Akhir Penderitaan Clarisa

Akhir Penderitaan Clarisa
Part 72


__ADS_3

Manajer itu pun mengusap wajah nya kasar saat mendengar jawaban dari Sheilla. Apa jadinya kalau media tau Sheilla tengah hamil anak Erick,sedangkan karir Erick sedang menanjak-menanjaknya. Pasti Sheilla akan di bully habis-habisan karena rata-rata penggemar Erick adalah dari golongan anak muda. Apalagi agensi yang menaungi Erick adalah agensi yang sangat besar di sana,ditambah keluarga Erick yang bukan orang sembarangan di negara itu,bisa-bisa mereka menyuruh Erick untuk menyangkal kehamilan Sheilla dan menghancurkan karir Sheilla dalam sekejap mata.


"Saya kan sudah bilang sama kamu,nakal boleh,liar jangan!!! Apalagi sekarang kamu bukan hanya berurusan dengan Erick,tapi juga berurusan dengan agensi dan keluarganya!!!" Geram sang manajer.


"Apa media sudah tau?"


"Belum. Tapi mereka pasti akan mencari tau,karena kamu pingsan di tengah-tengah acara." Kata sang manajer sambil membuang wajahnya.


"Tolong kasih aku waktu,biar aku bicarakan ini dengan Erick. Kami saling mencintai,aku yakin dia akan bertanggung jawab." Mohon Sheilla.


"Apa kamu yakin dia mau bertanggung jawab?" Tanya sang manajer tak yakin.


"Aku yakin."


"Kalau pun Erick mau bertanggung jawab,pasti agensi dan keluarganya akan menentang hubungan kalian! Ingat,Erick sekarang sedang ada di puncak karir,aku yakin agensi nya tidak ingin karir Erick hancur hanya karena ia bertanggung jawab pada model biasa seperti mu. Mereka pasti akan mencuci otak Erick."


"Asalkan Erick bertanggung jawab,menikah diam-diam pun tidak masalah bagiku,kalau memang pihak agensi Erick maunya seperti itu."


"Kalau mereka mau seperti itu,kalau mereka menyuruh Erick untuk tidak mengakui anak itu bagaimana?!"


"Aku yakin tidak. Kan aku sudah bilang tadi,aku dan Erick saling mencintai." Jawab Sheilla kepedean.


Padahal di belakang Sheilla,Erick juga memiliki banyak kekasih,apalagi kekasih Erick yang lain merupakan model yang kastanya lebih tinggi dari Sheilla. Erick tertarik dengan Sheilla karena rasa penasaran dengan wanita asia.


"Baiklah kalau kamu memang yakin,aku kasih kamu waktu paling lama dua minggu untuk memutuskan kearah mana hubungan kalian."


"Oke. Aku paham."


"Aku pergi dulu,nanti aku datang lagi untuk menjemput mu setelah cairan infus mu habis." Sang manajer pun keluar dari dalam kamar rawat Sheilla.


Setelah sang manajer pergi,Sheilla mengusap wajahnya kasar. Sebenarnya ia juga tidak yakin apa Erick percaya kalau yang ia kandung adalah anaknya,karena Erick selalu berhati-hati setiap mereka berhubungan intim. Sheilla pun mulai mencari celah kecil untuk ia gunakan sebagai tamengnya nanti saat ia berbicara dengan Erick.


Keesokan paginya,Sheilla yang baru tiba di apartemennya di buat bingung karena tidak adanya Bagas di dalam apartemennya. Karena biasanya jam segini Bagas sedang membuatkan sarapan untuknya.


Tak ingin memperdulikan keberadaan Bagas,apalagi dirinya yang masih sangat lemas,Sheilla pun melanjutkan langkah kakinya ke dalam kamar. Sesampainya di kamar,Sheilla langsung menuju ruang ganti untuk menaruh kopernya dan mengganti baju nya,namun matanya membelalak saat melihat lemari perhiasannya dalam keadaan terbuka dan perhiasan yang ada di dalam sana hanya tinggal setengahnya.


"Bagas!!" Geram Sheilla,dengan langkah cepat Sheilla berjalan ke kamar Bagas.


BRAAAK. Sheilla membuka pintu kamar Bagas dengan kasar.


"Kemana si brengsek itu.!!" Geram Sheilla saat tak mendapati Bagas di kamarnya.


Sheilla membuka pintu kamar mandi,namun ia juga tak menemukan Bagas di dalam nya.


"Apa jangan-jangan dia...." Sheilla langsung membuka lemari Bagas.

__ADS_1


Matanya membelalak saat melihat lemari pakaian Bagas sudah setengah kosong.


"Brengsek!!!! Pasti dia kabur!!!" Teriak Sheilla sambil menendang pintu lemari.


Dengan nafas yang memburu,Sheilla kembali ke dalam kamar nya dan mengambil hp nya. Ia menelpon papa nya untuk mencari keberadaan Bagas di negaranya.


Setelah selesai menelpon papanya,Sheilla melempar hp nya di atas tempat tidur.


"Loe udah ngibarin bendera perang sama gue yah brengsek!!! Liat aja,gue pastiin hidup loe dan keluarga loe menderita!!" Geram Sheilla sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Aauuuw.." pekik Sheilla saat merasakan perutnya yang tiba-tiba keram.


Ia memegangi perutnya dan berjalan perlahan mendekati sofa untuk mendudukkan dirinya. Ia mengusap-usap perutnya untuk mengurangi rasa keram itu.


