
"Gas..jangan!!"
"Kenapa?" Tanya Bagas dengan nafas yang memburu. Sepertinya ia juga belum sadar kalau Sheilla sedang berada di masa nifas.
"Aku baru ngelahirin Gas."
Bagas mengusap wajahnya kasar. Ia baru sadar sekarang. Dengan berat hati,Bagas menjatuhkan tubuhnya di sebelah Sheilla.
"Sori Sheill,aku khilaf. Aku bener-bener lupa."
Melihat wajah kecewa Bagas,Sheilla pun ikut merasakan kecewa. Kecewa karena untuk sementara waktu tak bisa memberikan kesejahteraan ranjang untuk suaminya. Tapi Sheilla tak mau putus asa,ia ingin menggunakan cara lain agar hasrat sang suami bisa tersalurkan.
Sheilla pun memeluk Bagas yang sedang telungkup di sebelahnya.
"Gas.." panggil Sheilla.
"Hemh.." jawab Bagas sekedarnya,karena sekarang ia sedang berusaha mengontrol hasratnya agar ia tak perlu bermain solo.
"Berat banget yah?"
Bagas yang mengerti pertanyaan Sheilla menjawab dengan anggukan kepala.
"Sini." Sheilla menarik tubuh Bagas agar menelantangkan tubuhnya.
"Kamu mau apa?"
"Aku mau bantu kamu kasih nafas buatan ke dia." Kata Sheilla sambil mengelus benda kramat Bagas.
Mata Bagas membelalak.
"Kamu serius?"
Sheilla menganggukkan kepalanya.
"Ini kan udah tugas aku sebagai istri kamu. Aku kan tadi bilang mau jadi istri dan ibu yang baik." Jawab Sheilla sambil mengerlingkan matanya genit.
Bagas tersenyum melihat kegenitan Sheilla.
"Terserah kamu lah Sheill,aku pasrah." Kata Bagas sambil menelantangkan kedua tangannya.
Tak menunggu lama,Sheilla pun membuka semua kain yang menutup tubuh suaminya dan mulai mencumbu sang suami sebelum ia memberikan nafas buatan untuk benda kramat Bagas.
"Arghhh...." Bagas mengerang panjang saat benda kramatnya menyemburkan cairan putih dimulut Sheilla.
Cepat-cepat Sheilla mendorong tubuh Bagas dan berlari ke dalam kamar mandi. Sheilla memuntahkan semua cairan putih yang tersembur di dalam mulutnya.
Sedangkan Bagas,langsung memakai kembali boxernya dan keluar dari kamarnya menuju kamar Sheilla. Karena setelah Sheilla masuk ke dalam kamar mandi,Bagas mendengar putri kecil mereka menangis.
Begitu Sheilla keluar dari kamar mandi,Sheilla tak mendapati Bagas berada dalam kamar itu,matanya langsung melihat ke arah monitor bayi dan ternyata Bagas sedang menggendong bayi cantik yang belum di beri nama itu.
"Makasih yah Gas udah kasih aku kesempatan ke dua. Aku janji aku pasti berubah untuk kalian berdua." Lirih Sheilla sambil menatap layar monitor.
Sheilla pun keluar dari dalam kamar itu menuju kamarnya.
Ceklek.
"Dia bangun?" Tanya Sheilla pada Bagas.
__ADS_1
Bagas mengangguk.
"Sini biar aku tidurin,kamu istirahat aja." Kata Sheilla sambil berusaha mengambil bayi mereka dari tangan Bagas.
"Kamu aja yang istirahat,biar aku aja yang jaga anak kita." Tolak Bagas. Sepertinya ia tak mau melewatkan kesempatan dalam hal mengurus anaknya.
"Kamu udah pompa asi nya kan buat stock?" Tanya Bagas.
"Udah. Ada di kulkas itu." Tunjuk Sheilla ke arah lemari pendingin yang sengaja diletakkan di kamar untuk stock asi.
"Emangnya kamu gak capek? Kamu kan udah capek kerja dari pagi sampe sore,masa malamnya kamu mau jagain anak kita."
