
"Makasih. Oh iya,kamu udah makan?" Tanya dokter Lucky memecah kecanggungan di antara mereka berdua.
Risa menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu kita check out aja sekarang,kita cari makan siang dekat bandara. Takutnya nanti jalanan macet." Ajak dokter Lucky.
Risa menganggukkan kepalanya mengiyakan ajakan dokter Lucky. Dia pun mulai bersiap-siap. Setelah semua siap,mereka berdua pun keluar dari dalam kamar. Dengan sigap,dokter Lucky membantu Risa membawakan barang-barang Risa.
🍀🍀🍀🍀🍀
"Apa kamu benar-benar ingin pindah ke kota M?" Tanya dokter Lucky memecah keheningan. Kini mereka berdua sudah berada di dalam mobil menuju bandara.
"Iya mas,aku mau ngurus bunda sampe bunda benar-benar sembuh." Jawab Risa
"Maaf,aku gak bisa ikut dengan mu ke kota M,padahal aku ingin sekali mengantar mu sampai kota M. Tapi aku usahakan minggu depan kalau aku libur,aku akan mengunjungi mu disana."
"Gak usah di paksain mas,kan kita masih bisa video call."
"Beda lah Ra. Masa aku mau pedekate sama kamu cuma modal video call sama chat doang,itu berarti aku gak serius dengan lamaran aku tadi."
"Terserah mas ajalah kalau gitu." Jawab Risa mengalah,ia tak mau berdebat dengan dokter Lucky.
Keheningan pun kembali terjadi di dalam mobil sepanjang jalan menuju bandara. Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih satu jam,akhirnya mobil dokter Lucky pun tiba di bandara. Mereka pun masuk ke salah satu restoran cepat saji yang ada di area bandara untuk mengisi perut mereka.
Waktu keberangkatan Risa pun telah tiba,Risa pun berpamitan kepada dokter Lucky. Setelah Risa tak kelihatan lagi,baru lah dokter Lucky kembali pulang.
Dokter Lucky pun melangkahkan kakinya menuju parkiran. Setelah di dalam mobil,dokter Lucky mengambil hp nya dan melakukan panggilan ke nomor seseorang yang ada di Singapore. Setelah memberitahukan hal yang penting pada orang itu,dokter Lucky kembali menaruh hp nya kemudian menyalakan mobilnya dan melajukan mobilnya untuk keluar dari area bandara.
__ADS_1
⭐⭐⭐⭐⭐
Setelah satu jam di udara,akhirnya Risa sampai di bandara di kota M. Dengan menggunakan taksi bandara,Risa pulang ke rumah sekaligus toko kue milik bunda nya yang di kelola mbak Nunik dan mbak Iin.
Sepanjang perjalanan,Risa terus menatap jalanan. Kota yang sangat ia rindukan,seandainya Risa bisa memutar waktu,dia tidak ingin meninggalkan kota itu. Tak terasa air mata mengalir di pipinya mengiringi penyesalan yang mendalam.
Akhirnya mobil yang ditumpangi Risa sampai juga di depan ruko milik sang bunda,ia memandangi lekat ruko itu. Sepertinya toko kue milik sang bunda berkembang pesat di bawah pengelolaan mbak Nunik dan mbak Iin.
"Mbak...udah nyampe." Kata sang supir taksi membuyarkan lamunan Risa.
"Akh...iya pak." Jawab Risa ketika sadar dari lamunannya.
Risa pun membayar ongkos taksi dan turun dari dalam mobil,supir taksi itu pun membantu Risa mengeluarkan koper Risa dari dalam bagasi.
Mbak Nunik yang sedari tadi memperhatikan keberadaan taksi yang berhenti tepat di depan toko kue,terkejut melihat sosok yang keluar dari dalam taksi.
"Iin...iin.. non Risa pulang." Teriak mbak Nunik memanggil mbak Iin yang ada di lantai dua. Untung saja toko kue bunda Shania sudah tutup,kalau belum pasti teriakan mbak Nunik membuat Risa juga menjadi pusat perhatian pengunjung toko.
"Non Risa..." teriak mbak Nunik sambil setengah berlari ke arah Risa.
"Mbak Nunik..." Risa langsung memeluk mbak Nunik. Ia menangis tersedu-sedu di pelukan mbak Nunik.
"Non Risa.." teriak mbak Iin lagi.
Risa pun melepaskan pelukannya dari mbak Nunik dan beralih memeluk mbak Iin.
"Mbak Iin...Risa kangen.." kata Risa sambil kembali menangis tersedu-sedu.
__ADS_1
"Non Risa kemana aja sih,kok gak pernah ada kabarnya. Kita mau hubungin non Risa juga gak bisa." Tanya mbak Nunik sambil mengelus punggung Risa.
Semenjak Bagas menyuruh Risa mengganti hp dan nomor,Risa memang tidak pernah mengabari mbak Nunik atau mbak Iin nomor baru Risa yang di belikan Bagas.
"Maaf mbak,hp Risa hilang,Risa juga gak inget nomor mbak Nunik sama mbak Iin." Bohong Risa. Padahal,ia sudah menyimpan nomor mbak Nunik dan mbak Iin di hp barunya yang di belikan Bagas.
Mbak Iin melepaskan pelukannya dari Risa.
"Ngobrolnya di dalam aja yuk. Gak enak di lihatin orang lewat." Ajak mbak Iin. Dan di angguki oleh Risa dan mbak Nunik.
Mereka pun masuk ke dalam ruko,mbak Nunik dan mbak Iin membantu membawakan koper Risa. Mereka bertiga langsung naik ke lantai dua.
"Non Risa baik-baik aja kan selama di kota besar,kami berdua sangat khawatir non." Tanya mbak Nunik. Kini mereka sudah duduk di ruang tamu sekaligus ruang televisi.
"Maaf yah mbak udah buat mbak Nunik dan mbak Iin khawatir. Risa baik-baik aja kok,buktinya sekarang Risa disini." Jawab Risa sambil tersenyum menutupi semua masalah dan kesedihannya.
"Tapi kok non Risa kurusan sih?? Pasti jarang makan yah non?!" Tanya mbak Iin yang baru datang dari arah dapur sambil membawakan teh hangat untuk Risa.
"Masa sih mbak? Mungkin karena Risa capek kerja,makanya Risa kurusan. Kalau soal makan sih,makan mulu mbak Risa disana." Jawab Risa meyakinkan.
"Oh iya mbak,gimana kabar bunda? Apa sudah ada perkembangan?!" Tanya Risa.
Mbak Iin dan mbak Nunik saling pandang.
"Kenapa mbak? Apa ada sesuatu yang kalian sembunyikan dari Risa?" Tanya Risa penasaran,karena melihat ekspresi mbak Iin dan mbak Nunik.
Mbak Iin dan mbak Nunik tertunduk,rasanya berat sekali memberikan kabar tentang bunda Shania pada Risa. Melihat ekspresi mbak Nunik dan mbak Iin,Risa semakin yakin bahwa ada yang tidak beres tentang sang bunda.
__ADS_1
"Mbak..jawab dong..!!" Kata Risa dengan nada sedikit meninggi.
Bersambung...