
"Kita bisa berteman kan?" Dokter Lucky menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Alex.
Alex tampak enggan menyambut uluran tangan dokter Lucky. Risa yang melihat itu,langsung menarik paksa tangan Alex agar menyambut tangan dokter Lucky. Mungkin karena sudah terbiasa berjabat tangan kemudian berpelukan,dokter Lucky pun refleks menarik tubuh Alex untuk memeluknya. Namun Alex cepat-cepat mendorong tubuh dokter Lucky.
"Eits..gak usah peluk-peluk!!! Nanti ngajak main pedang-pedangan lagi loe sama gue!! Gue normal tau gak!!" Kata Alex sambil bersembunyi di balik tubuh Risa.
Risa langsung menyikut perut Alex karena mulut Alex yang tak berfilter.
Mendengar kata-kata Alex,dokter Lucky bukannya marah malah semakin ingin menggoda Alex.
"Iya sekarang kamu masih normal,nanti kalau udah belok,kamu bisa kok cari saya. Saya siap main pedang-pedangan sama kamu." Goda dokter Lucky sambil tersenyum tipis menahan tawanya.
Mendengar kata-kata dokter Lucky,Alex semakin merinding saja.
"Ra...cepet suruh dia pulang Ra. Bisa kena penyakit jantung,diabetes,ginjal,hati gue Ra kalau dia lama-lama disini." Pinta Alex pada Risa dengan suara yang sudah gemetar.
Lebih baik ia melawan sepuluh penjahat,daripada harus berhadapan dengan satu makhluk seperti dokter Lucky.
"Maaf yah mas." Kata Risa,ia merasa tidak enak hati pada dokter Lucky karena perkataan Alex.
"Gak pa-pa Ra. Udah lah aku pulang yah,nanti pacar kamu itu mati gara-gara komplikasi lagi." Kata dokter Lucky sambil melirik Alex.
"Oh iya,aku sekalian pamit mau pulang ke kota besar sama Billy. Aku juga akan mengikuti saran kalian. Doakan aku yah semoga orangtua aku baik-baik saja setelah mendengar pengakuan dari aku." Kata dokter Lucky lagi.
"Iya mas,aku pasti doain kok. Kamu hati-hati yah mas. Salam sama mas Billy." Jawab Risa.
Dokter Lucky pun turun ke bawah meninggalkan Alex dan Risa. Sebenarnya Risa ingin mengantar dokter Lucky ke bawah,tapi dokter Lucky melarang Risa untuk mengantarnya.
Setelah kepergian dokter Lucky,Alex langsung bernafas lega. Ia pun langsung mendudukkan bokongnya di atas sofa.
"Huft..." desah Alex.
PLAAAAK. Tanpa Alex duga,tiba-tiba saja Risa memukulkan bantal sofa ke wajah Alex.
"Auw..!! Loe kenapa sih?!" Tanya Alex tak mengerti dengan tingkah Risa.
__ADS_1
"Bisa gak sih loe,sebelum ngomong dipikirin dulu!! Jangan asal jeplak kayak tadi! Gue jadi gak enak tau gak sama mas Lucky.!" Kesal Risa.
"Kan yang gue bilang bener. Kecuali gue fitnah,baru gue salah!" Jawab Alex tak mau kalah.
"Udah akh gak usah bahas si terong. Sini loe!!" Alex menarik tangan Risa agar duduk di pangkuannya.
"Aaakh..!! Apaan sih loe Lex,minggir akh!!" Risa memberontak di atas pangkuan Alex.
Tapi Alex tak menghiraukan kata-kata Risa,Alex malah semakin memeluk Risa dengan erat.
"Nanti mbak Nunik sama mbak Iin lihat kita Lex. Awas Lex!!"
"Lax,Lex,Lax,Lex!!! Loe manggil si terong manis banget,giliran manggil gue Lax Lex Lax Lex!! Coba loe manggil gue kayak dulu loe manggil gue Ra." Protes Alex.
"Males!"
Mendengar jawaban Risa,membuat Alex semakin gemas. Ia menggigit pundak Risa.
