Akhir Penderitaan Clarisa

Akhir Penderitaan Clarisa
Part 49


__ADS_3

Kini mobil yang Alex kendarai telah tiba di hotel tempatnya menginap. Setelah memarkirkan mobilnya,Alex langsung membawa Risa masuk ke dalam hotel dan membawanya ke dalam kamarnya.


Semenjak mobil Alex masuk ke area hotel,hati Risa semakin berdetak tak karuan. Pikiran tentang Alex akan mengajaknya berhubungan intim lagi terus berputar-putar di otaknya.


"Lex,ngapain loe bawa gue kesini? Gue mau pulang!! Pulangin gue Lex.!!" Pekik Risa saat mereka sudah berada di dalam lift.


"Kenapa loe takut kalau gue minta loe ngelayanin gue?!" Bisik Alex di telinga Risa.


"Gila loe!! Gue gak mau berurusan sama loe lagi.!!"


"Tenang aja Ra,gue juga masih punya otak kali.!!" Kata Alex sambil mengusap kepala Risa.


Ting. Pintu lift terbuka.


Alex kembali menggandeng tangan Risa keluar dari lift dan berjalan ke arah kamar Alex.


Ceklek. Alex membuka pintu kamarnya.


"Ayo masuk." Alex menarik tangan Risa untuk masuk ke dalam kamarnya.


"Sebenarnya loe mau apa sih Lex?!" Rengek Risa.


Alex pun membalikkan tubuhnya menghadap Risa setelah mereka sudah berada di depan ranjang.


"Gue mau denger penjelasan loe." Kata Alex sambil mendudukkan bokongnya di sofa depan ranjang.


"Penjelasan apa?!" Tanya Risa pura-pura bodoh.


"Semuanya. Mulai dari alasan kenapa loe lepas alat kontrasepsi."

__ADS_1


"Gue gak mau bahas itu lagi. Udah gak penting."


"Buat loe gak penting,tapi buat gue penting Ra.!! Seandainya loe bilang sama gue.." kata-kata Alex terhenti karena Risa memotongnya.


"Seandainya gue bilang ke loe,pasti loe gak akan mau lagi berhubungan sama gue kan? Loe akan ninggalin gue!! Loe akan mencampakkan gue sama seperti yang mantan gue lakuin ke gue!! Asal loe tau Lex,saat pertama kali gue ketemu sama loe,gue kayak ngerasa ada sesuatu yang beda,dan makin lama gue kenal dan kita makin intens,gue yakin kalau gue udah mulai jatuh cinta sama loe. Gue banyak berharap dan bermimpi untuk bisa memulai hidup yang lebih baik berdua dengan loe. Tapi sekarang,semua harapan dan mimpi-mimpi gue itu,udah gue kubur bersama dengan anak gue." Risa tak tahan,ia pun menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan menangis sejadi-jadinya.


Alex pun mendekati Risa yang terduduk di tepi ranjang di hadapannya.


"Maafin gue Ra,maaf karena gue salah paham sama loe,maaf karena ambisi gue,kita harus kehilangan anak kita." Kata Alex sambil membawa tubuh Risa ke dalam pelukannya.


Mata Risa membelalak saat Alex mengatakan 'anak kita'.


"Loe percaya kalau itu anak loe?"


"Emangnya kapan gue gak percaya?!" Sangkal Alex.


"Bukannya waktu di rumah sakit,loe nyuruh orang untuk..."


"Coba loe tempatin diri loe di posisi gue. Gue gak pernah tau gimana cara loe bernegosiasi dengan klien. Setiap gue tanya,loe juga gak pernah mau bilang. Wajar dong kalau gue gak langsung percaya dengan isi surat loe."


"Itu karena dari awal pikiran loe ke gue udah negative. Loe gak inget waktu kita pertama kali ketemu,bahkan saat itu loe minta nomor rekening gue untuk transfer uang jasa buat gue karena udah muasin loe. Padahal malam itu,loe yang tiba-tiba narik gue dan bawa gue ke hotel."


"Sori,waktu pikiran gue lagi kacau balau. Apalagi pas kita berhubungan intim,loe udah gak ori,makanya gue pikir loe sama aja kayak perempuan yang lainnya."


"Jadi maksud loe kalau perempuan kayak gue yang udah gak perawan lagi berarti jalang gitu?!" Tanya Risa dengan nada sedikit meninggi.


"Cih..gue gak mau bahas itu Ra.!! Sekarang loe jawab pertanyaan gue,kenapa loe menghilang waktu di rumah sakit.?!"


"Gue gak ngilang,emang gue udah bisa keluar,makanya gue keluar dari rumah sakit."

__ADS_1


"Terus dari rumah sakit,kenapa loe gak tinggal dirumah loe?!"


"Itu bukan rumah gue,jadi ngapain gue harus tinggal lagi di tempat itu."


"Setidaknya loe kasih kabar ke gue dong Ra.!!"


"Buat apa? Kan gue udah bilang,gue gak mau berurusan lagi sama loe Lex!! Gue pengen membuka lembaran baru,jadi Clarisa yang kayak dulu,tapi versi kuatnya. Bukan jadi Clara."


"Buat gue,mau loe Clarisa kek,Clara kek,dimata gue,loe tetap perempuan yang selalu bisa gue andalkan,yang berhasil bikin gue kalang kabut saat loe menghilang."


"Cih..gue tau,loe ngomong gini pasti loe mau gue tetap jadi partner loe kan?"


Alex tertawa terbahak-bahak mendengar kata-kata Risa.


"Partner yang mana? Partner kerja? Asal loe tau Ra,semenjak gue tau gimana cara loe bernegosiasi dengan klien,gue jadi malu sendiri dengan diri gue. Loe dengan kemampuan dan kepintaran loe bisa meyakinkan klien,sedangkan gue,terlalu berharap dengan sesuatu yang instan. Yah..mungkin karena tekanan dari bokap gue yang bikin gue kayak gitu. Tapi,sebulan terakhir ini,gue benar-benar nguras otak dan tenaga gue untuk bisa memajukan perusahaan bokap gue. Yah...walaupun bokap gue masih aja gak pernah puas dengan apa yang gue kerjain,paling gak gue gak mau gunain cara instan lagi. Dan kalau yang loe maksud partner ranjang. Loe bego!!! ngapain juga gue jauh-jauh ke kota M nyusulin loe kalau cuma untuk gue jadiin pertner ranjang. Mending gue cari disana partner ranjang gue yang baru. Yang lebih hot." Bisik Alex di akhir kalimatnya.


Dan bisikan itu sukses membuat mata Risa membulat sempurna. Ia merasa tidak rela saat Alex mengatakan dirinya akan mencari pengganti Risa. Namun sebisa mungkin Risa menyembunyikan perasaan tak rela itu.


"Ya udah cari aja sana!" Kata Risa dengan wajah kesal.


"Yakin loe gak nyesel kalau gue cari partner ranjang yang baru?!" Tanya Alex menggoda.


"Gue...gak..pe..du..li..!!" Jawab Risa sambil melototkan matanya menatap wajah Alex.


Ia pun mulai melangkahkan kakinya untuk pergi meninggalkan Alex,namun tangan Alex langsung menahan tangan Risa dan memeluk tubuh Risa dengan sangat erat.


"Jangan tinggalin gue Ra,jangan pernah menghilang lagi dari gue." Kata Alex sambil mendekap tubuh Risa.


Mata Risa membelalak mendengar permintaan Alex.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2