
Dokter Lucky pun mendekat ke arah Risa yang sedang duduk di kursi depan kamarnya. Sepertinya ia lelah latihan jalan dengan dua perawat itu.
"Selamat pagi bu Clara." Sapa dokter Lucky.
"Pagi juga dok."
"Gimana latihannya,udah mengalami kemajuan?!"
"Lumayan lah dok,udah bisa melangkah tanpa di pengangin. Yah walaupun sebentar-bentar istirahat."
"Yah namanya juga usaha bu. Yang penting semangat terus yah,biar bisa cepet pulang." Dokter Lucky memberikan semangat pada Risa.
Deg.
"Hah...pulang??!! Astaga,bahkan sekarang aku tidak tahu kemana diri ku harus pulang.!!" Gumam Risa di dalam hati.
Karena tidak mungkin dirinya pulang kembali kerumah yang Bagas berikan padanya,karena Risa yakin kalau sekarang Alex sudah tau dimana tempat tinggal Risa.
"Akh..iya terimakasih dok." Jawab Risa agak sedikit terbata-bata.
Dan itu semakin membuat dokter Lucky semakin yakin bahwa Risa dalam situasi yang tidak baik.
"Ya sudah,saya permisi dulu. Silahkan di lanjut latihannya. Kalau sudah lelah istirahat saja,jangan terlalu di forsir tenaganya. Nanti yang ada jahitannya gak kering-kering."
"Iya dok,terimakasih."
Dokter Lucky pun pamit undur diri.
Setelah kepergian dokter Lucky,Risa pun kembali melanjutkan latihannya. Tekadnya untuk bisa berjalan sempurna seperti sedia kala semakin menggebu,agar ia bisa segera keluar dari rumah sakit ini.
Tak terasa hari sudah sore,tanpa di bantu oleh perawat,Risa masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Perlahan tapi pasti,akhirnya Risa berhasil membersihkan tubuhnya sendiri. Risa pun keluar dari dalam kamar mandi.
"Astaga..." Risa kaget saat melihat dokter Lucky sudah berada dalam kamarnya. Untung saja,Risa sudah berpakaian saat keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
"Kenapa bu Clara? Kok ngelihat saya kayak ngelihat hantu?!"
"Habis dokter tiba-tiba ada di kamar saya,yah saya kaget lah dok."
"Ini kan jam saya kontrol bu."
"Oooo" Risa pun berjalan ke arah ranjangnya.
"Mau saya bantu bu?" Tawar dokter Lucky saat melihat Risa jalan tertatih.
"Gak usah dok,saya udah kuat kok jalan sendiri. Cuma memang harus pelan-pelan dulu begini."
Dokter Lucky pun hanya memperhatikan Risa berjalan ke arahnya. Setelah Risa berbaring di atas ranjang pasien,dokter Lucky mulai memeriksa keadaan Risa.
"Jadi kapan saya bisa pulang dok?!"
"Lusa baru bisa pulang bu."
Risa mengerucutkan bibirnya. Padahal ia berharap malam ini atau besok pagi ia pulang dari rumah sakit.
Dokter Lucky sejenak berpikir,mungkin ini kesempatan bagus untuk mengetahui masalah yang terjadi pada Risa.
"Saya bisa bantu kamu keluar dari rumah sakit malam ini juga,tapi ada syaratnya."
Mata Risa membelalak.
"Apa dok?!"
"Ceritakan pada saya,apa yang sebenarnya terjadi pada kamu."
"Ma..maksud dok..ter?"
"Saya yakin,tidak mungkin kamu tertusuk karena ulah jambret. Saya hanya mau tau kejadian yang sebenarnya."
__ADS_1
Risa menggelengkan kepala,sepertinya di enggan menceritakan masalahnya pada dokter Lucky,orang yang baru ia kenal beberapa hari.
"Maaf dok,saya gak bisa cerita."
Dokter Lucky memicingkan matanya,ia semakin yakin kalau ada yang tidak beres. Ia kembali berpikir bagaimana caranya agar Risa mau bercerita.