"Aaarrgh..!!!" Pekik Risa.
"Sakit Lex!!" Teriak Risa lagi.
"Gak akh,males!!" Tolak Risa lagi.
"Oh..udah berani loe yah!!" Alex pun mengangkat tubuh Risa ala bridal style menuju kamar Risa.
"Lex..turunin!! Jangan macem-macem loe Lex!! Turunin gak!!" Teriak Risa dalam gendongan Alex.
Alex tak menghiraukan kata-kata Risa,ia tetap melangkahkan kakinya menuju kamar Risa. Setelah mereka di dalam kamar,barulah Alex menurunkan Risa. Alex juga mengunci pintu kamar Risa dan memasukkan kuncinya ke dalam kantong celananya.
"Ngapain sih di kunci-kunci. Balikin gak kuncinya!"
"Gak!! Sebelum loe panggil gue kayak dulu!" Alex tetap kekeh ingin Risa memanggil dirinya seperti dulu.
"Gak usah kayak anak kecil deh Lex. Gue geli kalau harus manggil loe kayak dulu!" Tolak Risa. Ia merasa panggilannya untuk Alex dulu,seperti perempuan nakal yang memanggil teman ranjangnya.
__ADS_1
"Tapi gue suka Ra. Udah ayo cepet,atau gak gue minta jatah nih!!" Ancam Alex.
Risa menghela nafasnya. Lebih baik ia mengalah daripada Alex meminta jatah padanya.
"Darl..." akhirnya satu kata yang menggelikan itu keluar lagi dari mulut Risa.
Setelah mendengar Risa memanggilnya dengan panggilan yang sangat ia dengar,Alex tersenyum puas. Tapi bukan Alex namanya kalau ia melepaskan Risa begitu saja. Alex malah menyerang bibir Risa secara tiba-tiba, permainan bibir Alex yang begitu lembut membuat Risa tak mampu menolak,malah kini Risa semakin terbuai dengan permainan Alex. Bahkan ia sampai tak sadar saat Alex menggiringnya sampai ke atas tempat tidur. Kini tubuh Alex sudah menindih tubuh Risa. Tangan terampil Alex pun sudah traveling ke perbukitan indah milik Risa.
Kesadaran Risa pun datang kembali saat merasakan tangan terampil Alex di bukitnya. Risa langsung melepas pungutan bibir mereka dan mendorong tubuh Alex.
"Udah darl,jangan di terusin.!"
"Nanggung Ra. Udah sesak banget ini celana!" Kata Alex yang tak ingin kena tanggung lagi karena hasratnya tak bisa tersalurkan lagi.
"Tapi..."
"Gue janji hari ini terakhir. Suer. Pliis yah." Mohon Alex.
Melihat wajah Alex yang memelas,Risa pun jadi tak tega.
"Tapi gak disini juga kali darl. Kita ke hotel aja yah."
"Kelamaan Ra kalau mau ke hotel. Disini aja."
"Tapi kalau mbak Nunik atau mbak Iin denger gimana?!"
"Makanya kamu jangan teriak-teriak."
"Tapi.."
"Udah akh,kebanyakan mikir kamu!! Anggap aja ini sensasi baru.!" Alex pun langsung melahap rakus bibir Risa agar Risa tidak banyak bicara lagi.
Pemanasan yang sempat tertunda kembali berlanjut. Setelah tubuh mereka sama-sama panas,dengan lincah tangan Alex membuka pakaian yang menempel pada Risa,setelah Risa polos baru lah ia membuka pakaian yang menempel padanya.
Alex kembali menindih tubuh Risa dan kembali memberikan sengatan-sengatan ke titik sensitif Risa. Dirasa sudah cukup memberi sengatan,dengan bertumpu pada kedua dengkulnya,Alex membuka kaki Risa dan menaruh kaki Risa di pundaknya. Ia pun mengarahkan benda pusakanya menuju dalam lembah favoritenya.
__ADS_1
Namun,baru saja benda pusakanya sampai di depan pintu lembah,tiba-tiba saja pintu kamar Risa terketuk.
Bersambung...