolah. Apa yang di ajarkan di sekolah,kegiatan apa saja yang Agam lakukan di sekolah,bahkan saat tidak sekolah pun Agam lebih memilih belajar menebalkan garis putus-putus atau pun mewarnai.
Seperti saat ini,saat Agler sudah berlarian kesana-kemari di bibir pantai,Agam memilih untuk duduk santai di teras yang menghadap kepantai sambil mewarnai.
"Agam gak ikut Agler main air?" Tanya Alex.
Agam menggelengkan kepalanya.
"Agam lebih suka mewarnai papi." Jawab Agam,namun matanya tetap fokus pada buku mewarnainya.
Alex menghela nafasnya.
Sikap Agam yang seperti ini,sangat persis dengan dirinya. Namun bedanya,dulu Alex melakukannya karena paksaan pak Abram yang menuntut Alex untuk menjadi anak yang berprestasi. Sedangkan Agam,ia melakukannya atas kemauannya sendiri,padahal Alex dan Risa tidak pernah memaksa kedua anak mereka untuk mendapatkan nilai akademik yang tinggi.
"Kita ini kan lagi liburan Agam,kalau mewarnai kan bisa besok-besok. Tapi kalau liburan kan cuma dua hari dalam seminggu." Timpal Risa.
"Ayo sekarang Agam tutup bukunya,dan susul Agler. Agam gak kasihan lihat Agler main sendirian?" Lanjut Risa lagi. Risa tau,kalau Agam akan berhenti pada kegiatannya jika ada pertanyaan 'apa Agam tidak kasihan?'. Dan sesuai prediksi Risa,mendengar pertanyaan itu,Agam langsung melihat ke arah Agler yang sedang bermain pasir dengan mbak Iin di pantai,tak lama Agam langsung menutup bukunya dan langsung berlari mendekati Agler dan mbak Iin.
"Mbak Nunik,saya titip anak-anak yah. Saya sama Risa mau berduaan dulu." Kata Alex pada mbak Nunik yang hendak lari mengejar Agam.
"Kamu apaan sih darl.!" Protes Risa dengan mata yang melotot ke arah Alex.
"Beres mas." Jawab mbak Nunik yang paham maksud Alex dengan kata 'berduaan' yang Alex maksud.
Setelah sampai di dalam kamar,Alex langsung menurunkan Risa.
"Kamu ini suka banget sih yang aneh-aneh. Kita kesini mau liburan bereng anak-anak darl,bukan mau berduaan." Protes Risa sambil melangkahkan kakinya menuju balkon.
Alex pun mengikuti langkah kaki Risa dari belakang dan memeluk sang istri saat mereka sudah berada di balkon.
"Anak-anak udah ada mbak Nunik sama mbak Iin yang jagain Ra. Kalau aku siapa yang jagain? Kamu mau aku diambil perempuan lain kalau aku sendirian."
"Cih." Risa berdecih sambil memutar bola matanya malas mendengar perkataan Alex.
"Ra...Sayang."
"Hemh.."
"Kamu bahagia gak hidup sama aku?"
Risa memutar tubuhnya agar bisa berhadapan dengan sang suami.
"Kok tiba-tiba nanya gitu?"
"Aku cuma penasaran aja. Apa kamu bahagia atau gak hidup sama aku. Apa ada sesuatu dari diri aku yang mungkin buat kamu membatin bersama aku."
Risa menggeleng.
__ADS_1
"Aku bahagia darl. Bahagia banget. Sekalipun kamu posesif dan pemaksa tapi aku suka. Itulah yang buat aku makin hari makin cinta sama kamu. Kalau kamu,bahagia gak hidup sama aku?"
"Kalau itu gak usah di tanya Ra,aku bahagia banget hidup sama kamu. Dan rasa cinta aku ini lebih besar dari rasa cinta kamu ke aku."
"Ah yang bener? Masa sih?"
"Serius,bahkan kalau kamu minta aku lompat dari sini,aku siap."
Risa tertawa mendengar kata-kata Alex.
"Gombal!!!" Kata Risa sambil menoel dagu Alex.
"Ra.." Alex menangkup wajah Risa dengan kedua tangannya.
"Em.."
"Love you."
"Love you too darl."
Makin lama wajah Alex makin mendekati bibir Risa. Dan pertemuan kedua bibir pun tak bisa terelakkan. Angin pantai dan aroma air laut menambah rasa manis ciuman mesra mereka.
"Cie papi..mami.." teriak Agler dari bawah saat melihat kedua orangtuanya sedang berciuman.
Sontak Risa langsung mendorong tubuh Alex agar menjauh darinya. Wajah Risa langsung berubah merah karena kepergok oleh anak sendiri.
"Kamu sih darl,cium-cium di sembarang tempat." Omel Risa.
"Kok aku. Kamu juga yang bales." Jawab Alex tak mau kalah.
"Udah akh. Aku mau nyusulin anak-anak." Kata Risa sambil melangkahkan kakinya hendak berlalu dari hadapan Alex.
Namun Alex langsung menahan tangan Risa dan langsung menggendong Risa ala bridal style ke dalam kamar dan membaringkan Risa di atas ranjang.
Tak ingin Risa sampai lari,Alex langsung menindih tubuh Risa dan mulai memberikan kecupan-kecupan kecil di leher Risa.
"Ah...geli darl.!!" Pekik Risa.
Alex menghentikan sejenak kecupannya dan menatap wajah sang istri dengan tatapan sendu,nafasnya juga sudah berat menahan hasrat yang sudah menggebu-gebu.
"Ra...makasih yah udah mau mendampingi hidup ku. Mengeluarkan ku dari diri ku yang bukan sebenarnya. Kalau bukan karena kamu,mungkin sekarang aku udah jadi monster ciptaan papa aku. Dan mungkin juga papa gak akan meninggal dalam keadaan hati yang bersih." Kata Alex sambil mengelus wajah Risa.
"Sama-sama darl. Aku juga berterimakasih sama kamu,karena sudah memilih aku dalam hidup kamu. Dan kalau bukan karena kamu,mungkin penderitaan aku belum berakhir sampai sekarang. Kamu sudah membayar semua penderitaan yang aku alami selama ini dengan cinta dan kasih sayang yang sangat luar biasa. I love you so much Alex Johnson."
"I love you too Clarisa Nadiva." Balas Alex.
Mereka pun kembali berciuman. Dan berlanjut ke olahraga ranjang. Melupakan sejenak Agam dan Agler yang sedang asyik bermain di pantai bersama mbak Nunik dan mbak Iin.
Sedangkan mbak Nunik dan mbak Iin yang sudah sangat paham apa yang sedang di kerjakan Alex dan Risa jika mereka tiba-tiba menghilang seperti saat ini.
TAMAT
__ADS_1
**Terimakasih untuk para readers setia AKHIR PENDERITAAN CLARISA yang udah ngasih vote,like dan hadiahnya. Buat yang selalu nanyain dokter Lucky dan Ayu. Sabar yah,othor akan buat kamar sendiri untuk mereka. Sambil nungguin kisahnya dokter Lucky dan Ayu,boleh singgah di karya othor yang lainnya. Sekali lagi othor ucapkan terimakasih yang sebanyak-banyaknya. Maaf kalau cerita othor tidak mengandung pembelajaran,karena othor bikin cerita hanya untuk menghibur bukan untuk belajar (😂😂😂). SALAM SEHAT SELALU. 🙏🙏🙏🙏💋💋💋💋**