
"Bukan,aku mau kamu konsultasi untuk mencegah kehamilan. Karena aku bosan kalau harus buang di luar terus." Kata Bagas santai.
Kata-kata Bagas berhasil menggoreskan sedikit luka di hati Risa. Seribu satu pertanyaan muncul di benak Risa.
"Kalau mas Bagas mau,mas Bagas bisa kok buang di dalam. Aku percaya kok sama mas Bagas kalau mas Bagas pasti tanggung jawab kalau sampai aku hamil."
Bagas menghela nafasnya. Risa ini terlalu polos atau terlalu bodoh. Tapi kalau di bilang bodoh tidak mungkin,karena dari ijasah SMU Risa yang Bagas lihat,Risa termasuk murid pandai karena selalu masuk peringkat lima besar. Begitulah batin Bagas menilai Risa.
"Bukan masalah hamil atau masalah tanggung jawab Ris,tapi ini masalah kesiapan. Kalau bertanggung jawab sebagai seorang suami,aku udah siap lahir batin. Tapi kalau bertanggung jawab sebagai seorang ayah,aku belum siap. Kamu kan tau,aku anak tunggal,jadi butuh kesiapan mental buat aku kalau aku punya anak. Kamu paham kan??" Jawab Bagas berbohong memberi alasan.
Risa bernafas lega dengan alasan Bagas.
"Oh..begitu. Ya udah kalau memang mas maunya begitu. Ya udah kita mampir ke dokter kandungan dulu kalau gitu." Kata Risa menyetujui usul Bagas agar Risa berkonsultasi untuk mencegah kehamilan.
Begitu sampai di tempat dokter kandungan,dokter menyarankan Risa memakai alat kontrasepsi yang di masukkan ke dalam rahim. Namun sayang,karena Risa tidak sedang datang bulan pada saat itu,jadi alat kontrasepsi itu tidak bisa di pasang pada hari itu. Kalau mengikuti jadwal datang bulan Risa,kira-kira dua minggu lagi baru Risa akan datang bulan. Jadi dokter menyarankan agar Risa dan Bagas untuk datang kembali ke tempat prakteknya saat haid Risa sudah hampir selesai.
Mereka pun pulang ke apartemen. Sampainya di gedung apartemen,Bagas hanya mengantar Risa sampai depan pintu lobi,kemudian Bagas melanjutkan ke lapangan golf milik keluarganya.
⭐⭐⭐⭐⭐
Tak terasa waktu sudah berjalan dua minggu. Dan minggu lalu,sesuai permintaan papa Cakra,Bagas melamar Sheilla di kediaman tuan Anderson. Hari pernikahan Bagas dan Sheilla pun sudah di tentukan pada akhir bulan depan. Berarti masih ada lima minggu untuk mempersiapkan pernikahan Bagas dan Sheilla.
Pernikahan Bagas dan Sheilla akan di gelar tertutup. Karena Sheilla yang masih terikat kontrak dengan agensi yang berada di Paris. Dan itu sangat menguntungkan Bagas,karena kalau sampai pesta pernikahan mereka di gelar secara besar-besaran,otomatis akan ada media yang meliput,dan berita pernikahan Bagas dan Sheilla akan di ketahui Risa.
Hari ini Risa pergi ke dokter kandungan tanpa di temani Bagas,karena Bagas sibuk mempersiapkan pernikahannya dengan Sheilla. Bagas hanya mengirimkan pesan pada Risa agar tidak lupa memasang alat kontrasepsi hari ini.
"Ibu Clarisa Nadiva." Panggil perawat di depan pintu ruangan dokter.
Risa pun bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu.
"Silahkan masuk bu."
__ADS_1
Risa masuk ke dalam ruangan dokter.
"Siang ibu Clarisa." Sapa sang dokter.
"Siang juga dok."
"Silahkan duduk."
Risa duduk di kursi di depan meja kerja sang dokter. Dokter pun membaca singkat kertas yang di berikan perawat untuk melihat apa tujuan Risa datang ke tempat prakteknya,karena sang dokter tidak mengingat satu persatu pasien yang datang ke tempatnya.
"Ibu Risa yang waktu itu datang bersama suaminya untuk konsultasi menunda kehamilan yah?" Tanya sang dokter. Karena waktu Bagas dan Risa datang pertama kali,mereka memang mengaku sebagai suami-istri.
"Iya dok."
"Mana suaminya?"
"Suami saya sedang dinas ke luar kota dok." Memang Bagas mengatakan pada Risa kalau ia sedang berada di kota B untuk mengecek lapangan golf milik keluarganya disana.
"Ya sudah bu,ayo kita pasang alatnya." Dokter pun berjalan ke ranjang yang sudah di persiapkan. Risa pun mengikuti langkah sang dokter. Kemudian,perawat dan bidan yang ada di ruangan itu mempersiapkan alat-alatnya. Sang dokter hanya mengawasi,karena pemakaian alat kb di lakukan oleh bidan.
"Tarik nafas yah bu,relaks aja biar gak sakit." Instruksi sang bidan sebelum memasukkan IUD kedalam rahim Risa.
Risa mengikuti anjuran sang bidan,ia mulai menarik nafas dan mengeluarkannya perlahan. Tak berapa lama,IUD pun sudah terpasang.
"Oke sudah selesai bu."
Risa menghela nafasnya lega. Ia pun bangkit dari ranjang dan menurunkan kakinya ke lantai. Mungkin karena belum terbiasa,Risa merasa ada yang janggal pada bagian bawahnya.
"Pertama-tama memang begitu bu,tapi lama kelamaan pasti biasa kok." Kata sang dokter yang bisa menangkap raut wajah tidak nyaman dari Risa.
Setelah alat kontrasepsi terpasang,Risa pun keluar dari dalam ruangan sang dokter. Tak lupa ia mengirimkan pesan pada Bagas kalau ia sudah memasang alat kontrasepsinya.
__ADS_1
Tiga hari kemudian,Bagas menyempatkan waktu untuk menemui Risa di rumahnya karena ia sudah sangat merindukan Risa dan sudah sangat ingin melepaskan hasratnya yang sudah seminggu lebih tidak tersalurkan.
Mobil Bagas sudah terparkir mulus di halaman rumah yang tak berpagar itu.
Tok tok tok. Bagas mengetuk pintu rumah Risa.
Risa yang sudah tau kalau Bagas akan datang,ia pun berlari dari dalam kamar menuju pintu depan.
Ceklek. Risa membuka pintunya.
Bagas pun masuk kedalam.
"Kok malam banget datangnya mas?" Tanya Risa karena Bagas datang di jam yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
"Jalanan macet." Jawab Bagas sambil mendudukkan bokongnya di sofa ruang tamu.
"Oh. Mas mau minum teh atau kopi?"
Bagas kembali berdiri dan mendekati Risa.
"Kamu udah tau apa yang aku mau,jadi gak perlu lagi bertanya Ris." Kata Bagas dengan nada sensualnya sambil melingkarkan lengannya dipinggang Risa.
"Mas..mas kan capek,aku bikinin teh dulu yah." Risa mendorong pelan tubuh Bagas.
Bagas menggeleng.
"Aku gak pernah capek untuk hal yang satu itu Ris,ayo lah kita jangan buang-buang waktu."
Melihat wajah Bagas yang sudah sangat sendu,Risa paham betul kalau sekarang Bagas sedang menahan hasratnya.
Bersambung...
__ADS_1