"Gak pa-pa Sheill,kesempatan jagain anak kita selagi masih bayi gini kan gak akan datang dua kali. Aku gak mau nyesel ketika anak kita udah besar nanti,karena aku gak pernah jagain anak kita."
"Ya udah terserah kamu,tapi kalau kamu udah ngantuk jangan di paksain."
Bagas menganggukkan kepalanya.
Waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari,bayi cantik itu pun baru saja tertidur kembali.
Cup. Bagas mengecup kening bayi cantiknya.
"Makasih sudah hadir dalam kehidupan papa dan menyadarkan papa. Papa juga minta maaf karena sengaja menghadirkan mu hanya untuk balas dendam. Makanya mulai sekarang papa akan menebus semua dosa-dosa papa sama kamu." Kata Bagas sambil memandang bayi mungil yang sudah ia letakkan di dalam box bayi. Rasa takjub tak henti-henti keluar dari mulut Bagas ketika ia memandang lekat wajah anaknya,karena wajah bayi cantik itu sangat mirip dengan Bagas hanya saja bayi itu versi perempuan,jadi tak perlu lagi tes dna hanya untuk meyakinkan kalau anak itu adalah anak Bagas.
Setelah puas memandangi bayi cantiknya,Bagas pun berjalan mendekati Sheilla yang sudah tertidur lelap.
Cup. Ia mengecup kening Sheilla sekilas sebagai ganti ucapan selamat tidur.
Merasakan kecupan Bagas di keningnya,Sheilla pun terbangun dan mulai mengerjapkan matanya.
"Em.." jawab Bagas sambil menganggukkan kepalanya.
"Ya udah kamu tidur sana,udah jam satu,besok kamu kan kerja." Kata Sheilla sambil mendudukkan tubuhnya.
Bagas menganggukkan kepalanya. Ia pun berjalan memutari tempat tidur dan naik ke atas tempat tidur.
"Kamu mau ngapain?" Tanya Sheilla saat Bagas membaringkan tubuhnya di sebelah Sheilla.
"Ya mau tidur lah Sheill."
"Iya tau. Tapi kok disini?"
"Kamu lupa kita ini suami-istri? Dan kita baru aja baikkan kan? Jadi wajar dong kalau kita seranjang."
"Astaga!!" Kata Sheilla sambil menepuk jidatnya. Karena selama menikah mereka tidak pernah tidur bersama kecuali saat malam pengantin mereka,Sheilla sampai lupa kalau memang sudah seharusnya suami-istri itu harus tidur seranjang.
"Sori Gas,aku lupa." Kata Sheilla dengan raut wajah menyesal.
"Udah gak usah dibahas,sini kamu tidur juga." Bagas langsung menarik tangan Sheilla hingga tubuh Sheilla terjatuh di pelukan Bagas.
"Sheill.."
"Hemh.."
"Kamu udah punya nama untuk anak kita?"
Sheilla menggeleng.
__ADS_1
"Kamu?" Sheilla bertanya balik.
"Sudah. Tapi aku takut kalau kamu gak suka dengan nama yang aku pikirkan."
"Memangnya apa namanya?"
"Adhisti Pradipta Anderson."
"Cantik Gas,aku suka."
"Bener?"
Sheilla menganggukkan kepalanya.
"Jadi sah nih nama baby girl Adhisti Pradipta Anderson?"
"Iya. Tapi kenapa harus nama Anderson yang dibelakangnya? Gimana kalau Adhisti Anderson Pradipta?"
"Bener juga,itukan anak aku. Jadi harusnya nama keluarga aku yang ada di paling belakang. Jadi deal yah kalau nama anak kita Adhisti Anderson Pradipta?"
"Iya Gas." Jawab Sheilla sambil tersenyum melihat tingkah konyol Bagas yang hampir lupa kalau nama belakang sang anak harus nama keluarga ayahnya bukan nama keluarga ibunya.
"Dan kamu mulai sekarang jangan panggil aku Gas..Gas..Gas lagi. Panggil aku papa Dhisti. Dan aku akan manggil kamu mama Dhisti."
