
Setelah mengunci pintu,Risa kembali berjalan mendekati Alex di kursi kebesarannya dan duduk di pangkuan Alex.
Tak menunggu lama,Alex langsung mempertemukan bibirnya dengan bibir Risa. Ciuman panas pun terjadi.
Tangan-tangan terampil keduanya pun sukses membuka kain penghalang pasangannya,dan sekarang hanya kain yang menutupi bagian bawah mereka saja lah yang menempel di tubuh mereka.
Karena merasa ruang gerak yang terbatas jika harus melakukan ritual di kursi kebesaran Alex,Alex pun menggendong tubuh Risa seperti anak koala menuju sofa yang ada di depan meja kerjanya.
Setelah mendudukkan Risa di sofa itu,Alex langsung membuka penutup terakhir di tubuh Risa dan kembali memberikan sengatan-sengatan kenikmatan di bagian sensitif Risa.
"Akh..darl.." desah Risa saat merasakan sengatan kenikmatan yang di berikan Alex. Entah kenapa akhir-akhir ini,tubuh Risa ingin terus di sentuh oleh Alex.
Risa menjauhkan wajah Alex yang sedang bermain dengan duo squishy miliknya. Cepat-cepat Risa mengubah posisi mereka. Kini Alex lah yang duduk di sofa dan Risa berlutut di depan Alex dan mulai membuka penutup yang menutupi si benda keramat.
Begitu benda kramat menyembul keluar,Risa pun berdiri dan naik di atas pangkuan Alex. Tangan Risa pun mulai mengarahkan benda kramat Alex menuju lembah lembab miliknya.
"Ah..darl..ah..Ra.." desah keduanya saat benda kramat Alex terbenam sempurna di dalam lembah.
Risa pun mulai menggerakkan pinggulnya dan beraksi di atas pangkuan suaminya.
Suara ******* yang keluar dari mulut keduanya dan decitan sofa menambah kesyahduan ritual mereka di ruang kerja Alex. Dan ini pertama kalinya mereka melakukan ritual di ruang kerja,bahkan saat di kantor pun,mereka tidak pernah melakukan ritual. Jika Alex tiba-tiba ingin melakukan ritual,Alex akan membawa Risa ke hotel.
"Stop Ra." Kata Alex sambil menahan pinggul Risa saat Risa mempercepat ritmenya.
"Aku udah mau sampe darl.!" Protes Risa tak senang.
"Gantian biar aku aja yang mimpin." Alex langsung merebahkan tubuh Risa di karpet. Sengaja Alex melakukan hal itu,karena jika feelingnya benar kalau Risa sedang hamil,ia tidak mau sampai Risa kelelahan dan menyakiti calon buah hatinya.
Kini Alex memimpin permainan,dengan lembut Alex mulai menggerakkan pinggulnya. Bahkan sampai Alex hampir tiba di puncak kenikmatan pun Alex tetap mengontrol ritmenya.
Erangan panjang pun keluar dari mulut keduanya. Menandakan kalau mereka sudah sama-sama sampai di puncak gelombang.
Cup cup cup cup. Seperti biasa,Alex selalu mengecup kening,pipi dan bibir Risa sekilas setelah mereka selesai melakukan ritual.
Alex langsung merebahkan dirinya di sebelah sang istri yang terlihat masih ngos-ngosan.
"Ra.." panggil Alex. Nafasnya pun tak kalah ngos-ngosan dari sang istri.
"Iya darl.."
"Em...anu..itu.." Alex nampak ragu-ragu untuk mengatakan feelingnya pada Risa,takut Risa berpikir kalau Alex sekarang menuntut ingin memiliki anak.
"Apa sih kamu,na nu na nu." Kata Risa sambil memukul dada Alex pelan.
"Ada yang mau aku tanyain,tapi aku takut kamu sakit hati Ra."
Risa mengernyitkan keningnya.
__ADS_1
"Apa?"
"Jangan marah yah."
Risa mengangguk.
"Kamu udah dateng bulan?"
Risa nampak berpikir kemudian ia menggelengkan kepalanya.
"Baru telat tiga minggu sih darl,kenapa?"
"Ah...itu. Apa gak sebaiknya kita periksa dulu."
Risa menatap lekat-lekat wajah Alex.
"Apa kamu pikir aku sekarang lagi hamil darl?" Tanya Risa sambil mengelus pipi suaminya itu.
Alex pun menganggukkan kepalanya.
"Jangan sekarang lah darl,aku takut hasil nya gak sesuai harapan kita." Nampak raut wajah putus asa dari wajah Risa.
"Tapi Ra,gak ada salahnya kan dicoba. Biar kita bisa kasih nutrisi yang baik kalau memang ada dia udah ada di dalam sini." Kata Alex sambil mengusap perut Risa yang masih rata.
"Tapi darl..."
Ia mengambil pakaiannya dan pakaian istrinya yang masih berserakan dan menyerahkan nya pada Risa.
