
Cepat-cepat pak Hendrawan mengambil berkas yang di sodorkan Alex. Dengan perlahan dan sangat teliti,pak Hendrawan membaca satu persatu dua data yang Alex bawa.
"Saya gak nyangka pak Abram bisa berbuat curang seperti itu." Geram pak Hendrawan sambil mengepalkan tangannya.
"Jangankan pak Hendrawan,saya saja yang anaknya juga tidak menyangka. Saya gak menyangka setelah saya meninggalkan perusahaan,papa saya jadi berbuat curang seperti ini. Makanya,setelah saya tau papa saya ingin berbuat curang,saya langsung menemui pak Hendrawan,saya gak mau nama perusahaan yang papa saya bangun dari nol,harus runtuh hanya karena keserakahannya. Saya ingin menyelamatkan nama perusahaan sekaligus nama baik keluarga saya."
Pak Hendrawan kagum dengan sikap Alex.
"Jadi pak Alex mau saya berbuat apa? Apa pak Alex mau saya mencabut investasi saya?"
"Saya rasa tidak perlu seperti itu,tapi pak Hendrawan bisa meminta kalau proyek ini di tangani oleh orang yang pak Hendrawan percayai di AB Properti. Kalau papa saya tidak setuju,pak Hendrawan bisa menunjukkan bukti ini pada papa saya."
Pak Hendrawan berpikir sejenak untuk mencerna kata-kata Alex. Ia pun mengangguk menyetujui ide Alex.
"Tapi siapa yang bisa saya percayai di AB Property?"
Alex tersenyum licik.
"Bapak bisa percaya sama saya."
"Tapi pak Alex bilang tadi.."
"Kalau bapak percaya sama saya,saya rela kembali ke AB Property sampai proyek ini selesai."
"Baik lah saya setuju." Pak Hendrawan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Alex.
Setelah urusan dengan pak Hendrawan selesai,Alex pun keluar dari ruangan pak Hendrawan. Kini tujuannya adalah menemui sang mama,karena mereka sudah janjian bertemu di kafe di dekat perusahaan pak Hendrawan.
Sedangkan pak Hendrawan,menyuruh asistennya untuk membuat janji temu dengan pak Abram setelah jam makan siang.
Satu hari itu berlalu begitu cepat. Malam pun kembali berganti pagi.
Pagi ini Alex dibangunkan oleh nada dering di hp nya. Alex meraba nakas untuk mengambil hp nya. Ia mengerjapkan matanya untuk melihat siapa yang menelponnya.
"Mama." Lirih Alex saat melihat nama sang mama tertera di layar ponselnya.
__ADS_1
"Halo mah." Jawab Alex dengan suara khas orang bangun tidur.
"Lex..papa kamu Lex.." kata mama Alex sambil terisak.
Mendengar mamanya menangis,mata Alex menjadi terbuka lebar.
"Papa kenapa mah?"
"Papa masuk rumah sakit,dia kena stroke Lex."
Alex langsung terduduk karena kaget dengan berita yang mamanya sampaikan.
"Kok bisa mah?" Tanya Alex.
"Mama gak tau jelasnya,tapi kata asisten papa kamu,papa kamu begini karena pak Hendrawan yang mengetahui kecurangan yang papa kamu lakukan untuk proyek yang sedang papa kamu kerjakan."
Sesuai dugaan Alex,papa nya pasti stres bercampur emosi makanya sampai terkena stroke. Walaupun ia senang pak Hendrawan langsung menemui sang papa,tapi ia tak menyangka kalau hal itu bisa membuat sang papa terkena stroke.
"Ya udah mama gak usah nangis,sebentar lagi Alex kesana." Alex langsung mengakhiri panggilan mamanya. Ia pun menghubungi Risa untuk memberitahukan tentang kondisi papa Alex. Setelah menghubungi istrinya,Alex pun beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk bersiap-siap ke rumah sakit.
Kini Alex sudah berada di kamar rawat sang papa.
"Tadi malam Lex,tapi mama baru di hubungi pak Eka,asisten papa kamu subuh tadi. Pak Eka takut mama shock,makanya pak Eka baru kasih tau subuh tadi."
Alex menghela nafasnya dan menarik sang mama dalam pelukannya.
"Mama jangan khawatir,Alex akan cari pengobatan terbaik untuk nyembuhin papa." Kata Alex sambil mengelus punggung mamanya untuk memberi ketenangan dan kekuatan untuk sang mama.
"Mungkin ini hukuman untuk papa kamu karena sudah serakah." Kata mama Alex sambil menatap sang suami yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
"Bukan hanya serakah,tapi juga karena papa sudah jahat sama Clara dan terlalu ikut campur urusan rumah tangga Alex!!" Timpal Alex dalam hati.
"Mama gak usah mikirin itu. Mending kita sarapan dulu,mama belum sarapan kan?"
Mama Alex mengangguk.
__ADS_1
"Ya udah kita sarapan dulu,biar ada tenaga untuk jagain papa." Ajak Alex. Ia pun membawa mamanya untuk mengisi perut di kantin rumah sakit.
Setelah mengisi perut,Alex dan mamanya kembali ke kamar rawat sang papa.
Ternyata sudah ada pak Eka di dalam kamar papanya.
"Udah lama pak Eka?"
"Baru sepuluh menit lah pak Alex."
"Ada perlu apa pak Eka kesini?"
"Em...bisa kita bicara di luar saja pak?" Tanya pak Eka sambil melirik mama Alex. Ia merasa tak enak membicarakan masalah perusahaan di depan istri bosnya itu.
Alex yang mengerti arti sorot mata pak Eka langsung menganggukkan kepala.
"Ayo pak." Alex berjalan lebih dulu keluar dari kamar rawat papanya dan disusul pak Eka.
"Apa ada masalah di kantor pak?" Tanya Alex basa-basi. Padahal ia sudah tau apa yang ingin di bicarakan asisten papanya itu.
Pak Eka mengangguk.
"Pak Hendrawan mengancam akan menarik investasi nya pak,kalau.."
"Kalau apa?"
"Kalau bukan pak Alex yang memimpin proyek pembangunan real estate pak."
"Pak Eka kan tau saya udah keluar dari perusahaan,bahkan papa saya sudah mengeluarkan saya dari kartu keluarga."
"Tapi pak,kalau bukan pak Alex yang memimpin,pak Hendrawan akan menarik semua investasinya dan itu bisa bikin perusahaan bangkrut pak."
"Itu bukan urusan saya pak. Kalau pun pak Eka mau saya yang memimpin,pak Eka harus tanya dulu sama papa saya. Kalau papa saya bilang oke,saya siap balik ke perusahaan,tapi kalau papa saya gak mau,ya saya gak bisa berbuat apa-apa." Kata Alex sok jual mahal. Sebenarnya tidak ada ruginya juga buat Alex kalau papanya tidak setuju kalau ia memimpin perusahaan.
"Tapi pak..."
__ADS_1
"Gak ada tapi-tapi pak,keputusan saya sudah bulat." Alex tak memperpanjang perdebatannya,ia kembali masuk ke dalam kamar rawat papanya. Sedangkan pak Eka kembali ke kantor.
Bersambung...