"Baik lah kalau kamu gak mau cerita,saya gak akan maksa. Tapi saya gak bisa bantu kamu keluar dari rumah sakit ini dengan mudah. Asal kamu tau,kalau sepupu kamu yang bernama Niana itu baru membayar biaya operasi dan rawat inap kamu hanya lima puluh persen. Bagaimana caranya kamu bisa keluar dari rumah sakit ini,kalau sepupu kamu itu tidak pernah datang bahkan tidak pernah bisa di hubungi." Kata dokter Lucky berbohong,padahal kenyataannya biaya rumah sakit sudah di lunasi Nia,karena Nia selalu mengutus orangnya untuk mengecek keadaan Risa tiga hari ini. Karena Irlan melarang Nia untuk turun tangan langsung mengurus Risa. Irlan takut,kalau nantinya Risa akan berbuat jahat pada Nia.
Mata Risa membelalak tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. Ia pikir,Alex lah yang membayar biaya rumah sakit Risa,ternyata pikiran Risa salah. Nia lah yang membayar,bahkan Nia sampai mengaku-ngaku sebagai sepupu Risa.
"Kenapa kok diem?!" Tanya dokter Lucky yang berhasil membuyarkan lamunan Risa.
"Apa dokter bisa pegang kata-kata dokter,kalau saya cerita dokter akan membantu saya untuk keluar dari rumah sakit ini?!" Tanya Risa menyelidik.
Dokter Lucky mengangguk pasti. Ia pun bersorak dalam hati,akhirnya usahanya mengorek informasi tentang Risa berhasil.
Risa pun mulai menceritakan tentang hubungannya dengan Alex dan menceritakan tentang kejadian di puncak. Air mata kembali mengalir di pipi Risa saat Risa mulai bercerita.
Dokter Lucky mengelus dadanya,ia merasa sangat iba mendengar cerita Risa. Ia pun mengambil tissue dan menyeka air mata Risa. Dan membawa Risa kepelukannya.
"Sudah...sudah..aku yakin kamu wanita kuat dan bisa melewati penderitaan ini. Kalau kamu mau,aku juga bisa bantu kamu untuk bersembunyi dari laki-laki yang bernama Alex itu." Tawar dokter Lucky lagi.
"Gak usah dok,biar saya selesaikan masalah saya sendiri. Dokter cukup membantu saya untuk keluar dari rumah sakit ini." Tolak Risa halus.
Mendapat penolakan dari Risa,ada sedikit rasa kecewa di dada dokter Lucky,karena niatnya ingin membantu dan lebih mengenal Risa lebih dalam terpatahkan karena penolakan Risa. Dokter Lucky pun mengjela nafasnya.
"Baik lah kalau kamu menolak,tapi kalau suatu saat kamu butuh bantuan saya,hubungi saja saya,saya siap membantu." Tawar dokter Lucky sekali lagi.
Bukan tanpa alasan Risa menolak bantuan dari dokter Lucky. Ia sudah berpengalaman,saat dirinya mengenal Bagas dulu. Bagas yang baru ia kenal langsung memberikan tumpangan apartemen padanya,dan kebutuhan Risa pun selalu Bagas tanggung. Membuat Risa berpikir dan yakin kalau Bagas adalah pria masa depannya,makanya ia rela melepas mahkotanya untuk Bagas. Makanya sekarang,ia tidak mau lagi percaya dengan kebaikan laki-laki yang baru saja ia kenal. Takut-takut,ujung-ujung si laki-laki kembali memanfaatkan dirinya. Yah...walaupun Risa sudah tak memiliki mahkota lagi.
Tak ingin membuat kecewa dokter Lucky,Risa pun menganggukkan kepalanya saja,yang penting urusan dia keluar dari rumah sakit malam ini selesai.
"Ya udah,kamu tunggu disini dan siap-siap. Biar saya urus administrasinya dulu." Dokter Lucky pun keluar dari kamar rawat Risa.
__ADS_1
Bersambung...