"Ayo." Ajak Alex saat Risa telah selesai memakai pakaiannya.
Risa pun memegang tangan Alex untuk berdiri. Mereka pun keluar dari ruang kerja Alex menuju kamar mereka.
Setelah sampai di dalam kamar,Alex langsung mengambil tespack yang ada di laci nakas. Tespack yang selalu mereka persiapkan untuk jaga-jaga.
"Ini Ra,ayo cepetan di tes." Alex nampak begitu bersemangat.
Melihat sang suami yang sangat bersemangat,Risa jadi tidak tega mematahkan harapan Alex dengan menolak permintaan suaminya.
Risa pun mengambil alat tes kehamilan itu dari tangan Alex kemudian ia masuk ke dalam kamar mandi. Ia pun menampung air seni nya yang susah payah ia pancing. Setelah air seni sudah tertampung,Risa mengeluarkan tespack itu dari kemasannya dan meletakkannya di dalam wadah yang berisi air seni nya.
"Garis dua..garis dua..please garis dua.!" Risa memejamkan matanya sambil berdoa agar hasilnya garis dua.
Setelah lima menit,perlahan Risa membuka matanya dan melihat hasil yang ditunjukkan tespack itu.
Risa menganga melihat hasilnya,air mata pun lolos begitu saja dari mata Risa. Karena hasil yang ditunjukkan menyatakan kalau kini Risa tengah berbadan dua.
Sama seperti pejuang dua garis merah yang lainnya,rasa haru,bahagia,tidak percaya semua campur aduk ketika perjuangan mereka membuahkan hasil.
__ADS_1
Tok tok tok tok. Dari luar,Alex mengetuk pintu karena Risa lama sekali di dalam kamar mandi.
"Ra..kamu gak tidur kan didalem? Buka pintunya Ra. Kok di kunci-kunci sih?!" Teriak Alex.
Mendengar suara Alex,Risa pun tersadar dari rasa keterkejutannya.
Ia pun berjalan ke arah pintu dan membuka pintu kamar mandi.
"Kamu nga...."
"Darl.." Risa langsung memeluk Alex sambil menangis setelah pintu terbuka.
Alex yang hendak melayangkan protes sekali lagi,jadi mengurungkan niatnya karena Risa langsung memeluknya erat.
"Kenapa Ra? Masih satu garis yah?" Tanya Alex menerka-nerka.
Risa menganggukkan kepalanya dalam pelukan Alex.
Alex menjauhkan wajah Risa dari dada nya.
Cup. Alex mengecup kening Risa untuk memberi kekuatan pada Risa.
"Gak pa-pa Ra,kita masih bisa coba lagi kan. Selama aku dan kamu masih sehat,pinggang sama dengkul juga masih kuat,kita gak bole nyerah. Oke. Jangan sedih lagi yah." Alex mencoba memberi lelucon pada Risa untuk membuat Risa tertawa.
Risa tersenyum tipis mendengar lelucon Alex. Kemudian ia menganggukkan kepalanya tanda kalau ia menyetujui perkataan suaminya.
"Ya udah kamu istirahat aja sekarang. Jangan pikirin yang macem-macem." Alex menggiring Risa ke tempat tidur.
Setelah Risa naik ke tempat tidur,Alex berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan benda kramatnya dari sisa percintaannya dengan Risa.
Melihat Alex yang berjalan ke arah kamar mandi,Risa tersenyum,ia tak sabar mendengar jeritan histeris sang suami saat melihat hasil tespack yang sengaja Risa tinggalkan disana,yah..itu pun kalau Alex melihatnya.
Saat sudah di dalam kamar mandi,mata Alex terpaku pada alat tespack yang masih berada dalam wadah air seni Risa. Walaupun Risa mengatakan hasilnya masih satu garis,tapi karena rasa penasaran dan ingin melihat langsung hasilnya,Alex pun mengambil alat itu.
Mata Alex membelalak melihat dua garis merah yang di tunjukkan dari tespack itu.
"Clara...!!! Clarisa!!!" Alex berteriak sambil berlari keluar dari dalam kamar mandi.
Mendengar Alex berteriak,Risa langsung mendudukkan dirinya di atas ranjang. Dan setelah melihat Alex keluar dari kamar mandi,Risa langsung memberikan senyum pada sang suami.
"Ra...ini.." Alex tak sanggup melanjutkan kata-katanya,ia masih sangat shock dengan dua garis merah yang ia lihat,hal yang sangat ia dan Risa nantikan.
Risa menganggukkan kepalanya dan turun dari tempat tidur. Ia berjalan mendekati Alex yang masih berdiri di depan tempat tidur mereka. Risa langsung memeluk suaminya yang masih mematung di tempatnya.
"Aku hamil darl. Kita akan jadi orangtua." Kata Risa diiringi tangis bahagia.
Bukan hanya Risa yang menangis,Alex yang tak sanggup berkata-kata hanya sanggup mengeluarkan air mata bahagianya.
__ADS_1
Bersambung...