"Sialan loe Bagas,loe pasti sengaja buat gue hamil terus loe menghilang supaya gue bisa mohon-mohon sama loe terus gue ngakuin loe itu suami gue. Cuiih..gak akan!! Anak ini akan jadi anak gue dan Erick!!" Gumam Sheilla. Ia masih sangat percaya diri kalau Erick mau mengakui anak yang dikandung Sheilla adalah anaknya.


⭐⭐⭐⭐⭐


Pagi ini Bagas berencana ingin menemui sang mama dirumahnya,namun ia masih memperhitungkan waktu yang tepat untuk pergi kesana,waktu dimana papanya sudah berangkat bekerja. Karena setelah Bagas menikah dengan Sheilla dan tinggal di Paris,papanya kembali turun tangan mengecek lapangan golf miliknya.


Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh,Bagas merasa ini waktu yang tepat pergi ke rumah orangtuanya,karena ia yakin papanya sudah pergi bekerja. Dengan menaiki taksi online,Bagas pun pergi ke rumah orangtuanya untuk menemui sang mama.


Setelah kurang lebih satu jam perjalanan,akhirnya taksi yang Bagas naiki tiba di depan rumah orangtuanya. Setelah membayar tarif taksi,Bagas pun turun dan berjalan menuju rumah orangtuanya.


Bagas mengernyitkan keningnya saat ia sudah berada di dalam ruang tamu dan melihat rumah yang nampak sepi.


Bagas pun berjalan menuju kamar sang mama,karena Bagas pikir karena mamanya sedang sakit pasti mamanya sedang berada di kamar.


Ceklek. Bagas membuka pintu kamar orangtuanya,tapi ia tak menemukan sang mama di dalamnya. Ia pun mengecek mamanya didalam kamar mandi,tapi sang mama juga tak berada disana.


PRAAANG...


Tiba-tiba saja ia mendengar suara benda pecah belah terjatuh dari arah dapur.


Bagas pun berlari ke arah dapur.


"Mama...!!!" Teriak Bagas saat melihat sang mama sedang ngesot untuk membersihkan pecahan gelas.


Mata mama Bagas langsung menoleh ke arah suara.


"Bagas.." lirih mama Bagas.


Bagas pun berlari menghampiri sang mama,dan mencoba membantu sang mama berdiri dan mendudukkannya di kursi.


"Mama ngapain didapur? Kalau mau apa-apa kan bisa panggil mbak mah.." protes Bagas pada sang mama.

__ADS_1


Mendengar kata-kata Bagas,mama Bagas malah menangis sambil menangkup wajah anaknya yang sangat ia rindukan dengan kedua tangannya.


"Kamu beneran Bagas kan? Mama gak mimpi kan?!" Kata mama Bagas sambil menangis.


"Iya mah,ini Bagas. Mama gak mimpi." Jawab Bagas.


Mama Bagas pun langsung memeluk Bagas dengan sangat erat.


"Mama kangen sama kamu Gas,mama pikir mama gak akan pernah bisa lihat kamu lagi." Kata mama Bagas sambil terisak.


Ada rasa perih di hati Bagas saat mendengar kata-kata mamanya. Ia tak mampu berkata apa-apa lagi,hanya penyesalan yang kini menggerogoti hatinya.


Disaat suasana antara ibu dan anak itu sedang haru biru,tiba-tiba saja ada suara orang dari halaman belakang sedang tertawa-tertawa.


Bagas pun melepaskan pelukannya dari sang mama untuk melihat siapa yang sedang tertawa di halaman belakang.


"Gas." Mama Bagas menggeleng sambil menahan tangan anaknya,ia tau kalau anaknya ingin menghampiri orang-orang yang ada di halaman belakang itu.


"Kenapa mah? Apa yang sedang mama sembunyiin dari Bagas?" Tanya Bagas heran karena sang mama menahannya.


Bukan menjawab mama Bagas malah kembali meneteskan air matanya.


Merasa ada yang tak beres,Bagas pun beranjak dari dapur menuju halaman belakang.


"Bagas...Bagas..berhenti,jangan nak.!!" Teriak mama Bagas.


Namun Bagas tak menghiraukan teriakan sang mama,ia tetap melangkahkan kakinya menuju halaman belakang.


"Siapa kalian?" Tanya Bagas dengan nada yang meninggi pada dua wanita yang sedang tertawa di halaman belakang.


"Loh..mas ini siapa?!" Salah satu wanita itu malah balik bertanya pada Bagas tanpa rasa bersalah,seolah-olah mereka lah tuan rumah di rumah itu.


"Saya anak pemilik rumah ini. Sekarang saya tanya kalian siapa?!" Teriak Bagas karena dua wanita ini sangat sok sekali.


Dua wanita itu pun terkejut,mereka langsung berdiri dari duduknya dan saling merapat.


"Ma..maaf mas. Kami gak tau." Kata dua wanita itu menyesal bercampur takut karena teriakan Bagas dan wajah Bagas yang sudah sangat memerah karena marah.


"Kalian belum jawab pertanyaan saya,kalian siapa!!! Kenapa ada di rumah orangtua saya?!" Tanya Bagas lagi sambil berteriak.


"Ka..kami asisten rumah tangga disini mas." Jawab salah satu wanita itu.


"Asisten rumah tangga? Memangnya kemana asisten rumah tangga yang lama?!"


Mereka menggedikkan bahu bersamaan.

__ADS_1


"Kami gak tau mas,nyonya Silvia yang memperkerjakan kami disini." Jawab salah satu wanita itu.


Bersambung...


__ADS_2