"Iya papa Dhisti." Jawab Sheilla makin gemas sambil mencubit pipi Bagas.
"Pah.."
"Iya mah.."
Sheilla tersenyum saat Bagas membalas panggilannya untuk Bagas.
"Sebenarnya apa sih alasan kamu ingin mempertahankan rumah tangga kita?" Tanya Sheilla. Ia berharap alasan Bagas mempertahankan rumah tangganya dengan Sheilla karena Bagas sudah mencintai Sheilla dan bukan hanya karena anak semata.
"Kan tadi aku udah bilang Sheill,sejak aku lihat kamu mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan Dhisti,disitu aku ngerasa gak ada lagi alasan buat aku melanjutkan dendam aku. Lagi pula,aku juga bukan orang suci Sheill. Kalau kamu merasa diri kamu bejat,aku lebih dari pada kamu."
"Maksudnya?" Tanya Sheilla. Sheilla memang tidak tau masa lalu Bagas dan Risa,itu semua karena dulu Sheilla tidak berminat untuk mengetahui tentang Bagas.
Bagas menarik nafasnya dalam-dalam sebelum bercerita pada Sheilla tentang hubungannya dengan Risa dulu.
"Dulu,sewaktu kita masih bertunangan. Aku juga berselingkuh dari kamu,aku menjalin hubungan dengan salah satu caddy di tempat ku. Awalnya aku memacari dia hanya untuk mengisi waktu kosong aku,tapi lama kelamaan aku malah jatuh hati sama dia. Sampai suatu hari,aku butuh pelepasan karena aku juga laki-laki normal yang pernah merasakan bagaimana nikmatnya berhubungan badan,jadi aku meminta perempuan itu untuk berhubungan badan dengan ku. Aku pikir dia sama dengan pacar-pacar ku yang dulu yang sudah tidak virgin. Tapi ternyata perempuan itu masih virgin. Ada rasa bersalah saat aku tau dia masih virgin,rasa bersalah karena tidak mungkin aku berakhir di pelukannya,karena saat itu kita sudah bertunangan bahkan aku sudah berjanji sama papa kamu untuk menjadi menantunya."
"Terus bagaimana wanita itu sekarang?"
"Dia udah bahagia Sheill. Justru karena dia lah makanya aku memutuskan untuk rujuk sama kamu. Kebesaran dan ketulusan hatinya memaafkan aku,padahal aku udah mengambil mahkotanya dan tidak bertanggung jawab, dari dia aku belajar kalau kita ikhlas dengan semua masalah dan cobaan yang menimpa kita,maka hasil akhir yang datang pada kita adalah kebahagiaan. Aku harap,setelah aku ikhlas dengan semua sikap mu dulu sama ku,aku akan dapatkan kebahagiaan. Sekarang aku cuma mau bahagia Sheill,sama kamu dan anak kita."
Sheilla nampak kecewa dengan pengakuan Bagas,bukan kecewa mendengar Bagas tidur dengan wanita lain. Tapi kecewa karena dari pengakuan yang Bagas katakan,menyiratkan kalau Bagas masih mencinta wanita itu. Dan itu berarti belum ada nama Sheilla di hati Bagas.
"Apa kamu masih mencintai wanita itu?"
Bagas menggedikkan bahunya.
"Mungkin. Tapi tenang aja,mungkin sekarang aku masih punya perasaan padanya. Tapi aku harap seiiring berjalannya waktu,nama dia akan pudar dari hati aku dan akan berganti nama menjadi nama mu dan nama anak-anak kita. Dan aku harap,kamu juga begitu. Aku yakin sekarang di hati mu belum ada nama ku,tapi aku harap seiiring berjalannya waktu,kamu bisa menghilangkan nama mantan kamu itu dengan nama aku dan nama anak-anak kita."
Sheilla mengangguk. Dia tidak boleh egois meminta Bagas mencintainya sedangkan di hatinya juga masih ada nama laki-laki lain. Akan terasa tidak adil kalau dirinya meminta kesempurnaan dari Bagas tapi dia sendiri adalah seorang pendosa.
Bersambung...
__ADS_1